Salah Satu Pembunuh Rasa Sakit para Istri

Apakah Anda sering menjadikan makanan sebagai pelampiasan rasa sakit hati?
Credit
Sebuah tulisan dari Mister John Gray yang menarik untuk dipahami dan dijadikan catatan penting terutama dalam sepak terjang dunia perdietan dan psikologi, bagi emak-emak dan juga suaminya :p. 

Hal seperti ini tidak jarang terjadi pada emak-emak di sekitar saya (walau tidak semua tapi ngenes aja ngeliatnya) termasuk saya juga nggak yah??? *garuk2 jidat* :p. 

Okeh.. berikut kutipannya... (kutipannya banyak :p)
Cukup umum, segera setelah seorang wanita menikah seringkali berat badannya mulai bertambah lebih daripada kelebihan berat alamiah yang diakibatkan oleh usia dan melahirkan anak.
Perubahan itu berlangsung bukan karena hubungan tersebut menghadapi berbagai masalah, melainkan pernikahan itu sendiri membuat seorang wanita rileks dan merasa lebih aman. Sewaktu sisi kewanitaannya mulai berkembang, sisi itu berkata “Sekarang setelah saya dicintai, akhirnya saya mampu keluar dan diberi makan,  didukung, dan didengarkan.” Kemudian secara tidak sengaja dia mulai mengalami emosi-emosi dan dorongan-dorongan yang telah ditekan oleh kehidupan yang mandiri. Kecenderungan alamiahnya untuk berbicara tentang perasaan dan kesulitannya muncul dengan tiba-tiba. Perasaan-perasaan asing dari masa lalunya ini membuat dirinya merasa bahwa dia sangat miskin, emosional, tidak logis, cengeng, bahkan lemah. Banyak wanita merasa malu  terhadap perasaan-perasaan ini.
Dalam kebingungan emosional itu, hal terakhir yang diinginkan oleh seorang wanita adalah memberitahukan penyebabnya kepada suaminya. Seringkali, dia bahkan merasa tidak enak untuk membagikan perasaan-perasaan baru ini dengan wanita lain. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena dia tidak pernah melihat ibunya berhasil membagikan perasaan atau masalah kepada ayahnya sehingga memperoleh rasa hormat dan dukungan. Untuk menjauhi konflik yang tidak perlu atau mengecewakan suaminya, dia memilih untuk menekan kebutuhan untuk membagikan perasaan-perasaan yang berasal dari sisi kewanitaannya itu dan sebagai akibatnya, merasakan suatu kebutuhan baru untuk makan lebih banyak.
Makan merupakan sebuah pengganti yang mudah untuk cinta. Semakin dia banyak makan, untuk sementara waktu dia dapat menekan perasaan-perasaan tidak aman yang menyakitkan yang muncul dari sisi kewanitaannya. Sampai dia menemukan suatu cara untuk memuaskan dan secara langsung memupuk sisi kewanitaannya secara teratur, dia akan terus menggunakan makanan sebagai pembunuh rasa sakit. Dengan mematirasakan perasaan-perasaan itu, kemampuannya untuk bercinta di teduhkan, dan menemukan kelegaan. Kecenderungan ini disebut sebuah “Penggantian kebutuhan”. Jika dia tidak dapat memperoleh apa yang betul-betul dibutuhkannya, kebutuhan nyata itu digantikan oleh kebutuhan lain yang tampaknya lebih gampang diperoleh, seperti makanan. Sebelum kehausan akan cinta itu dipuaskan, dia akan terus merasa lapar. Kadang-kadang dia bahkan mampu menipu dirinya sendiri untuk sementara waktu dengan keyakinan bahwa dia cukup bahagia dan tidak perlu berbicara atau berbagi rasa dalam suatu hubungan untuk membangun kebahagiaan suatu pasangan.
Kemudahan, kenyamanan, kelancaran, rasa aman, riang gembira, rekreasi, kenikmatan dan keindahan, semuanya memupuk sisi kewanitaan tetapi diet tidak. Program diet dengan memakan lebih banyak makanan berkadar lemak rendah dan berolahraga jelas merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi berat badan. Namun pemecahan paling efektif adalah hubungan yang lebih membangun kebahagiaan dan gaya hidup yang lebih santai dan tidak banyak beban
Untuk mendukung seorang wanita, pria harus memahami bahwa, jauh didalam lubuk hati, wanita ingin beristirahat, merasa lega dan menyerahkan kepada seseorang yang dipercayainya untuk mengasuh dan mendukungnya. Inilah kebutuhan batiniah sejati sisi kewanitaan.

Note : tulisan ini pernah saya posting beberapa tahun lalu dan yang komen kok masih singel semua yah? nggak ada dari bapak-bapak atau emak-emaknya :D

0 comments