Berani Cerita #03 Cinta oh Cinta

"Alamak! rambutku." Susi membenahi helaian rambutnya yang mencuat kesana kemari. "Sudah berapa kali kubilang, berhentilah mengharapkan lelaki itu. Akhirnya kau sendiri yang patah hati. Sedang dia, malah enak-enakan di pelukan istrinya."

Aku terdiam.

"Ya sudahlah, aku pergi dulu." Susi keluar tergesa-gesa, karena pacarnya menggedor pintu berulang kali.

Dan sekarang, aku bersembunyi untuk menghindari tatapan mata David, ketika secara tak sengaja kami bertemu di depan kasir yang ada di sebelah. Aku mendadak salah tingkah, rindu bercampur marah, ingin rasanya aku memeluknya saat itu juga. Tapi yang terjadi, malah ucapan selamat menempuh hidup baru yang meluncur dari bibirku.

Kulihat istrinya tersenyum manis padaku. Sedangkan David, tak henti-hentinya dia menatapku. Raut wajahnya terlihat muram, hingga salah tingkah ku pun semakin menjadi-jadi. Dengan sigap, ku ambil lingerie yang tergantung dibawah tulisan diskon 50%, dan langsung masuk kesini bersama Susi.

***
Selama menunggu, kucoba lingerie yang sangat menerawang itu.

"Ran..." Tiba-tiba kepala David muncul dari balik pintu.

Astaga, pintunya tidak terkunci! Mataku mendelik. "David! ngapain kamu kesini?!"

"Aku cuma pengen ngomong. Aku minta maaf kalo banyak salah sama kamu. Hanya karena kita ternyata berbeda, kamu menghilang tanpa jejak Ran."

"Tapi..." Aku terdiam, rasa kecewa yang dalam tak bisa membuatku berkata-kata lagi.

"Aku ingin kita seperti dulu, saling menerima diri kita apa adanya." Ujar David setengah memaksa.

Tiba-tiba saja Istri David sudah berdiri dibelakang kami.

"Maafkanlah dia, aku tau kalian sudah akrab sejak kecil, kembalilah seperti kalian yang dulu." Sejenak matanya menelusuri tubuhku, senyumnya terlihat miris namun dia tetap meraih tanganku. Aku sempat bingung dengan pernyataannya, tapi sekilas kulihat bayangan diriku yang terpantul di dalam cermin.

Lingerie hitam seksi itu masih melekat di tubuhku, ketika David memelukku erat agar mau memaafkannya. "Entahlah, saat ini aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa dulu." Jawabku sambil berusaha menutupi pakaian yang sedang kukenakan.

"Baiklah, tidak usah terburu-buru.. Aku selalu menunggumu untuk memaafkanku."

Akhirnya mereka pergi, meninggalkan kebimbangan dalam hatiku. Ah, sebenarnya aku ingin langsung mengatakan kepada David saat itu juga. Bahwa aku bisa memaafkannya, dan akan kucoba lagi menjalin persahabatan seperti dulu.

Maka kuputuskan untuk menyusulnya. Buru-buru kukenakan baju dan celana, lalu keluar untuk meletakkan lingerie itu ke tempatnya semula.

Tanpa sengaja, aku menabrak salah seorang Pramuniaga yang sedang berdiri di depan pintu. Entah kenapa wajahnya yang sayu itu tak bisa membuatku berhenti menatapnya.

"Randi. Ini Randi kan?"

"Iya, siapa ya?"



Note : 384 Kata

0 comments