#8 Minggu Ngeblog: Komunitas Ideal #1

by - 01 Juni

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.


Bagaimana sih komunitas yang ideal itu?

Sebelum saya membahasnya lebih jauh, kayaknya saya perlu mengingat-ingat dulu, komunitas apa saja yang pernah saya masuki, hmm... #garuk2

*tring*

Ah! ternyata banyak. Tapi kok yang berkesan hanya sedikit yah..

Lah kenapa?

Tentu saja karena komunitasnya membosankan, anggotanya jarang aktif, atau komunitas tersebut menuntut waktu lebih banyak untuk berkonsentrasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan komunitas. Padahal, saat itu saya sedang miskin-miskinnya dengan waktu.

Komunitas pertama yang pernah saya ikuti adalah Komunitas Bela Diri Kempo waktu SMP, baru nimbrung 2 minggu eh bubar, anggotanya males karena nggak punya sesuatu yang bisa memotivasi agar komunitasnya maju.

Lalu ada Komunitas Teater waktu SMA. Baru sehari jadi anggota, besoknya nggak dateng lagi. Nggak pede soalnya, mendadak keringat dingin pas ngeliat para senior dan teman-teman pada jago akting karena memang mereka punya basic. Nah saya ? kenal aja baru disitu. Tujuan saya bergabung sebenernya memang cuma iseng, karena tempat ngumpulnya deket mall dan cuma ikut-ikutan temen. Sempet kepikiran mo pulang aja pas seniornya ngetes kemampuan para anggota baru, tapi untungnya saya pura-pura ijin ke toilet dan nggak balik lagi. *hihihi*

Setelah itu saya bergabung dengan Komunitas Pebasket di sekolah, yang ini juga banyakan bolosnya daripada datengnya karena sibuk kursus ini dan kursus itu. Lagian tempatnya juga jauh dan berat di ongkos, kalo ada event-event pun saya hanya ikut sekali pas 17 an, sekedar ikut bantu-bantu memeriahkan. Kalo menang kan lumayan dapet hadiah. :D

Setelah lulus SMK, saya sempat bergabung dalam Komunitas Ibu-Ibu Merajut. Ih senengnya saat itu, karena dapet banyak ilmu dan bisa belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Dan pastinya, saya sering banget dapet traktiran. Terlebih lagi karena saya adalah perajut paling bontot dan hanya saya yang masih single. Istimewa dong pastinya.. ^_^

Oh iyah, komunitas ini bukan komunitas dunia maya, kami hanya berkumpul di satu tempat. Lengkap dengan perkakasnya masing-masing, yaitu benang dan peralatan merajut. Komunitas ini sendiri terbentuk karena kebosanan para ibu-ibu atau hanya untuk mengisi waktu luang pas lagi nungguin anaknya pulang sekolah dan kursus. Karena mereka males bolak-balik dari rumah ke sekolah trus pulang dan jemput ke sekolah lagi, lanjut ke tempat kursus, terus pulang dan ke tempat kursus lagi buat njemput anak-anaknya, kan ribet. Dan juga sebagai alternatif buat ngirit bensin *emang yah ibu-ibu teteup, kalo udah berurusan dengan irit mengirit* hihihi.

Karena di rumah mereka udah ada para pembokat yang beres-beres, jadi nih ibu-ibu emang nggak ada kerjaan alias pengangguran banyak duit. Daripada ngerumpi, ngegosipin orang dan ngomongin yang nggak bener. So merajutlah mereka. Merajutnya mereka inih adalah merenda menggunakan jarum kait (hook), yang bahasa Inggrisnya crochet, nah kalo saya saat itu hanya bisa knitting, itupun bisanya baru bikin syal. Setelah mengenal komunitas ini, awal-awalnya saya masih belum berani praktek, cuma ngeliatin aja. Tapi pas saya mo mulai knitting, ternyata gantian mereka juga pada ngeliatin. :D

Dalam komunitas ini nggak ada istilah leader-leaderan, atau event-eventnan, kegiatannya yah cuma berbagi ilmu, dan ngerajut bareng. Kegiatan hot nya yang paling banter, mungkin traktir mentraktir aja kayaknya. ^_^

Trus waktu kuliah, saya ikutan Komunitas Pebasket lagi, kerjanya maen basket melulu. Tapi sesekali ngumpul dan diskusi di lapangan atau kalo nggak, tanding sama Pebasket dari komunitas laen. Nah, di tempat kami biasa latihan ada komunitas kecil satu lagi. Komunitasnya para breakers (sebutan untuk para pelaku breakdances), saya mah nggak ikut bergabung. Cuma komunitas basketnya udah dicuekin aja karena ngeliatin para breakers latihan itu ternyata lebih asyik dan seru. *selingkuh ceritanya inih*:D

Dan setahun yang lalu, saya sempat membentuk satu komunitas di Grup BB (Blackberry) untuk para mantan dan calon mantan karyawan di tempat kerja saya yang dulu. Tujuannya yah sekalian buat reuni, menjalin silahturahmi yang udah terputus, kopdar sekalian sebagai tempat sharing dan juga curhat. Komunitas ini menampung semua keluh kesah, susah dan senang selama bekerja disana, sekaligus sebagai tempat bertukar pikiran dan tempat konsultasi bagaimana cara mengundurkan diri yang tetap berkesan baik, meskipun kadang ada yang gondok dan sakit hati karena perlakuan yang tidak nyaman dari Bos besar. Intinya. karena saya adalah karyawan paling senior dan cukup lama bekerja disana. Jadi mungkin lebih paham bagaimana watak dan jalan pikiran si Bos Besar :D

Tapi sayangnya, komunitas ini tidak terlalu lama aktif. Karena Handphone saya dah hampir koid. Jadi udah nggak tau lagi gimana perkembangan atau penyusutan para anggotanya.

