#8 Minggu Ngeblog: Color of My Life

by - 02 Mei


Bicara tentang warna, sejak kecil saya sudah menyukai semua warna. Terutama warna alam dan natural, juga warna langit dan bumi beserta semua isinya. Karena saya berpikir, semua warna itu memiliki padanan masing-masing yang mampu membuatnya terlihat bagus dan serasi. 

Karena kecintaan saya dengan warna, setelah lulus SMK akhirnya saya memutuskan untuk memperdalam dan berprofesi di bidang pekerjaan yang bisa mengolah dan bermain dengan warna yaitu Disain Grafis. 

Di dalam ruang lingkupnya, saya mengenal dua jenis warna, yaitu RGB dan CMYK. Secara tradisional, Merah, Hijau dan Biru atau RGB (Red, Green, Blue) merupakan sejarah dari warna dasar, yang digunakan dalam dunia seni rupa khususnya lukisan. Warna RGB juga digunakan dalam TV, Scanner, Fotografi dan tampilan di Monitor Komputer, yang difungsikan untuk berbagi intensitas cahaya dalam mencerahkan warna latar belakang komputer yang gelap (hitam). 

Jika ketiga warna RGB disaturasikan penuh, maka hasilnya adalah warna putih. Pemakaiannya sebagai warna dasar, menghasilkan rentang warna yang relatif sempit dan kecil. Dimana beberapa warna tidak bisa didapat dengan campuran ini. 

Maka, untuk menghasilkan warna yang bervariasi, dunia percetakan menerapkan pemakaian warna Cyan, Magenta, Yellow dan Black (CMYK) dalam ukuran yang bermacam-macam agar tampil seimbang dengan latar belakang putih dari bahan cetak seperti kertas dan lain-lain, meskipun ada juga offset printing dari beberapa percetakan yang menggunakan warna RGB. 

Secara teori, sebelumnya ukuran yang seimbang dari campuran warna Cyan, Magenta dan Yellow (CMY) akan menghasilkan warna kelabu dan akan menjadi hitam jika semuanya disaturasikan secara penuh, tapi prakteknya justru menghasilkan warna kotor kecoklatan. Akhirnya, ditambahkanlah warna keempat yaitu Hitam yang kemudian menjadi CMYK. "K" berasal dari kata "Key Plate" karena dalam percetakan, plat cetak yang menciptakan detail artistik pada gambar biasanya menggunakan warna yang bertinta hitam. Kita lihat saja warna dasar yang ada di dalam catridge printer biasa, mereka juga terdiri dari warna Cyan, Magenta, Kuning dan Hitam bukan. Dimana warna-warna tersebut juga biasa digunakan di percetakan, untuk mencetak pada media kertas semisal majalah, buku, brosur dan sejenisnya. 




Itu juga yang menyebabkan warna tampilan di layar monitor dan yang telah dicetak berbeda. Agar tampilan keduanya sama, ketika pertama kali membuka halaman baru di sebuah aplikasi pendisain seperti Adobe Photoshop, sebaiknya kita ganti mode warnanya menjadi CMYK melalui pilihan color mode terlebih dahulu. Jika harus mengkonversi setelah disain siap cetak, maka hasilnya akhirnya tidak akan sama dan kurang memuaskan. 


Lantas, bagaimana dengan teori warna dalam dunia Psikologi? 

Nah, seorang cewek, perempuan, atau wanita biasanya kebanyakan sangat identik dengan warna terutama pakaian, perabot, peralatan dan segala macam hal yang berhubungan dengan perempuan. Begitu juga dengan anak-anak, dunianya dipenuhi dengan hal yang berwarna-warni, mulai dari pakaian, perabot, mainan, film, bahkan makanan. Lalu bagaimana dengan laki-laki? Saya pikir kebanyakan laki-laki tidak terlalu mengeksplor warna dalam berpakaian dan semua yang berhubungan dengan dirinya, kecuali karena dia berminat atau memang berkecimpung dibidang yang mengharuskan bermain dengan warna. 

Di masa-masa kuliah, psikologi sempat menjadi salah satu mata kuliah yang saya ambil selama 4 semester. Saat itu sang dosen pernah membahas tentang warna yang mempengaruhi mood, dan mood yang mempengaruhi warna. Secara psikologis, warna selain dapat dilihat dengan mata, ternyata juga mampu mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda. Warna bisa merefleksikan satu atau dua hal tentang diri kita dan juga bisa membawa aspek positif dalam kehidupan. Pemilihan warna bisa dipengaruhi oleh tren atau budaya sekitar. Namun, warna juga bisa mencerminkan respons perilaku dan emosi pemiliknya. 

