3 Jenis Kecerdasan Anak yang harus dipahami



Bongkar-bongkar lemari buku itu ternyata the most fun activity (buat saya), soalnya kalo internet lagi nggak konek, pulsa henpon kebobolan, nggak ada henpon lain (punya suami) yang bisa dibajak buat konsul sama mister gugel, maka buku is my very veeeery best friend! :D. 


Otre.. Saat ini saya sedang mencari tau dan memahami bagaimana agar seorang anak belajar dengan efektif dan bisa mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, meskipun memiliki jenis kecerdasan yang lamban atau sedang-sedang saja.


Tadi pagi akhirnya saya kembali membuka halaman demi halaman buku "Children are from Heaven" yang pernah terbengkalai selama bertahun-tahun. Buku tersebut ditulis oleh John Gray, Ph. d. (Pasti udah pada tau yah beliau siapa. Nggak tau? beliau yang nulis Mars & Venus itu loh... :p) Nah, di buku itu saya menemukan 3 jenis kecerdasan anak. Walaupun kelihatan simpel tapi menurut saya hal itu penting untuk dipahami. Karena itu saya sharing disini biar nggak lupa lagi dan sebagai reminder yang praktis, terutama untuk di konsumsi sendiri (Efek dari males baca ulang buku-buku tebel). :D atau.., jika ada yang membutuhkan? Dipersilahkeen....


Tapi sebelumnya, saya pengen curcol dulu sedikit :p. Buku itu saya beli waktu saya masih kuliah (belum merit), karena saya punya banyak adik (6 orang dibawah) 2 diantaranya memiliki tingkah laku yang naujubillah dan butuh ekstra pemahaman untuk memakluminya. Lagipula saya juga pasti nyadar dong suatu saat bakal punya anak, jadi yah buku ini bisa dipake sampe kapanpun, dan bisa menjadi warisan tak ternilai buat cucu dan cicit kelak :D. 



Setelah mengintip ulang isi buku ini, saya menyadari bahwa sejak lahir hingga hari ini, saya memiliki kecerdasan seorang Pelompat, Pejalan bahkan Pelari untuk bidang yang berbeda-beda. Mau tau apa itu kecerdasan Pelari, Pejalan dan Pelompat? Saya kutip sedikit isinya yah, check this out...


***

Macam-macam kecerdasan pada manusia itu berbeda-beda. Jika Orangtua bisa memahaminya maka itu akan sangat membantu, karena menghargai bagaimana anak belajar secara berbeda. Ada anak-anak yang berbakat dengan satu atau dua kecerdasan. Ada yang belajar secara bertahap dan ada pula yang lambat perkembangannya. 

Anak-anak yang menunjukkan ketiga cara belajar seperti diatas bisa diibaratkan sebagai Pelari, Pejalan dan Pelompat. Jika kita ingin mempelajarinya secara lebih detail, sebaiknya kita gunakan contoh "seperti orang yang sedang belajar naik sepeda".


Pelari

Adalah seorang anak yang begitu saja naik sepeda dan meluncur pergi setelah melihat anak lain main sepeda. Anak-anak seperti ini belajar cepat, tapi mereka perlu tantangan agar tetap tenang dan terlibat. Pada umumnya mereka berbakat pada bidang yang mereka pelajari. Kita sebagai Orangtua harus berhati-hati dan menjaga agar si Anak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan lain yang tidak mudah bagi mereka.

Pejalan
Adalah seorang anak yang memerlukan waktu beberapa minggu untuk belajar mengendarai sepeda. Anak-anak ini menanggapi petunjuk dengan baik dan pada setiap usaha mereka maju sedikit. Mungkin mereka mulai dengan sepeda roda tiga, tapi dalam beberapa minggu mereka sudah bisa naik sepeda roda dua. Bagi para Orangtua, anak-anak seperti ini disebut "anak impian." Mereka selalu belajar sedikit lebih, bertambah pintar, dan dengan jelas memperlihatkan hasil jerih payah Orangtua yang membantu anak-anaknya, karena semakin pandai. Anak-anak ini begitu mudah diatur sehingga mereka sering tidak mendapatkan perhatian dan dukungan yang penting bagi mereka sendiri.

