Bhirawa & Ghinara

"Teruntuk Kapten Bhirawa,

Jalan panjang yang kita lalui, bagiku tak sekedar persahabatan tapi entah bagimu... Aku sadar bagaimana rasanya mengenal soulmate seperti kata orang-orang, kemana-mana selalu bersama sebagaimana halnya kita berdua. Ketika kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi kita dalam mencari ilmu atau saat kita menjadikan tawa dan keceriaan itu harus ada dalam hari-hari yang kita jalani, kita seolah tak terpisahkan untuk saling bahu membahu. Statusku sebagai sobat kentalmu memang lebih kentara dibandingkan dengan jabatanku sebagai wakilmu di dalam kelas. Aku kenal sekali prinsipmu, kau akan marah jika aku mentraktirmu. Maka aku akan berpura-pura tak punya uang, agar kau tak mengacuhkanku. Ketika pulang kuliah aku akan ikut berjalan kaki beberapa kilometer, melewati guyuran hujan dan sengatan mentari hanya untuk berbincang denganmu. Mungkin aku bodoh, atau sebenarnya aku dibodohi oleh rasa yang pelan-pelan menyelinap dan menghangatkan hatiku yang dingin. Aku tak ingin rasa ini terus membuncah, tapi aku tak tau kenapa rasa ini semakin tak terkendali saat kubaca surat yang dikirim dari Ibumu, yang memintamu untuk tinggal seterusnya di kota kelahirannya, Surabaya. Atau ketika berhari-hari kau membuatku kebingungan, karena tak tergurat lagi keceriaan dari wajahmu dan kata-kata penuh semangat yang biasanya keluar dari mulutmu.

Bathinku terus bergolak di bulan-bulan terakhir sebelum keberangkatanmu. Ketika aku menunggumu pulang dari gereja setiap hari minggu, atau ketika kau selalu menungguku di luar Musholla setelah pulang kuliah. Tak tau bagaimana lagi aku harus merasa, ketika diam-diam kudapati sketsa-sketsa wajahku tergores di beberapa halaman buku Grammarmu. Atau sketsa-sketsa wajahmu yang sempat kau gores di buku catatanku. Aku hanya bisa diam. Tak sekalipun kuucapkan terima kasih ketika berkali-kali kau membantuku, walau kau rela kehujanan dan basah kuyup, hanya untuk menemaniku menyelesaikan pekerjaan ditempatku mencari sesuap nasi atau menjemputku dengan sepeda butut almarhum Ayahmu. Aku tau kau marah karena seringkali merasa tak dihargai. Tapi aku tak punya cara lain. Aku tak tau lagi bagaimana caranya menghilangkan semua rintangan, yang telah membuat hatiku remuk karena tak bisa menghadapi kenyataan bahwa kita tak selamanya bisa bersama dan untuk menjadi lebih dari sekedar sahabat. Kau tau, tak mudah bagiku untuk menjalaninya..
Ghinara"


Lagi-lagi Bhirawa terpaku. Disesapnya kopi yang hampir bercampur ampas di atas meja kerja. Lalu dihisapnya dalam-dalam rokok yang tinggal separuh. Sekelebat ingatannya kembali ke masa lalu. Bhirawa tersenyum getir. Batu nisan Ghinara telah mengoyak-ngoyak tabir kerinduan yang telah bertahun-tahun ia benamkan di sudut hatinya sejak keberangkatannya kala itu. Baginya, kertas yang ada ditangannya itu adalah surat cinta yang mampu menepis rindunya pada Ghinara dan sebagai peredam luka yang tak terobati saat meninggalkannya. Tapi Bhirawa harus memilih, kematian Ayahnya telah membuat Ibunya jatuh sakit dan Bhirawa tak sampai hati untuk mengabaikannya. 

Dipandanginya foto pernikahan anak lelaki semata wayangnya, Abimanyu. Kebahagiaan terpancar dari wajah dua insan yang telah dipertemukan nun jauh di Timor Leste. Bhirawa menatap wajah itu lekat-lekat. Dia tersenyum "Anakmu ternyata sama cantiknya denganmu Ra.."

 Senandung Cinta


Note : Di kampus saya dulu, kami menggunakan sebutan Kapten sebelum nama kepada setiap ketua kelas, terutama di Jurusan yang saya ambil. ^_^

0 comments