#8 Minggu Ngeblog: Perempuan-perempuan perkasa

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.



~oOo~


Perempuan inspiratif adalah perempuan yang mampu membangkitkan semangat. Mampu menebarkan aura positif dan dapat memotivasi orang lain dalam mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk melakukan yang terbaik, dengan memberi keteladanan bagi orang-orang yang berada disekitarnya. Tentu saja keteladanan mereka itu terlihat jelas dalam aktifitas kehidupannya sehari-hari.


Perempuan inspiratif itu bukan hanya berasal dari perempuan yang hidupnya penuh dengan kemewahan, yang berpangkat tinggi atau yang memiliki karier dengan segala aktifitas sosialnya. Perempuan inspiratif bisa datang dari sosok yang sederhana, meski berekonomi lemah tapi memiliki mental dan semangat yang luar biasa. Mampu menjalani kehidupan dengan ikhlas, optimis, bekerja keras, tidak mengeluh dan tidak bergantung kepada orang lain.


Wanita inspiratif pertama dalam hidupku tentu saja adalah seorang Ibu. Dengannya, saya bisa belajar mengenal dunia untuk pertama kalinya. Tapi selain beliau, ada dua orang lagi yang menjadi perempuan inspiratifku di masa kecil, yaitu Shin Tanokura atau Oshin, nama tokoh utama dalam serial drama Jepang yang juga berjudul Oshin. Siapa yang tidak tau dengan perempuan yang satu itu. Tokoh dari serial drama yang dulu pernah di putar di TVRI dan ceritanya pernah saya baca dari novel di akhir tahun 80-an, ketika saya baru masuk Sekolah Dasar. Walaupun Oshin sendiri hanya tokoh dalam cerita, tapi Oshin merupakan karakter dan cerita yang diambil dari kisah nyata Kazuo Wada, seorang wanita pebisnis pemilik sebuah jaringan Supermarket, Yaohan. Untuk seorang wanita yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup yang penuh tantangan dan mengangkat harkat wanita dimasanya, Kazuo Wada telah menginspirasi banyak perempuan di 59 negara lainnya terutama Asia.



Oshin kecil yang terlahir dari keluarga miskin harus bekerja menjadi pembantu dan pengasuh anak. Dengan bayaran sekarung beras yang hanya didapatnya setahun sekali, Oshin rela melakukannya demi membantu keluarganya. Kasih sayangnya pada keluarga serta kelembutan hatinya, membuat Oshin sama sekali tidak berniat untuk membalas kepada orang-orang yang telah mendzoliminya. Saya yang saat itu masih anak-anak begitu kagum ketika melihatnya sedang mengasuh, tapi dia masih bertekad untuk belajar. Hingga majikannya tersentuh, dan memberinya ijin untuk belajar sambil mengasuh di sekolah.


Karakternya yang berdisiplin tinggi membuatnya di sukai banyak orang. Hingga membuat majikan barunya mendidik Oshin dengan tata krama sama seperti bangsawan jepang, meski dia berasal dari kalangan bawah. Semangat hidup serta keinginannya untuk belajar tak pernah pudar dan tak lekang oleh himpitan derita, semuanya dilakukan dengan sepenuh hati.


Oshin juga mengajarkan bagaimana kita peduli dan berempati, karakternya membuat kita bercermin dan memahami orang yang lebih kesusahan. Dia mampu menolak uang pemberian ibunya, karena dia tau dan dapat merasakan pedihnya kemiskinan dan kesakitan yang diderita ibu dan neneknya. Ia tak mau menyusahkan orangtuanya. Tekadnya kuat dan mandiri meski usianya masih 7 tahun. Yah, bahkan anak sekecil itu selalu berupaya mengenali pribadi orang lain dan memiliki keinginan untuk membantu orang yang sedang dalam kesusahan meskipun dirinya sendiri mengalami hal yang sama. Oshin begitu tegar dalam menghadapi lika liku cobaan hidup dan pantang menyerah dalam meraih cita-citanya. Hingga akhirnya, dia sukses memiliki beberapa cabang Supermarket di Jepang.


Sejak saat itu saya sering berkaca. Kondisi keluarga yang tidak sama dengan orang lain serta kemiskinan yang pernah melanda keluarga kami, bukanlah suatu penghalang untuk mewujudkan cita-cita dan keinginan asalkan kita tetap tekun, berusaha dan bersabar lalu tawakal. Saya bersyukur dan tidak mau mengeluh karena merasa masih memiliki orang tua yang sehat dan masih mempunyai tempat untuk berteduh. Walaupun iuran sekolah selalu menunggak dan sering tidak bisa ikut ujian, tapi kami masih bisa bersekolah dan bermain seperti anak-anak lainnya. Meskipun makan kadang hanya sekali sehari, tapi rasanya tidak akan sebanding jika harus memakan bubur nasi encer atau nasi lobak (makanan orang miskin di Jepang) yang sebenarnya bukan nasi dan itupun belum tentu ada setiap hari.


~oOo~


Sejak kelas 2 SD, saya sempat belajar mengaji dengan seorang Ustadzah di masjid dekat rumah, namanya Ustadzah Yerneni. Beliau adalah janda yang di tinggal mati suaminya, tapi kasih sayang dan kerja keras beliau tak pernah surut di makan waktu. Melalui teknik pendekatan kepada setiap anak, beliau mampu menularkan semangat kepada murid-muridnya, hingga membuat kami sangat mengaguminya.


Ketika itu beliau masih memiliki anak batita, jadi saat beliau mengajar, anak-anaknya selalu diajak. Kadang beliau meminta waktu sebentar untuk menyusui. Bayangkan bagaimana keadaan kelasnya, biasanya pasti ribut ya. Tapi justru yang terjadi malah sebaliknya, kami duduk dengan tertib dan membaca pelajaran dalam hati. Karena beliau mengajar dengan lemah lembut, perhatian dan kadang suka memanjakan anak-anak didiknya hingga membuat kami menjadi lebih patuh. Beliau tidak pernah menghukum atau menegur dengan nada tinggi apalagi dengan kata-kata kasar, malah sebaliknya semakin lembut dan semakin perhatian dengan keadaan dan kekurangan kami. Maka, hati anak kecil mana yang tidak luluh diperlakukan seperti itu..


Beliau juga menyuguhi kami dengan makanan kecil seperti rempeyek, kue semprong atau kacang goreng.  Karena beliau harus mencari nafkah untuk anak-anaknya, maka makanan yang beliau suguhkan itu tidak gratis tapi kami semua dengan senang hati membelinya. Selain mengajar cara membaca alqur'an dan tajwid, beliau juga mengajar teknik melagukan bacaan alqur'an dan musik rebana di berbagai tempat, kadang-kadang beliau juga mengajarkan kami menyanyikan lagu qasidah. Demi agama dan anak, beliau lakukan semua meskipun kadang tidak di bayar. Beliau hanya berharap semua yang dilakukannya, bisa menjadi tabungan amalnya di akhirat kelak.


Pengabdian dan keteladanan mereka benar-benar sangat membekas di benak saya hingga sekarang. Dan semoga saja, saya bisa mencontoh dan meneladani perjuangan dan kerja kerasnya tapi tetap memiliki kelembutan hati yang luar biasa seperti perempuan-perempuan perkasa ini, insya Allah..


~oOo~


Info : Wikipedia dan Google Search

0 comments