Ibuku, Yang membesarkanku



Saya sempat salah mengerti tentang pengumuman yang ditulis oleh Mbak Mugniar untuk para anggota grup KEB kemarin. Pasalnya, pada kalimat "Sosok tersebut punya perilaku yang amat mengesankan Emak atau siapa saja yang bukan anak kandungnya." membuat saya langsung berpikir untuk menulis sesuatu yang mengesankan tentang seorang Ibu yang punya anak, tapi bukan anak kandung. Hingga semakin tertohok dengan kisah Ashanty dan anak tirinya karena sering bersliweran di wall pesbuk hahaha...

Okeh, saya mungkin "salah paham" karena membaca loncat-loncat (padahal otaknya yang lemot) hihihi.. tapi setelah dibaca ulang, akhirnya saya putuskan untuk tetap menulis kisah tentang Ibu dan Anak yang bukan kandung. (njlimet sekali bahasa saya yah) :D

Kesan yang saya dapat dari wanita ini (Sang Ibu) sangat dalam secara pribadi. Mungkin banyak kisah yang sama dari tempat lain atau bahkan lebih buruk namun kisah ini terjadi dalam lingkungan saya sehari-hari. Kisah ini bisa saya lihat lebih dekat karena bukan gosip, dari tv atau buku (meskipun sama-sama berupa kisah nyata). 

Saya tidak akan menyebut nama aslinya. Karena wanita ini sering curhat pada Ibu saya (bukan pada saya) dan semoga kisahnya sedikit banyak bisa memberi faedah yang baik kepada pembaca..

***

Beberapa tahun silam, rumah Orangtua saya sempat dihebohkan dengan kelakuan adik laki-laki kami. Ada seorang anak tetangga berusia 4 tahun yang meninggal tertimpa pagar besi karena kelakuannya (mungkin). Kronologis kejadiannya tidak begitu mendetail karena adik saya saat itu juga baru berusia 7 tahun. Yang jelas, tidak adanya saksi telah membuat adik saya menjadi tersangka karena dia satu-satunya teman bermain si korban. 

Menurut cerita yang saya dengar, mereka berdua sedang bermain di salah satu garasi rumah tetangga. Pagar garasi si tetangga ini ternyata belum terpasang karena masih dalam masa renovasi. Untuk menghindari gangguan dari orang luar maka pagarnya disandarkan seolah-olah sudah terpasang. Pada saat itu, rumah berpagar besi itu terlihat sepi karena para tukang sedang libur dan penghuninya sedang tidak dirumah. Singkat cerita, kedua anak ini tergoda untuk bermain disana dan mencoba membuka pagar besi tersebut. Hingga pagar besi yang berat itu menimpa si korban. Akhirnya si Pemilik rumah meminta jalan damai atas kelalaiannya dan memberikan sejumlah santunan. Namun, tetap saja adik saya yang masih kecil itu merasa bersalah karena terus dituduh Orangtua korban sebagai penyebabnya. Kami sekeluarga maklum. Pastinya Orangtua korban sangat shock karena telah kehilangan seorang anak. 

Beberapa bulan kemudian hubungan Orangtua saya dan keluarga korban akhirnya membaik, mau tidak mau. Mereka adalah tetangga terdekat. Jika terjadi apa-apa, ibu korban kadang suka curhat dengan Ibu saya. Lagipula, walaupun kita punya banyak keluarga namun jika rumahnya berjauhan, maka tetangga terdekatlah yang paling cepat bertindak. Ibarat kata sama seperti keluarga kedua.

Tidak lama setelah kejadian itu, sebut saja Ibu si korban ini bernama Bu Hana (nama yang lagi ngetrend di wall pesbuk). Sering main ke rumah Orangtua saya dengan seorang gadis kecil. Usianya sama dengan anaknya yang sudah meninggal. Bu Hana sendiri sebenarnya punya 5 orang anak, 4 laki-laki 1 perempuan dan yang meninggal adalah anak laki-lakinya yang bungsu. 

Saya sempat beberapa kali memperhatikan bagaimana gadis kecil itu disuapi saat makan sambil bermain di depan rumahnya. Tampaknya benar-benar terurus dan dilimpahi kasih sayang dari Bu Hana. Kedekatan itu juga terlihat waktu Ibu Hana turut bantu-bantu memasak saat pernikahan adik-adik saya. Bu Hana selalu membawa gadis kecil itu kemana-mana. Kadang diajaknya bercanda, dipeluk, dicium dan digendongnya. Gadis kecil itu juga memanggilnya dengan sebutan Ibu. 

