Raja Udang

Kalo Raja Semut atau Ratu Lebah itu biasanya yang paling gede, maka Raja Udang juga memiliki tubuh yang lebih gede dari udang-udang lainnya. Tapi walau dikata badannya gede, gede banget malah dari ukuran rata-rata udang, ternyata Raja Udang bukan udang sodara-sodara, tapi Burung. *ho ho ho..* :D. dan Si Burung juga ternyata nggak terlalu sering nyemil udang. Dia lebih suka kalo santapan utamanya adalah ikan, jangkrik, serangga, kodok, kepiting bahkan ular atau kadal.

Credit
Cantik yah Burungnya

Nih, keliatan kan gimana mahirnya menangkap mangsa. Bisa nyelem segala lagi, saya aja nggak bisa. :p
Kok tumben, nggak ada angin nggak ada hujan postingannya tentang Burung?

Nah, sebenernya ini dia yang mo diceritain. Kurang lebih sebulan yang lalu, Si Ayah secara nggak sengaja kenalan sama Si Raja Udang cantik ini di kantornya. Lah, emang Si Raja Udang ngantor juga? Nggaaak.. Lokasi Kantor Si Ayah aja yang letaknya nggak jauh dari aliran Sungai Musi, yaitu tempat dimana burung sejenis ini mencari makan. :p

Berhubung buat kenang-kenangan, akhirnya saya minta Si Raja Udang berpose dulu buat di jepret *emang bisa?*, sebelum  dilepasin ke alam bebas. Karena ternyata, setelah Si Ayah nanya-nanya ke Mbah Gugel, Burung ini makannya ikan dan nggak doyan sayur atau buah-buahan. Bukan kenapa-kenapa sih, cuma jadi males aja kalo inget rumah yang jauhnya naujubillah dari yang namanya pasar, yang belanja tiap harinya musti ke tukang sayur, dan jelas-jelas nggak pernah jual ikan-ikan kecil dari sungai. Masak burungnya mo dikasih makan ayam, kan nggak lucu, sesama unggas gitu yah. :p Karena nggak mungkin juga saya bela-belain nyetok atau nangkep jangkrik, serangga, kodok, kepiting, ular atau kadal buat ngasih makan ntuh burung tiap hari (jadi serem mikirinnya ya, hahaha...). 

Dan mengingat bahwa burung ini termasuk salah satu hewan yang dilindungi. Katanya Si Ayah, siapa yang memelihara denda sebanyak 100 juta, entah burungnya hidup atau mati (di awetkan), nah tuh pada takut kan jadi miaranya. Padahal Si Ayah udah seneng bukan main, ampe sangkar beserta asesorisnya udah dibeli segala. :p






Warna bulunya cantik, dengan sayap berwarna biru dan berpola bintik-bintik, dan juga terdapat bulu berwarna putih atau krim dipundaknya mirip dengan syal, yang juga kelihatan kontras dengan dadanya yang berwarna coklat. Paruhnya panjang, dan kelihatan nggak seimbang dengan badannya yang kecil. Kata Si Ayah burung ini memang masih kecil sih. Walaupun pas ngeliat foto yang dewasa, tetep aja nggak jauh beda bentuk bodynya. Hanya lebih membulat dengan paruhnya yang lebih panjang.

Sebenernya kita bisa ngeliat jenis makanan burung dari bentuk paruhnya, kalo kecil biasanya pemakan biji-bijian, kalo gede yah seperti burung ini, makannya ikan, serangga dan sejenisnya. Sedangkan bentuk dan ukuran tubuh atau bentuk dan jenis kakinya, menggambarkan dengan jelas jenis tempat mereka hidup atau habitatnya. Tapi mungkin karena Si Ayah khilaf, saking senengnya nemu burung berwarna biru, warna yang juga favorit kami berdua dan cantik pula, nggak pikir panjang tuh mahluk langsung aja di bawa pulang, meskipun suara burung itu cuma berbunyi "kreek..kreeek.." doang.

Bagi beberapa komunitas pecinta burung, kicauan burung yang satu ini di anggap cerdas, karena bisa menjadi master beragam burung ocehan seperti Cendet, Murai bahkan Lovebird dan lainnya. Tapi rasanya gimana yah, kalo kita biasa bangun pagi-pagi setelah mimpi indah diiringi dengan suara cuit cuitnya burung pipit, tiba-tiba berganti dengan suara krek krek. Kan nggak lucu jadinya hihihi...

0 comments