Berikut beberapa kumpulan informasi dan catatan tentang warna semasa kuliah: 

Yang pertama, mengenai warna yang dipilih dan diinginkan pemakai atau pengguna berdasarkan cerminan perilaku dan emosi dari pemiliknya, di saat pemilihan warna itu dilakukan. 

  • Merah : Berani, semangat , ceria, kuat, marah juga berkemungkinan. 
  • Oranye : Pelit. 
  • Kuning : Sedang ingin mendapatkan perhatian. 
  • Hijau : Tumbuh, mendapat semangat baru, hidup baru. 
  • Biru : Dingin, kaku, damai dan menenangkan. 
  • Ungu : Bersajaha, kemewahan dan keromantisan. 
  • Merah muda : Feminim, lembut. 
  • Abu-abu : Berwibawa, elegan. 
  • Putih : Suci, sederhana, netral, menjalani hari yang baru, bersih. 
  • Hitam : Sedih, menyendiri, tidak ingin menonjol, dingin. 
Perihal warna ini sempat membuat beberapa mahasiswa di kelas tergelitik untuk menguji teori yang ada. Hingga selama beberapa hari, terjadilah tebak-tebakan warna yang mempengaruhi mood ataukah mood yang mempengaruhi warna dari pakaian teman-teman mahasiswa yang akan di temui. Beberapa hasilnya adalah 80% mahasiswanya benar-benar memakai baju berwarna gelap atau hitam di saat cuaca mendung atau hujan. Tapi mahasiswa yang sedang bermasalah atau sedih, juga memakai baju warna hitam. Ada yang memang suka warna hitam, tidak ada lagi pilihan baju yang berwarna lain selain hitam atau sedang diharuskan memakai baju warna hitam. Bagi mereka yang sedang bersemangat, rata-rata mengenakan baju berwarna merah, putih, hijau, biru atau bahkan kuning dan sisanya karena selera, tren dan fashion serta fengshui. 

Dan yang kedua, mengenai warna cat rumah. Untuk pemilihan warna cat di tiap ruangan, sebaiknya disesuaikan dengan kegiatan yang ada di dalamnya. Karena sedikit banyak, warna cat juga berpengaruh bagi setiap penghuninya. Contoh : 

  • Ruang Tamu, kita bisa menggunakan cat warna abu-abu atau warna gelap karena menimbulkan kesan dingin dan adem, atau bisa menggunakan cat warna putih jika ingin ruangan terlihat lebih luas dan bersih. 
  • Ruang Tengah, Ruang Keluarga atau Ruang Belajar, di prioritaskan cat berwarna cream atau biru karena dipercaya mampu meningkatkan IQ 
  • Kamar, sebaiknya menggunakan warna merah untuk meningkatkan gairah bagi pasangan suami istri, atau warna-warna lembut agar mata kita lebih nyaman ketika baru bangun tidur. 
  • Dapur, Usahakan di cat berwarna hijau atau dicampur dengan warna kuning. Agar kelihatan tetap segar dan natural serta serasi dengan bahan dan warna benda-benda yang ada di dapur serta halaman belakang. Efek warna hijau juga bisa menjadi terapi mata bagi mereka yang terlalu lama menatap layar monitor atau televisi. 
  • Kamar Mandi, sesuai dengan warna air sebaiknya gunakan cat berwarna biru muda atau putih, selain agar terlihat serasi juga agar menimbulkan efek luas dan bersih. 
  • Dinding luar Rumah, warna pastel adalah pilihan yang bagus, karena jika sudah terlalu lama terpapar matahari warnanya tidak akan terlalu pias, dibandingkan dengan menggunakan warna-warna cerah. Bisa juga menggunakan warna yang gelap agar tidak terlalu terlihat kotor dan tidak sering memoles dengan warna yang baru. 

Nah, dari tulisan diatas bisa disimpulkan, bahwa kita tidak bisa menilai warna dari mood seseorang atau mood seseorang dari warna yang dipilih berdasarkan satu hal. Apalagi melihat karakter seseorang dari warna yang disukainya. Banyak hal yang bisa saja mempengaruhi dalam menentukan warna pilihannya. Tapi meskipun demikian, terkadang saya masih suka mencari tau mood seseorang melalui warna yang dipilihnya. Entah itu berdasarkan mitos atau bukan, tidak dipungkiri jika saya kadang mendapati kedua informasi dan catatan tentang Psikologi di atas sama dengan kenyataannya. Hingga tanpa sadar, teori-teori tersebut membuat saya hafal diluar kepala. :D 


Referensi :
  • edupaint.com 
  • Drs. P. Siagian 
  • J. Linschoten 
  • Drs. Mansyur 
  • Holly James, Psikolog klinis dari Artemis Counselling Services.

You May Also Like

0 Comments