Si Hitam Manis, Lokal tapi Favorit Sedunia

gelas kopi

Wah, sepertinya seorang Penulis memang tidak bisa di pisahkan dari yang namanya kopi yah, meskipun ada sebagian orang yang tidak suka atau biasa-biasa saja. Namun bagi sebagian lain terutama coffee-addict, kopi sudah menjadi teman setia dikala menulis, bak doping yang sudah mencandu dan mampu membuat mata terjaga. Apalagi bagi mereka yang harus mengejar dead line dan menggarap tulisan di waktu malam hari.

Batas wajar konsumsi kafein adalah 300 mg perhari atau kurang lebih setara dengan 3 cangkir kopi. Dengan minum kopi secara bijak dan tidak berlebihan, dapat melindungi jantung dan mencegah stroke, diabetes, kanker kulit, menjaga kesehatan hati, menghilangkan sakit kepala, membakar lemak, bermanfaat untuk kecantikan, menjaga daya tahan tubuh dan menambah kinerja otak.

Namun bila diminum secara berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Terutama untuk wanita, dapat mengurangi kesuburan dan keguguran pada wanita hamil serta gangguan pada bayi saat lahir. Selain itu kita dihadapkan pada resiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan naiknya produksi asam lambung. Minum kopi panas-panas dapat mengakibatkan kanker esofagus dan kandungan kafein dalam kopi juga bisa menyebabkan osteoporosis, insomnia, mudah gugup, sakit kepala, merasa tegang dan cepat marah.

Nah sebagai seorang Penulis. Meskipun hanya seorang Penulis Blog, saya termasuk dari sekian banyak manusia yang mencintai rasa dan aroma kopi. Terutama kopi hitam yang sudah dikenal sejak jaman dahulu. Kenapa Kopi Hitam? karena wangi aromanya, mengingatkan saya dengan salah seorang sahabat masa kecil yang orang tuanya berprofesi sebagai pemilik kedai kopi. Dengannya, saya bisa sedikit-sedikit belajar dan mengerti bagaimana menakar komposisi gula, kopi dan air, serta waktu dan tata cara meminumnya. Sejak saat itu saya benar-benar menjadi seorang pecinta kopi, terutama kopi hitam lokal (plain). Lidah saya mengatakan, bahwa kopi dengan campuran mocca, susu, atau dicampur krim serta sejenisnya dari berbagai merk kopi instant, tidak jauh berbeda dengan rasa dan aroma permen. Dan menurut saya, sama sekali tidak bisa disebut kopi.

Kopi hitam bisa dinikmati kapan saja. Bersama singkong goreng yang merupakan paduan paling pas, untuk si hitam manis yang selalu tersedia di pinggir gelas. Menikmatinya tidak melulu ketika sedang menulis di depan komputer, bisa juga saat membaca, nonton TV atau bersantai di teras depan rumah untuk sekedar mencari ide baru dalam setiap tulisan.

Untuk tata cara meminumnya, kebiasaan yang satu ini sebaiknya tidak perlu ditiru. Karena saya biasa meminumnya hingga mencapai takaran liter untuk sekali minum, layaknya air putih. Tapi kebiasaan itu sudah ditinggalkan, karena memang berbahaya untuk kesehatan, walaupun sesekali masih saya lakukan dan untungnya tidak segetol dulu, sehingga masih bersisa. Dan sisanya itu berupa kopi encer tanpa gula yang bisa di tambah es atau disimpan di kulkas. Buat saya, es kopi adalah alternatif minuman menyegarkan yang paling setia mendampingi, kala menulis di musim kemarau.

Bicara tentang kopi lokal di Indonesia, yang terbersit di benak para coffee-addict pastilah kopi luwak. Konon, kopi jenis ini adalah yang terbaik di dunia. Tapi tunggu dulu, Indonesia juga punya jenis kopi sesuai daerahnya. Masing-masing punya karakteristik lewat rasa dan aroma. Diantaranya Aceh Gayo, dengan aroma memikat dan rasa asam yang tak terlalu pekat. Lalu ada kopi Lampung, kopi Bandung dengan merk paling ternama yaitu Aroma, kopi Toraja, kopi Bali, hingga kopi Papua. Nah, satu daerah di Papua yang terkenal sebagai penghasil kopi adalah Wamena. Kopi bertekstur ringan, minim ampas, harum semerbak, dan tidak asam. Tak heran kopi Wamena digemari oleh seluruh dunia.

Wamena punya daya tarik khusus sebagai penghasil kopi terbaik di dunia, Kopi Wamena, telah diekspor ke berbagai belahan dunia termasuk Amerika Serikat dan telah menjadi penyokong tetap merk kedai kopi paling ternama di dunia. Kedai kopi yang lambangnya berwarna hijau itu telah menggunakan kopi Wamena sebagai bahan baku utamanya.

GA Lisa Gopar


Referensi : Media Unik

0 comments