#8 Minggu Ngeblog: Berawal dari Hati

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.


~oOo~


Sangar, Dingin, Pendiam, dan kejam. Julukan-julukan itu pernah saya dapatkan dari siswa-siswi, di sebuah lembaga pendidikan tempat dulu saya bekerja. Kalau di ingat lagi saya pasti tertawa. Karena di saat yang sama, saya juga pernah mendapat julukan ramah, perhatian, rame, suka tertawa dan lucu dari siswa-siswi lainnya. Pendapat yang sangat bertolak belakang, tapi tak pernah membuat saya merasa menjadi manusia bermuka dua.

Terkadang kondisi memang mengharuskan saya untuk bersikap seperti itu. Walaupun mungkin hanya drama, tapi mau tidak mau saya harus beradaptasi dengan situasi. Contohnya saja ketika sedang mengawas ujian atau tryout, para siswa-siswi mungkin tak pernah tau bagaimana beratnya harus memasang muka sangar, kejam, sok disiplin, diatas panggung dengan mata yang harus standby berjam-jam, lalu berkeliling dalam ruangan sebesar auditorium. Hanya untuk menakuti para peserta ujian agar segan untuk mencontek dan tidak melakukan hal-hal curang lainnya. Bahkan untuk tersenyum atau tertawa saja, saya lebih memilih untuk menghadap dinding atau keluar jendela. Mereka juga tak akan pernah tau bagaimana leganya, ketika proses pekerjaan mengawas ujian itu berakhir, kecuali bagi siswa-siswi yang memahami apa sebenarnya yang saya lakukan. Bukan saja otot muka yang mengendur, tapi seluruh otot syaraf tubuh seolah lepas dari ketegangan. Yah, semuanya demi profesionalitas, demi pekerjaan yang hanya menghasilkan beberapa lembar rupiah.

Ditinjau dari profesi pekerjaan, mungkin kita adalah orang yang disiplin dan penuh pengabdian terhadap pekerjaan yang kita lakoni. Tapi di sisi lain, saya hanyalah anak kemaren sore yang baru saja lulus sekolah. Yang ingin sekali belajar di bangku kuliah, bergaul, dan menikmati hidup layaknya teman-teman yang lain. Saya yang dulunya terbiasa menghadapi buku dan kertas ujian, mau tidak mau harus siap menghadapi kehidupan yang menantang di lapangan, berada di bawah tekanan dan kerja keras tak kenal waktu. Menghadapi orang banyak dengan segala tingkah polanya, terutama anak-anak remaja. Berusaha bersikap dewasa dan banyak mengalah, meskipun orang-orang yang dihadapi berusia lebih muda 1 atau 2 tahun saja atau bahkan jauh lebih tua.

Tapi dalam pergaulan sehari-hari, sama sekali saya tidak mau menerapkan sikap sangar, dingin, pendiam dan kejam. Walaupun peran itu terkadang terpaksa saya lakoni, kepada mereka yang terkadang mencela dan tidak mengerti untuk menghargai apa yang sudah saya lakukan atau karena untuk menutupi rasa takut tersakiti. Yah, sikap-sikap itu bisa menjadi senjata yang ampuh jika orang lain mulai bertindak semena-mena. Karena saya juga manusia yang memiliki segala kelebihan dan kekurangan, bukan malaikat ataupun iblis. Bukan juga manusia berhati batu atau manusia berhati emas. Hanya seorang manusia yang diciptakan dari segumpal tanah dan memiliki segumpal daging yang bernama hati. Manusia yang memiliki akal dan pikiran, yang masih terus belajar melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan.

Kita tau sikap ini tidak khusus secara personal, kita sebagai manusia pun jika terlalu sering disakiti, suatu saat pasti akan melawan. Tergantung dari berapa lama kesabaran seseorang dan cara mengatasinya. Apakah keburukan dibalas dengan keburukan ataukah justru keburukan dibalas dengan kebaikan, tinggal kita yang bisa memilihnya. Jika kita memilih untuk menanam kebaikan lalu merawatnya, menyirami dan memberinya pupuk, meski di tanam di tempat yang gersang dan kering, kebaikan itu akan tumbuh dan menghasilkan buah yang manis. Tapi jika kita memilih menanam keburukan maka hasil yang kita dapat juga adalah keburukan.

Yah, apapun yang kita lakukan semuanya bersumber dari hati. Dimana tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, ketenangan dan kebimbangan. Yang semuanya juga tergantung dari lurus atau bengkoknya hati.

Seperti sabda Rasulullah :

“Ketahuilah, sungguh pada tubuh itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya, dan ia adalah hati” (HR.  Bukhari) 

dan juga dari Abu Hurairah r.a.

“Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya”.

~oOo~

0 comments