Musuh yang Elok

Setelah puas memilih dan memilah artikel-artikel yang ada di blog mbak Evi Indrawanto, akhirnya mataku tertuju pada beberapa foto dan tulisan yang berjudul "Burung Pipit di bawah hujan."


 Burung Pipit di Bawah Hujan"Suatu sore di Pasar Pelelangan Ikan Pelabuhan Ratu, saya berdiri di balkon atas sebuah restoran seafood. Tempatnya menghadap ke laut dengan awan gelap berputar diatasnya. Kapal dan perahu pencari ikan masih bersandar. Dari lantai bawah tercium anyir ikan segar sementara laut membawa aroma hujan.

Tak lama hujan pun tiba. Begitu saja runtuh seakan langit tak sabar menumpahkan semua beban beratnya  kepada bumi.  Tirai air yang terbentuk menghilangkan camar-camar yang tadi tampak melayang-layang diatasnya. Atau mungkin mereka lari menyelamatkan diri."

Artikel inilah yang merupakan postingan terfavorit di antara postingan-postingan yang saya sukai. Karena tulisannya indah, seindah objek dan rinai hujan yang telah diabadikan menjadi sebuah potret. Hingga membuat saya merasa seolah sedang berdiri di atas balkon, melihat laut, kapal dan perahu ikan yang bersandar, serta mencium bau anyir ikan segar di tengah cuaca mendung pertanda hujan. Yah, untuk seorang yang tidak pernah sekalipun melihat laut, kerinduan saya untuk melihat laut yang sebenarnya semakin terobati, sungguh. :D

 Burung Pipit di Bawah Hujan

"Tapi sekelompok burung pipit memutuskan tetap bermain. Tak hirau pada benang-benang air yang menimpa tubuh mereka. Terbang bersilang diantara genteng, diatas kayu perahu, lalu naik keatas untuk hinggap pada utas kabel listrik. Entah apa yang dilakukan burung pemakan biji dan suka menyanyi itu disini. Cara mereka bermain persis seperti kanak-kanak yang diijinkan ibu  mandi hujan. Mengepak-ngepakan sayap, menengadah ke langit lalu hinggap untuk kemudian terbang lagi.

Dulu saya sering melihat kawanan pipit di sawah. Mereka terbang bergerombol jadi musuh petani. Pola perilaku ini lah penyebab mengapa orang-orangan sawah di buat. Tujuannya agar mereka takut dan pergi cari makan ke tempat lain. Tapi sekarang jarang melihat kecuali di Sukabumi.

Masih sering melihat burung pipit temans?"

Pernyataan diatas akhirnya membuat saya tergelitik untuk sedikit mengulas tentang keberadaaannya di bumi tercinta ini.

~oOo~

Burung yang dikenal sebagai pemakan biji-bijian ini merupakan salah satu musuh terbesar petani. Serangannya yang bertubi-tubi terhadap tanaman, terutama padi yang menguning dan siap dipanen, membuat para petani kewalahan dalam menanggulanginya. Hidupnya gemar mengelompok di habitat terbuka, seperti persawahan, padang rumput, paya, dan sabana. Sering terlihat turun ke tanah atau makan di rerumputan tinggi. Beberapa spesiesnya tercatat juga memakan alga seperti Spirogyra. Sarangnya terbuat dari rumput-rumputan yang dianyam membentuk bulatan besar serupa bola tertutup, tempat menyimpan 4-10 butir telurnya yang berwarna keputih-putihan. Beberapa spesies juga memiliki pohon tenggeran tempat burung-burung ini melewatkan malam secara bersama-sama.