Sekilas dalam logika saya, timbul beberapa pertanyaan yang kemudian saya jawab sendiri. Kenapa penggantinya bukan anak laki-laki, kenapa malah perempuan? Oh, mungkin karena tidak mendapatkan anak laki-laki maka perempuan tak mengapa asalkan seusia. Lalu, bukankah anaknya sendiri sudah banyak? Terlebih lagi, bukankah Bu Hana sempat menangis karena "kebobolan" waktu hamil si Bungsu? Hmm.. mungkin karena menginginkan anak perempuan lagi kali yah, toh anak perempuannya yang besar sudah lulus SMA jadi sudah susah untuk dipeluk dan dicium ato digendong-gendong lagi. Tapi.. bukankah dengan menambah anak lagi, bakal bertambah lagi biaya hidupnya sedangkan kami tau benar kondisi keluarganya.

Keluarga Bu Hana hidup dengan mengandalkan gaji sang suami yang berprofesi sebagai penjaga pasar dan juga dari penghasilan Bu Hana sebagai tukang cuci, berjualan sayur atau berjualan kue. Kadang mereka berhutang dengan rentenir. Pinjam ke tetangga kiri kanan atau melakukan apapun yang bisa menambah penghasilan. Ibu saya sering merasa iba dan beberapa kali mengantar makanan ke rumahnya. Kasian kata Ibu saya.

Hingga suatu hari, saya mendengar dari Ibu, bahwa Suami Bu Hana ternyata sudah menikah lagi ketika Si Bungsu (si korban) masih dalam kandungan. Kebenaran itu akhirnya diketahui setelah Bu Hana bertengkar hebat dengan suaminya karena sering pulang pagi. Lagi-lagi dengan alasan pekerjaan suaminya sebagai penjaga pasar. Mirisnya lagi, si wanita kedua ini pun sedang hamil. Entah bagaimana Bu Hana menghadapi dan membenahi hatinya. Yang jelas apa yang nampak dari luar memang terlihat baik-baik saja karena tak adanya perceraian. Kecuali matanya yang selalu sembab dan tubuh yang semakin kurus kering. Air mukanya sering terlihat suram ketika beberapa kali berpas-pasan dengan saya. 

Yah, Ibu tetaplah seorang Ibu. Anak-anak adalah segalanya. Dengan apa saya harus menghidupi anak-anak jika tanpa suami. Itulah beberapa kata yang sempat terucap ketika Bu Hana curhat dengan Ibu saya. Hingga suatu hari, terjadilah tragedi pada Si Bungsu yang membuat Suami Bu Hana akhirnya pulang ke rumah.

Tragedi itu mungkin juga yang menjadi salah satu penyebab perubahan dalam kehidupan rumah tangganya. Sang suami akhirnya menceraikan istri kedua yang pernah dinikahinya secara sirih. Tapi ternyata si istri kedua ini tidak terima sepenuhnya, hingga lebih memilih untuk menyerahkan anaknya yang masih kecil ke mantan suaminya, yakni suami Bu Hana. Dari situ akhirnya saya tau, siapa gadis kecil yang selalu dibawa kemana-mana oleh Ibu Hana. 


Ditulis dalam rangka meyambut Hari Ibu bersama KEB


45 comments

  1. Miris ya Mak baca kisah bu Hana, semoga beliau tetap sabar dan kuat.

    ReplyDelete
  2. hebat sekali sosok Bu Hana itu ya, kuat mendem jero *istilah jawanya*
    dan sepertinya banyak sekali sosok2 seperti Bu Hana di dekat kita
    nice post mak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mak... sebenernya ada satu orang lagi yang saya kenal yg nasibnya sama dgn Bu Hana Mak :(

      Waktu pertama kali denger ceritanya saya langsung bilang "waw" terus ngelongo

      Delete
  3. Wah... Spektakuler sekali ceritanya, Mak. Bersyukur hubungan tetanggaan itu baik2 saja. Dan ya ampun... Tak nyangka ternyata anak kecil itu anak dari madunya? *Speechless...
    Semoga kita bisa meneladani ketangguhan & sifat keibuannya itu ya.
    Selamat hari ibu... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga speechless waktu pertama kali denger Mak..

