Santuy & Corona

by - 30 Maret



Pernah gak sih, kamu ketemu orang - orang yang malas menjaga kesehatan dirinya, susah banget kalo diomongin. Eh, pas dia jatuh sakit, eh dia yang paling manja, paling cerewet, paling heboh dan paaling - paling dari yang laen. Sampe nyusahin orang laen yang kadang sakitnya malah lebih parah.

Nah itu, salah satu hal yang paling mengingatkan saya dengan beberapa, sebagian, rata - rata bahkan mayoritas, atau mungkin hanya sebagian kecil warga +62? Entahlah, jumlah penduduk negeri ini kan banyak, yak. Beda-beda pula.

Apakah kamu salah satunya? Semoga aja gak, yah 😅.

Kebiasaan "Santuy" ini pernah menjadi "kesan pertama" yang diterima para Vlogger luar. Yang mereka dapatkan secara langsung dari warga +62 di negeri tertjinta inih, juga dari warga +62 yang menetap di negara lain (gak semuanya tapi ada).

Bagi mereka yang melihat dari sisi positif, kesan santuy ini bagus dari sudut pandang ketika kita bertawakal dan berserah diri, tidak melulu terobsesi mengejar dunia yang hanya membuat kita lelah dan stress dalam menjalani hidup. Karena bagi seorang muslim, kalian tentu tau sebenarnya untuk apa kita diciptakan dan apa yang menjadi tujuan hidup kita sebenarnya, bukan.

Saking berkesannya perilaku warga +62 tentang bagaimana menghadapi hidup dan berinteraksi dengan orang lain, membuat sebagian dari mereka (orang luar) pun tergugah dan ingin menapaki jalan yang sama, yaitu dengan menjadi seorang mualaf. Tidak tanggung - tanggung, apa yang mereka pelajari bahkan lebih dalam dari seorang yang sudah menjadi muslim sejak lahir.

Karena warga +62 adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim atau beragama islam. Entah itu hanya di KTP ataupun tidak. Negeri tertjinta ini telah berkembang menjadi negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Otomatis, agama yg sudah ada sejak jaman nenek moyang ini, berpengaruh besar pada budaya dan adat istiadat bangsa kita.

Budaya rasa bersyukur dan tawakal yang sudah mengakar ini, seringkali disalahartikan (atau sebenernya, emang malas mengartikan) dari beberapa pihak atau oknum2 yang mageran, manja, egois, dan mau enaknya sendiri. Sehingga arti Santuy yang hakiki pun ternodai.

Kita wajib berserah diri setelah kita berikhtiar, dengan berdo'a dan berusaha sebaik-baiknya, lalu santuy kemudian. Begitulah langkah yang tepat, bagaimana seharusnya kita memfungsikan kata santuy ini, menurut saya.

Lalu, tiba-tiba kegiatan santuy ini belakangan begitu merebak, bukan hanya kata - katanya yang mendadak populer tapi juga kelakuannya. Menjadi kosakata baru, perbendaharaan kata 'anak jaman now warga +62', lalu menjadi hastag, taggar di berbagai akun sosmed, hingga menjalar ke aspek-aspek lain.

Ketika sedang berada di masa pandemi seperti sekarang ini, justru sisi negatif budaya santuy pada aspek kesehatan pun kian mencolok dan menjadi boomerang, bagi bangsanya sendiri.


"Biasanya, kalo belum kena batunya belum nyesel".



Mayoritas orang akan merubah pola makan hanya ketika, mau nikah, udah sakit parah, udah mau mati. Intinya ketika udah kepepet baru mau berubah. Begitu kata Bang @rizalnutritionist, lewat akun Instagramnya.


Itu baru dari pola makan. Belum yang lain, seperti menjaga kebersihan atau melakukan Germas seperti yang sudah dicanangkan pemerintah sejak lama. "Herannya, hal tersebut kan manfaatnya yang dapet dirinya sendiri. Tapi kok yah susah banget, kayak berasa berat ngejalaninnya gitu."

Mereka lebih senang mengikuti egonya, seolah punya prinsip sendiri, alih alih rasa malas. Selain karena faktor kehidupan serba instan seperti sekarang ini. Dimana - mana serba praktis, mo nyewa ART 10 orang pun santuy, ada perawat, dokter pribadi, dipersilahken, asalkan punya duit. Nah ini, jangankan duit, kerjaan gak punya, gaya selangit hasil nodong Ortu, diminta jaga kesehatannya sendiri aja gak mau. Yang ujung-ujungnya siapalagi yang bakal direpotin, kalo gak Ortunya sendiri. Kecuali mereka yang mungkinlah supersibuk, gak sempet lagi atau bahkan lupa menjaga kesehatan dirinya karena kelelahan menjaga kesehatan orang - orang disekitarnya, adaaa.

Atau karena terbatasnya fasilitas dan keuangan yang tidak memadai, bisa makan saja sudah bersyukur luar biasa. Tapi tak jarang kok, justru mereka - mereka yang seperti ini malah lebih telaten dalam urusan hidup sehat dan menjaga kebersihan. Walau fasilitas kurang, seperti tidak adanya pasokan air karena hanya mengonsumsi air dari sumur atau sungai yang kadang mengering di musim kemarau. Atau tinggal di rumah gubuk yang notabene cepat rusak dan tidak awet, tidak seperti bangunan rumah gedong.

Karena ketidakmampuan dan ketidakpunyaan yang dibalut rasa syukur itulah, yang justru mendorong mereka untuk menjadi kreatif dan semakin menjauh dari rasa malas serta lebih menghargai diri sendiri.

Kesehatan itu adalah Mahkota yang bersemayam di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit - Dr. Aidh Al-Qarni

Jumat kemarin disini, telah diumumkan bahwa 1 orang positif. Lalu kemudian bertambah yang ke 2. Dan dari bisik - bisik tetangga (seorang perawat yang tidak saya kenal) di sebuah warung sayur, ternyata sudah ada 4 yang meninggal tapi tidak diumumkan, demi menjaga ketenangan lokal dari kepanikan berjamaah, mungkin.

Tak lupa, dengan kesigapan emak2ser dalam membagikan info - info dan video yang lumayan mengguncang, khususnya budaya santuy nya warga Italia hingga menjadi yang terparah. Barulah terasa senyap, tak ada yang berlalu lalang. Tak ada bapak-bapak yang ngerumpi di depan masjid, tak ada anak-anak yang berkeliaran karena lepas dari pengawasan Ortu. Meskipun masih saja ada yang berusaha mengajak anak - anak mengaji di Masjid. Mungkin, itulah saat yang tepat untuk sharing - sharing atau bahkan berita hoax yang menurut saya mengerikan, perlu dibagikan.

Karena harus menunggu ada yang mati dulu, baru hati tergerak. Padahal pengisolasian diri sudah berjalan 2 minggu disini. Dan sekarang, diperpanjang lagi menjadi 5 minggu, mengingat situasi dan kondisi yang belum kunjung membaik.

Note :
Kata Santuy dipopulerkan oleh Youtuber bernama Qorygore, yang bermakna Santai. Walaupun tak terdaftar dalam KBBI, akan tetapi kata santuy sering digunakan oleh kebanyakan anak anak gaul untuk menggantikan kata santai.  Santuy juga bisa dimaknai sebagai pengantar kata untuk bebas, dimana bebas untuk melakukan sesuatu tanpa adanya ketegangan dan juga kekangan dari siapapun sehingga hidup dengan pembawaan yang santai dan lepas dari semua kepenatan yang ada layaknya seperti hidup di pantai yang tenang dan nikmat. astor.id

You May Also Like

0 Comments