Jenis unggas yang satu ini memiliki bentuk dan ukuran tubuh yang kecil namun tegap, berparuh pendek-tebal, berekor relatif pendek. Panjang tubuh umumnya sekitar 10–12 cm. Warna bulunya merupakan kombinasi antara coklat, hitam dan putih, baik itu jantan atau betina sedangkan burung-burung muda berwarna lebih pucat dan suram. Mereka memiliki penglihatan yang tajam dan bidang pandang yang luas. Jadi ketika ada bahaya dari jauh mereka sudah bisa mengubah arah terbangnya supaya tidak bertabrakan dengan bahaya tersebut. Jenis-jenis pipit sering ditangkap orang untuk dipelihara atau dimakan, sebagian di antaranya bahkan telah menjadi komoditas perdagangan yang populer.

Kalau kita perhatikan, burung-burung ini jumlahnya masih sangat banyak di pedesaan terutama di Indonesia, tapi bagaimana di negara lain yang juga memiliki populasi burung ini? Dari tulisan Mbak Evi Indrawanto, kita ketahui kebanyakan burung pipit tidak tahan dengan iklim dingin dan memerlukan habitat hangat seperti di daerah berwilayah tropis, namun ada pula sebagian kecil jenis yang beradaptasi dengan lingkungan dingin di Australia selatan. Perlu juga kita ketahui, sebenarnya ada lima belas jenis burung pipit di dunia, beberapa diantaranya adalah Pipit Raya, Pipit Rumah, Pipit Pinang, Pipit Batu, Pipit Utan dan sebagainya. Siapa yang menyangka kalau Burung yang juga bernama Finch ini adalah burung yang paling familiar dan tersebar di berbagai penjuru dunia termasuk di negara-negara yang memiliki empat musim seperti Jepang dan Eropa. Sejak tahun 1966, Populasi burung ini di Inggris justru berkurang hingga 44 juta ekor dan sejak dua dekade terakhir, populasinya turun hingga mencapai 60 persen di Jepang.

Persebaran hewan di muka bumi ini didasarkan oleh faktor fisiografik, klimatik dan biotik yang berbeda dan menyebabkan jenis hewannya juga berbeda di tiap wilayah. Namun hewan berbeda dengan tumbuhan yang bersifat pasif. Pada hewan, bila habitatnya dirasakan sudah tidak cocok, seringkali secara masal mereka mengadakan migrasi ke tempat lain dan adakalanya hewan khas di suatu wilayah juga terdapat di wilayah lainnya. Nah, di tinjau dari keberagaman Fauna di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di benua lain, ternyata kita adalah salah satu negara yang paling beruntung karena berada di daerah tropis dengan segala keindahan Flora dan Faunanya.

Di daerah pinggiran, mungkin kita masih bisa melihat kelompok burung ini bersarang dan bertelur atau mendengar kicauannya di pagi hari, tapi apakah hal itu bisa terjadi di tengah kota yang padat, sumpek, tanpa pepohonan dan di penuhi suara bising kendaraan? Para peneliti menyebutkan, bahwa hal ini erat kaitannya dengan pertumbuhan urban yang tidak terkendali dan arsitektur modern yang membuat burung tersebut kehilangan habitat alami dan tempat bersarangnya di kota, juga kelangkaan serangga yang merupakan pakan utama mereka. Ketika masih banyak rumah-rumah tradisional, burung pipit biasanya membuat sarang di sela-sela atap rumah, tapi perubahan desain rumah membuat hal itu tidak mungkin dilakukan lagi.

Dibalik segala kekurangan, pastinya kita juga tau bahwa Yang Maha Kuasa juga memberikan anugerah berupa kelebihan pada setiap mahluknya. Meski burung pipit adalah salah satu musuh terbesar petani. Tapi di tempat lain, perilakunya terlihat sangat elok di bawah rinai hujan, dan kicauannya akan selalu terdengar merdu dikala menyambut pagi..

Bukan begitu temans? :D


BANNER EVIINDRAWANTO1 First Give Away Jurnal Evi Indrawanto

Tulisan ini diikutsertakan pada First Giveaway Jurnal Evi Indrawanto 


0 comments