Pelompat
Adalah seorang anak yang memerlukan waktu untuk belajar naik sepeda sebelum mereka bisa naik sepeda sendiri. Anak-anak seperti ini paling menentang dan paling sulit dihadapi bagi Orangtua. Mereka mendengarkan intruksi tapi tidak maju-maju. Mereka tidak bertambah baik dan tidak memperlihatkan tanda bahwa mereka sudah belajar, sehingga Orangtua tidak tahu apakah jerih payah yang mereka lakukan telah membantu si anak. Kalau Orangtua berkeras, dua tahun kemudian si anak tiba-tiba sudah bisa naik ke atas sadel dan meluncur dengan sepedanya. Semua intruksi Orangtua diterima, tetapi Orangtua tidak melihat petunjuk adanya kemajuan. Dan kemudian, entah bagaimana tiba-tiba si anak sudah bisa naik dan meluncur dengan sepedanya, seolah-olah mereka sudah biasa mengendarainya selama dua tahun. Anak seperti ini seringkali tidak mendapatkan perhatian dan waktu yang mereka butuhkan untuk melakukan lompatannya, karena tidak mendapatkan dorongan semangat dan Orangtua juga tidak berkeras mendukungnya, mereka berhenti di jalan dan tidak pernah mewujudkan potensi terpendam dalam dirinya.


Tidak ada anak yang sempurna. Selain unik dan berbeda, setiap anak dilahirkan ke dunia ini dengan seberkas masalah dan persoalannya sendiri. Seorang anak mungkin lambat dalam belajar bersepeda, tapi belajar cepat bila menyangkut kemahiran sosial. Anak seperti ini adalah anak yang paling menyenangkan dan paling rajin membantu dalam hal bersosialisasi, tapi justru ketika naik sepeda seketika dia akan bersikap menentang dan tidak kooperatif.


Hanya karena seorang anak adalah pelompat dan kelihatan lambat belajarnya di bidang tertentu, tidak berarti bahwa anak itu berada di tingkat rendah pada kecerdasan tersebut. Kadang-kadang justru dalam bidang dimana anak paling menentang itulah ia paling kuat. Hanya karena seorang anak adalah pelari atau pejalan dalam bidang kecerdasan tertentu tidaklah berarti bahwa anak itu akan menonjol atau mempunyai potensi sangat besar untuk tumbuh dalam bidang itu.


"Bagi saya sendiri, saya tidak pernah pandai menulis atau berbicara di tempat umum, dan saya menolak untuk menulis dan berbicara dalam suatu kelompok. Keduanya adalah bakat yang baru muncul kemudian dalam hidup saya" <= curcolnya sang penulis buku, dan ternyata kita sama yah, Mister John (menyamaratakan saenak e dewe..) hehehe...


Membanding-bandingkan Anak
Kalau seorang anak adalah pejalan di kebanyakan bidang kecerdasan, segala sesuatu secara relatif akan lebih mudah dan lancar. Kalau seorang anak adalah pelompat di beberapa bidang dan lebih berkeras menentang, mungkin secara keliru Orangtua akan menganggap bahwa ada yang tidak beres dengan anak ini.


Pelompat tidak pernah tampak belajar atau mendengarkan. Orangtua mengajarkan sopan santun dan mereka selalu lupa. Orangtua mengajar mereka berbicara dengan jelas dan mereka tidak berbicara. Diajarkan mengikat tali sepatu, mereka tidak bisa. Orangtua menjelaskan pekerjaan rumah dan mereka tidak menangkap maksudnya.


Kalau Orangtua tidak menggunakan kemahiran mengasuh secara positif dan hanya membanding-bandingkan anak, maka anak seperti ini akan mendapat hukuman berulang-ulang dan itu membuat mereka semakin sulit mengembangkan kepercayaan diri. Mereka hanya akan berkembang, kalau mereka mendapatkan pesan yang konsisten bahwa mereka cukup baik dengan apa yang mereka lakukan sekarang. Kalau Orangtua mengerti bagaimana anak-anak yang sehat dan penuh kasih itu dapat berbeda, lebih mudah bagi Orangtua bersikap menerima dan memberi dukungan.

0 comments