Roda-roda, berputarlah


Kalau ingin jadi Penulis hebat, katanya harus menulis minimal 60 menit sehari atau kalau tidak sehari satu halaman. Demi mengejar yang namanya 10 ribu jam terbang. Yah tentu saja, ala bisa karena biasa karena hanya dibutuhkan 1 % persen bakat tapi 99% nya adalah usaha dan kerja keras. Jadi akankah saya bisa mencapai semua target ini ??

Saya juga ingin menjadi seorang Penulis. Meskipun pada awalnya malah berbuntut untuk mencari penghasilan tambahan. Yah, sambil menyelam minum air. Tapi untuk beberapa lama, saya menyadari ada kesenangan yang tidak bisa saya temukan diantara sekian banyak kegiatan dalam hidup selain menulis. Ada rasa puas jika pada akhirnya saya mampu menyelesaikan sebuah cerita meski hanya 300 kata seperti flashfiction. 

Seingat saya, dulu waktu kecil saya kurang suka pelajaran Bahasa Indonesia. Bukan bahasanya yah, tapi susunan kalimat dari Subjek, Predikat, Objek, hingga keterangan tempat de el el. Entah kenapa selalu membuat saya galau jika posisinya di tukar-tukar (otak langsung lemot) hahaha…  mirip ketika saya harus mempelajari rumus-rumus matematika dan fisika waktu SMP. Tidak seperti Bahasa Inggris yang setiap kata dan translatenya bisa saya ingat diluar kepala setelah di baca berulang-ulang, karena jaman dulu tidak ada hiburan lain selain membaca kamus. Film anak-anak bisa dihitung pake jari. Itupun paling hanya seminggu sekali. Pengen baca novel atau komik, nggak punya duit. Pinjem di perpus sekolah, jadwalnya cuma kebagian sebulan sekali dengan jatah pinjaman yang juga habis hanya untuk buku pelajaran karena Ortu nggak mampu beli. Jadi harus kemana lagi saya membuang kegalauan kalau bukan membaca kamus inggris-indonesia. Hahaha….

Dengan kevakuman saya kemarin, selama hampir setahun. Sepertinya saya harus belajar lagi dari awal tentang segalanya. Belajar mengatur waktu lagi. Membagi waktu yang tepat untuk menulis dan mengurus keluarga. Bagaimana caranya menulis disela-sela kesibukan yang tiada henti. Apalagi jika sedang berada di tengah kegalauan akhir bulan. Sepertinya writer’s blog itu akan terus melanda sepanjang waktu hingga gajian bulan depan. Hahaha…

Kebiasaan menunda-nunda ini seakan menjadi momok bagi saya yang sering merasa sok sibuk. Padahal anak baru satu. Suami juga bukan pengangguran. Walaupun bergaji kecil setidaknya tiap bulan kami masih bisa makan dan berinternet ria. Tapi saya juga sering memaklumi diri. Membesarkan anak balita itu butuh kerja keras dan harus mencurahkan perhatian yang besar.

Mengingatkan diri sendiri untuk sabar itu seringnya malah disaat emosi sudah keluar dari ubun-ubun (khilaf). Yah, sabar.. sabar.. tidak akan selamanya keadaan begini terus, 7 tahun itu hanya sebentar. Ingat, anak adalah cerminan Orangtua. Suatu saat saya pasti akan merindukan saat –saat seperti ini. Dimana saya dan suami masih bisa memeluknya, menciumnya dan menggendongnya. Waktu dan kesempatan seperti ini tak akan pernah terulang lagi.

Tapi terkadang, saya sering merasa waktu tak pernah berhenti. Dilain waktu saya merasa bahwa si kecil lama sekali besarnya. Yah, seperti saat roda kita berada diatas, waktu seakan berlalu begitu cepat. Namun tidak ketika roda kita berada dibawah.

7 comments

  1. Nulis sih sebenare mudah.. tapi...? seperti sampean bilang.. kebiasaan menunda-nunda itu yang akhirnya membuat gak gampang hehehe.. wis ayo deh sekarang nulis lagi mbak.. aku barengi.. semangaaaaaat

    ReplyDelete
  2. hehehe... semangat mas.. makasih dah mampir :D

    ReplyDelete
  3. Yeaaay Mbak Rini ngeblog lagi :))
    Ingat saya kemarin2 berkali2 ke blog ini tapi postingannya gak nambah2. Mudah2an kali ini ngeblognya langgeng ya Mbak Rin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, Siap Grak! :p

      Mudah-mudahan mbak, Amiiiin.. :D

      Delete
  4. Sya juga ingin sekali pandai bercerita lwt sebuah tulisan.. tapi entah kapan..

    ReplyDelete
  5. Kisah yang inspiratif semoga dapat meninggalkan motivasi bagi setiap pembacanya. Terima kasih

    Salam kenal dari Pulau Dollar

    ReplyDelete
  6. roda berputar ya... dibolak balikin hatinya #halah

    ReplyDelete