Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

by - 16 Juni

“Nggak mau! Ini punya Rara!”
Adit menarik sendok dan nasi bungkus yang ada di pelukan Rara.
“Adiiiiiiit, kembaliin!”
“Ini punyaku! Wek!” Adit menjunjung tinggi bungkusan itu, tapi tiba-tiba Rara menyundul punggungnya dari belakang, hingga mereka berdua terjatuh dan bergulat di lantai.
Marni panik dan tergopoh-gopoh keluar dari dapur, lalu segera melerai kedua anaknya yang lincahnya naujubillah. Dia mengambil paksa nasi bungkus yang ada di tangan Adit dan meletakannya di tangan Rara.
“Kalian ini apa-apaan sih! Kan udah punya satu-satu, kenapa masih rebutan?!”
“Tapi Adit kan masih laper Bu..”
Secepat kilat Adit merampas nasi bungkus yang dipegang Rara, hingga terjadilah adegan tarik menarik, tapi akhirnya “Brak!” bungkusnya robek dan karetnya putus. Semua isinya berhamburan keluar.
Marni, mengelus dada. “Heran nih anak dua! Badan udah kayak Gajah Way Kambas, tapi kelakuan kayak orang yang nggak makan tiga hari. Kalian liat tuh si Hana. Nggak banyak tingkah, pendiam, penurut lagi. Kalo kelakuan kalian kayak gini terus, Ibu nggak mau ngasih makan kalian lagi! Emangnya nyari uang itu gampang?”
“Yah, jangan Buuu…” Rara dan Adit mengumpulkan remahan nasi yang berserakan serta 2 potong paha ayam yang terpental sampai ke kolong meja.
“Nih, kalian makan punya Ibu aja. Nasi yang itu buang aja, udah kotor gitu ntar kalian malah sakit perut lagi.”
Hana diam saja, dia memilih untuk melihat ke luar jendela. Matanya menatap halaman luas yang membentang di depan matanya. Anak-anak tertawa riang bermain di taman. Ada yang sedang berlarian dan ada yang sedang makan bersama. Hana tertunduk.
Marni ke dapur lalu kembali dengan sepiring gorengan. “Hana, yok sini makan dulu. Ni ada Pisang Molen kesukaanmu.”
“Iya Bu.” Hana mencubit Pisang Molen yang diletakkan Marni dalam sebuah piring plastik. Kemudian dimakannya sampai habis. Sesekali diteguknya air putih yang tergeletak di sudut jendela.
Setelah kenyang. Hana kemudian duduk bersandar di sisi jendela, beristirahat dan berusaha memejamkan mata.
“Hana. Sebelum kamu tidur, jangan lupa cuci piring dan beres-beres ya.” Seru Marni.
“Iya, Bu.”
“Oh ya, kamu kan udah makan Pisang Molen. Jadi jatah nasi bungkusmu buat Ibu yah?”
Hana mengangguk.
“Besok-besok, kamu harus bisa dapetin uang kayak gini lagi pokoknya, yah? Kalo udah terkumpul, Ibu bisa beliin kamu baju lebaran. Kamu mau kan?”
Hana mengangguk lagi. “Boleh nggak besok Hana makan nasi bungkus kayak yang tadi sama beli sandal baru, Bu? Tadi siang, pas Hana dikejar-kejar petugas Kamtib, sandal Hana nyangkut di got dan hanyut di selokan. Trus Hana nangis di bawah jembatan tempat biasa Hana duduk, eh ternyata malah tambah banyak yang ngasih duit, Bu.”
“Bagus, pinter kamu Na! Marni tertawa senang. “Kalo kamu bisa dapet dua kali lipat dari jumlah hari ini, nanti nasi dan sandalnya Ibu pertimbangkanlah pokoknya. Yang jelas, besok kamu praktekin lagi nangis kayak tadi siang yah! Kalo kamu nggak bawa uang, Ibu nggak jamin kamu besok-besok bisa numpang disini lagi. Inget itu ya!

You May Also Like

0 Comments