Berjuang sendiri di tengah Virus yang sedang mewabah

by - 22 Maret


Orang-orang menganggap remeh, anak-anak berkeliaran, ibu-ibu dan bapak-bapak, kakek-kakek hingga nenek-nenek, berkumpul di beberapa tempat, berpartisipasi dalam acara aqiqah dan pernikahan. 

Meskipun acara tersebut sudah direncanakan sejak lama. Dan sebagai bentuk dari mereka yang hendak mencari nafkah, seperti catering, penyewaan tenda atau undangan yang sudah jauh-jauh hari dibuat dan terlanjur tersebar atau semacamnya. Tapi tidaklah etis untuk menyelenggarakan sebuah pesta, di tengah situasi yang sedang tidak mendukung sama sekali, seperti saat ini. Kecuali mereka yang memang harus diwajibkan bertugas di luar, demi negara atau demi kemashlatan orang banyak, dan tidak bisa membawa pekerjaan ke rumah. 

Sepertinya, anjuran pemerintah untuk mengisolasi diri di rumah tak terlalu diacuhkan. 

Pertama, karena surat peringatan hanya beredar di dunia maya, melalui medsos atau whatsapp yang notabene hanya diketahui oleh orang - orang yang sering memantau dan aktif bersosialisasi di medsos. Sisanya, adalah Orangtua atau orang - orang yang jarang menggunakan handphone atau mendengarkan dan melihat informasi melalui media elektronik. 

Kedua, hanya karena di sini belum diketahui pasti siapa saja yang terdeteksi. Belajarlah dari pengalaman kemarin, dimana indonesia masih berada di 0 kasus, begitu 2 orang terdeteksi, maka berbondong - bondong yang lain menyusul. 

Ketiga, karena banyak masyarakat kecil yang masih harus mencari nafkah. Yang mana, jika tidak bekerja, tidak bisa makan dan melanjutkan hidup. 

Kecemasan dan kepanikan mungkin belum begitu menghampiri mereka, tidak seperti emak - emak yang sering memantau informasi terupdate. Jika infonya membaik, agak berkuranglah kegundahan hati tapi jika info yang diterima malah semakin memburuk, kecemasan berlebihlah yang didapat. Apalagi jika berteman dengan orang - orang yang rajin share tentang hal-hal yang justru membuat kita semakin down, hingga mengalami kepanikan dan kecemasan berlebih, yang ujung-ujungnya hanya menjadi toxic. Menambah panas situsi yang memang sudah risuh tanpa memikirkan darimana sumbernya, yang penting di share biar orang-orang tau, entah hoax atau bukan yang penting panik berjamaah dulu, ya gak, emak-emakser? Dengan bertambahnya stress, tidak terkena wabah pun, justru malah penyakit lain yang akan berdatangan. 

Belum lagi, jika di dalam rumah sendiri ada yang menganggap enteng, santuylah pokoknya. Misal, Ortu, Kakak, Adik, Anak atau Suami yang menjawab "Boleh kita ikhtiar maksimal, tapi tetep harus berserah diri. Cukup mengambil hikmahnya, persiapkan diri seolah esok kita akan mati". Setiap diminta untuk menjaga kebersihan, salah satu kalimat itu pasti diucapkan (biar si emak berhenti ngomel, mungkin), tetapi masih saja lalai dalam memperhatikan kebersihan dan aturan yang telah berkali-kali dianjurkan pemerintah. Masih sering ngumpul diam-diam, ke tempat-tempat keramaian dan sebagainya tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Seolah semua usaha dan kerja keras yang dilakukan demi kesehatan keluarga hanya kekhawatiran berlebih seorang emak semata yang hanya jadi perbuatan sia-sia. Bagaimana Sang Emak gak gundah gulana, coba? 

Sekuat-kuatnya seorang Emak, pasti juga bisa lelah. Bukan hanya karena kesehatan fisik semata, tapi juga kesehatan mentalnya. Karena harus menjadi yang paling sehat dan paling diandalkan agar bisa mengurus keluarga secara maksimal. Dan tubuh serta pikirannya akan semakin lelah jika ternyata fisiknya menjadi sakit justru karena mental healthnya ngedrop dan tak ada lagi orang yang bisa membantu mengurus keluarganya. 


You May Also Like

6 Comments

  1. Saya sampai serem sendiri loh, medsos makin ramai, tapi jalanan juga tetap ramai hahaha.
    hanya bisa berdoa semoga virus ini segera berlalu, sedih melihat keadaan akhir-akhir ini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kdg kita jg jadi gak beraktifitas dgn baik karena tiap hari di cekokin berita yang bikin panik, pengaruhnya itu besar bgt ke pikiran, yg bikin mandeg semua pekerjaan jadinya

      Hapus
    2. haha bener sekali ini mba rey, medsos ramai eh jalanan juga ramai. seimbang banget ga sih :D keren
      tapi ya gmna, smga cpt berlalu dhe ini

      Hapus
    3. Waaahh saya jujur udah sejak awal Maret lalu, hanya sekali saya keluar ke minimarket, tapi nggak terlalu ramai sih, cuman nggak ada yang pake masker hahaha

      Hapus
  2. Disini juga sama saja, ada petugas lapangan malahan yang menghimbau tapi tetap pada bandel keluar rumah, mungkin hanya pada malam hari saja sudah agak sepi.

    Semoga saja Corona cepat berlalu ya.

    BalasHapus
  3. Kalo ditengah kota, jalanan emang sudah sepi senyap. Tapi kalo di kampung-kampung. Orang-orang masih solat ke masjid. Bulan puasa, siang anak2 diem dirumah. Tapi pas subuh abis saur pada keliaran semua 😪

    BalasHapus