      Met hari Ibu juga Mak :D

      Delete
  4. Selamat Hari Ibu, tetap kuat ya Bu Hana, salam

    ReplyDelete
  5. Bu Hana sungguh berjiwa besar dan berhati mulia, ya, Mak. :) Kisah yang menginspirasi. Trims for share! :)

    ReplyDelete
  6. Wah, sungguh mulia hati Bu Hana, ya, Mak. Ga semua wanita mampu menerima anak bawaan hasil perkawinan lain suaminya, lho. Salut dengan kebesaran hati Bu Hana. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mak, dengernya aja gimana gitu. Apalagi kalo kita yang ngalamin sendiri. Waduuuh... saya juga salut mak :)

      Delete
  7. Miriss ya Mak.. kita tidak tau apa yang terjadi setelah musibah. Selamat Hari Ibu Mak...:)

    ReplyDelete
  8. Ini sudah cocok koq Mbak Rini .... Mbak Rini sudah memahami apa yang dimaksud :)

    Saya salut sama ibu seperti ini ... bisa juga ya menjaga anak orang, mengurusnya seperti anak sendiri ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... Iya Mbak :D

      Pengen sekali mencontoh kesabaran dan ketabahannya :)

      Delete
    2. Iya Mbak ... dengan anak sendiri saja saya masih suka kurang sabar -_-

      Delete
  9. wow. betapa besar dan kuat hati si Ibu....

    ReplyDelete
  10. Dari 100 ibu mungkin hanya 1 yang memiliki sikap seperti ibu Hana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Bun... Semoga menginspirasi buat kita semua ya Bun...

      Delete
  11. pas baca terakhirnya, saya merinding. Ternyata Bu Hana, hatinya sangat mulia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata ya mak... :D

      Saya juga sempet nanya, gadis kecil itu siapa. Kata Bu Hana itu anaknya, makanya dulu saya jadi heran, perasaan anaknya yg bungsu itu nggak kembar :)

      Delete
  12. Selamat Hari Ibu..buat bua Hana !
    Semoga menginspirasi kita semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak... :D

      Met Hari Ibu jugaaa... :D

      Delete
  13. wow... salut...
    cerita di sinetron ada jg ya di dunia nyata...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, hanya saja tampangnya nggak rupawan semua kayak di sinetron :D

      Delete
  14. Duhhh... miris yaa dan tetap saja ibu adalah ibu. Meski jelas anak dr wanita lain suaminya...hati ibu hana lapang sekali ya mak sampai mau merawat anak itu. Subhanallah...

    ReplyDelete
  15. sedih juga plus elus - elus dada tentang kisah Bu Hana, :)

    Banyak teladan yang diajarkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak... :D

      Mau skalian tak kerokin? :p

      Delete
  16. Pertama, bu Hana di FB itu siapa ya? Kedua, jadi ingat film Maleficent ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya, saya ngambil nama itu karena keren aja Mak hihihi.. (bukan senasib yah)

      (Maafkeun saya Mak HM Zwan nggak sempet ijin. Soalnya setiap kali baca di wall, setiap kali itu pula saya mikir Mas Bramnya Mbak Hana ini kemana ya ???) hihihi...

      Delete
    2. Trus yang Maleficent itu miripnya di bagian sebelah mana ya mak?, blom nonton juga soalnya hehehe... :D

      Delete
  17. Mulia sekali memang hati seorang ibu..

    ReplyDelete
  18. uwaaa bener2 mulia ya,sedih uga bacanya... :(

    ReplyDelete
  19. Wah Bu Hana bisa berbesar hati ya mak, ini kayak ibunya si juki yang di Para Pencari Tuhan berarti ceritanyaa

    ReplyDelete
  20. hampir sama dengan cerita hidup tetanggaku Mbak, beliau membesarkan anak suaminya (dengan selingkuhannya *maaf*) seperti anaknya sendiri, sangat kagum melihat orang berhati besar seperti beliau2 itu :)

    ReplyDelete
  21. Semoga Bu Hana diberi kekuatan dan kemudahan di jalan hidup selanjutnya.

    ReplyDelete
  22. Maaf, mak. baru sempet bw ke blog, mak Rini.

    Sedih banget baca postingan ini, Mak. Kita musti lebih banyak bersyukur, kalau kehidupan kita lebih baik. Orang baru nyadar betapa hidup kita jauh lebih baik saat tau kisah2 orang lain yang benar2 diuji seperti Mak Hana ini.

    : (

    ReplyDelete
  23. Mak Rin ..... mau tanya .... blognya cantik begini, didandani sendirikah:)

    ReplyDelete
  24. aku baru kebuka sekarang dan baru baca... masya Allah.. luas banget hati ibu itu ya.. ikhlas membesarkan anak dari suaminya dengan orang lain.

    ReplyDelete