Prompt # 7 The Postcard

Lelaki itu datang. Walau hanya sekilas pandang, mataku tak bisa lepas meliriknya. Dadaku dag dig dug, tapi otakku masih harus konsisten dengan pekerjaanku. 


Tina mencolekku “Mey, cowok ganteng yang waktu itu tuh.” Lelaki itu melihat nomor antriannnya dan berjalan ke arahku. Tapi sepertinya persaingan kami untuk mendapatkan pacar paling tampan, memang tidak akan pernah berakhir. Tina langsung pasang badan dan mempersilahkan lelaki itu untuk ke counter nya.


“Yah sudah ambil saja, masih banyak lelaki lain kok,” bathinku.


“Hei, kerja yang bener,” tegur manajer kami.


Lelaki itu berpindah arah dan menyapaku. “Permisi Nona.” Senyumnya manis sekali. Seketika, hatiku mendadak tak karuan. 


“Anda mengirim kartu pos lagi hari ini,” komentarku. “Wah, cantik sekali.” “Apa ada yang lain?” lanjutku.


“Tidak,” jawabnya setengah grogi.


“Semuanya 220 won,” ucapku lagi. Lalu dia membayar dan langsung pergi tanpa berkata apa-apa.



“Matamu, Rambutmu, Senyummu dan Seragammu

mempesona mataku”

Dadaku terhenyak, begitu menyadari kepada siapa alamat itu ditujukan. “Kok sama dengan alamat kontrakannya Daniel yah, tapi kenapa dia tidak mencantumkan nama dan alamat pengirim?” bisikku.

“Jangan-jangan lelaki itu.. .” Aku memutar otak, "Ah, tidak mungkin sahabat karibku yang ganteng itu mau,” pikirku. “Tapi entahlah, beberapa kali aku sempat memergoki mereka bertemu pandang dan saling memberi isyarat.” Pikiranku jadi ragu bercampur cemburu.

***


“Mey, sendirian aja pulangnya ?” Daniel menghampiriku.


“Eh, iya,” jawabku setengah kaget.


“Mey, kita duduk di ruang tunggu sebentar yuk, ada yang mau aku ceritakan.”



“Cerita apa?” jawabku penasaran. “Okey, baiklah.” lanjutku menyudahi.



Daniel menyandarkan punggungnya di kursi, lalu memangku helmnya. “Hmm.. begini Mey.”



“Apa Dan?” 


“Besok aku akan menemui wanita itu.”


“Wanita yang mana?” 



“Wanita yang selalu mengirimiku kartu pos, lewat kakaknya itu Mey.”


“Oh, ternyataa.. .” Hatiku lega. “Untuk apa?”

“Untuk memintanya berhenti mengirimiku Kartu Pos lagi.” 

“Kenapa Dan?”


“Ng... Aku tidak mau kamu melihat kartu pos - kartu pos itu lagi.”


“Loh!” Aku kaget. “Maaf klo begitu, aku tidak akan melakukannya lagi!” Aku langsung bangkit.


“Aku mau kamu, yang mengirim kartu pos - kartu pos seperti itu. Untukku Mey.”


0 comments