Kemudian saya bergabung di komunitas para alumni dari SMK saya yang dulu. Mungkin juga bisa disebut komunitas arisan kali yah, meskipun nggak semua ikut arisan. Anggotanya mayoritas udah berstatus ibu-ibu dan beberapa masih ada yang singel. Komunitas ini sebenarnya sama sekali tidak memilih gender, tapi berhubung sekolahnya memiliki murid yang 98 persennya adalah cewek tulen, 1 persennya cewek jadi-jadian dan 1 persennya lagi cowok macho *hihihi* . Jadi yah, maklumlah :D.

Para anggota di komunitas ini memiliki uang kas, yang suatu saat bisa digunakan untuk membantu salah satu anggotanya jika terkena musibah atau semacamnya. Komunitas ini juga memiliki jadwal pertemuan sebulan sekali, kegiatannya antara lain sharing atau berdiskusi tentang apapun yang kira-kira nyambung dengan para anggotanya.

Dan yang terakhir, Komunitas Monday Flashfiction atau MFF. Baru sekitar 3 bulan lebih saya bergabung disana dan insya Allah seterusnya. MFF adalah komunitas pencinta Flashfiction. Sebuah komunitas tempat kita belajar menulis cerita fiksi yang ditulis tidak lebih dari 500 kata dan ceritanya di akhiri dengan twist ending atau ending yang tidak terduga. Komunitas ini berdiri di dunia maya. Kalo komunitas ini diadain di dunia nyata atau ada event-event kopdarnya, wuih pasti seru, soalnya anggotanya dari berbagai daerah dan luar negeri. Leader atau admin-adminnya pada okeh dan pinter-pinter, tegas dan bisa menetralisir keadaan dan anggotanya pada asyik semua. Ada yang kocak, ada yang nyantai dan ada yang serius, pokoknya macem-macem deh. Meskipun bermacam-macam tapi mereka punya satu visi dan satu tujuan *jadi inget semboyan Bhineka Tunggal Ika ya hihihi*. Salutnya, No heart feeling dari Admin dan Anggota karena semuanya tentang belajar dan belajar dan juga harus bisa nerima saran dan kritik kalo ingin maju. Kita juga dibebaskan kapan saja untuk menulis dan ikutan prompt yang dilaksanakan tiap minggu, karena para Admin memaklumi koneksi internet yang kadang awut-awutan. Selain latihan menulis, juga ada pemilihan karya terbaik setiap minggu, belajar fiksi mini, review buku, tips dan artikel-artikel penting juga quiz berhadiah untuk cerita FlashFiction terbaik. Komunitas ini berinteraksi dalam grup di Facebook dan memiliki sebuah situs yang berisi informasi dan pelajaran-pelajaran yang berguna sekali bagi mereka yang ingin memperdalam FlashFiction.

Nah dari beberapa komunitas yang saya ikuti, akhirnnya saya memiliki beberapa kesimpulan, gimana seharusnya Komunitas yang Ideal itu.

Menurut saya komunitas ideal itu, adalah tempat dimana para anggotanya merasa nyaman dan bisa menjadi diri sendiri serta open minded atau berpikiran terbuka terhadap segala kritikan dan masukkan. Mampu saling meringankan beban masalah dan menunjukan rasa simpatinya antar anggotanya dan saling peduli satu sama lain.

Esensi dari suatu komunitas adalah ikatan emosional yang terbentuk dari kesamaan kesukaan pada suatu hal. Sama secara visi, hobi, tujuan yang juga merupakan daya tarik untuk membuat orang bergabung dalam komunitas. Untuk membangun komunitas tidak diperlukan dana yang sangat besar, karena sejatinya komunitas adalah tentang kualitas, bukan kuantitas.

Sebuah komunitas yang ideal haruslah memiliki tujuan yang jelas serta memiliki komitmen yang konsisten terhadap komunitas agar bisa mempengaruhi para anggotanya. Ketulusan adalah hal yang paling penting dalam sebuah komunitas dan juga kekompakkan antar anggotanya. Jika suatu waktu terjadi cekcok atau kesalahpahaman, sebaiknya memiliki seorang leader yang bisa menjadi penengah dan mampu menetralisir keadaan. Selain itu diperlukan juga orang-orang yang mampu memotivasi demi kemajuan komunitas itu sendiri. Diperlukan juga keaktifan dan rasa empati dari setiap anggota. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bukan hanya untuk kepentingan komunitas tapi juga bagi kepentingan umum (kalau bisa) bukan hanya berdiskusi tentang visi dan misi komunitas saja.

You May Also Like

0 Comments