Kenali 7 hal tentang Lelaki sebelum Menikah

by - 08 Maret

Kenali 7 Hal tentang Lelaki sebelum Menikah

"Ternyata dia berubah, dulu dia so sweet banget, perhatian dan gak pelit. Mau berkorban apa aja buat Gue. Padahal dulu Gue gak terlalu suka-suka amat ke Dia. Malah sebenernya gak cinta. Tapi karena sikapnya yang lembut dan gak gampang menyerah, akhirnya Gue mau-mau aja diajak ke pelaminan meskipun dia gak punya apa-apa."

Hayooo... siapa pernah merasakan perasaan seperti ini? atau malah sedang mengalaminya sekarang? 

Ada beberapa emak-emak yang bercerita tentang penyesalan terdalamnya ke saya (banyak juga sih sebenere). Yang kisah cintanya berawal seperti curhatan di atas. Namun setelah sekian lama menjalani pernikahan, ada yang baru ketauan bohongnya dan ada yang baru ketauan ternyata mereka berbeda prinsip. Bahkan ada juga yang sering bentrok karena ternyata mereka tidak satu visi dan misi, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. 

Dan sayangnya, meski di luar terkesan baik-baik saja, namun tidak dengan otak dan hatinya. Karena bisa saja mereka sedang "lupa". Lupa untuk mencoba memahami dan melihat dari sudut pandang pasangan. Alih-alih ingin membahagiakan, yang terjadi justru dia malah mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri. Hingga akhirnya down. Saking lelahnya memberi banyak hal yang sama seperti yang dia inginkan dari pasangan tapi tidak mendapatkan feedback sesuai harapan, atas semua usaha dan hal baik yang sudah ia lakukan. Karena pada kenyataannya, apa yang dibutuhkan pasangan ternyata berbeda. 

Apa yang sebenarnya dibutuhkan laki-laki, belum tentu merupakan kebutuhan paling utama bagi perempuan dan begitu juga sebaliknya. Sehingga  membuat sebuah "pengorbanan yang dilakukan demi cinta" (meskipun kadarnya sangat besar menurut versi diri kita) ternyata tidak terlalu penting di mata pasangan. Alhasil, kita jadi merasa seolah tidak dianggap. 😅

Nah, buat cewek-cewek dan juga cowok-cowok yang sekiranya mau mempersiapkan diri naek ke level lebih tinggi, dari single menuju double. Sebelum menyesal dan berhenti di tengah jalan, "bahkan loncat ke laut" (memilih berpaling ke yang lain atau berpisah) alias kecewa, karena sudah berpikir memilih pasangan berdasarkan tebak-tebak buah manggis ato malah seperti membeli kucing dalam karung akibat merasa sendirian. Di saat kapalnya (pernikahannya) mulai oleng dan mau tenggelam (mbok yah kalo bisa, dipikirkan duluuh...)😩😅.

Maklum kalo udah terlanjur cinta, batas antara fantasi dan logika itu jadi rada ngeblur. Begitu saling mendekat dalam naungan pernikahan, semuanya akan jadi terlihat tajam dan jelas, entah itu hal yang baik atau buruk di mata pasangan. Emang baiknya kita juga mengupgrade diri dulu yak, agar nantinya tidak ikut saling mengecewakan pasangan. 

Selain itu, hal penting lain yang harus kita lakukan adalah menggali informasi yang akurat, tentang siapa sih sebenernya orang yang akan bersama kita mengarungi lautan pernikahan. 

Nah biasanya, kalo udah mau menjelang hari raya kayak gini, dari jauh-jauh hari (yang lagi pada jomblo nih, khususnya cewek-cewek) pasti udah ada niat atau malah nyiapin target khusus, semacam diet ato nabung misalnya. Biar ntar lebaran bisa tampil lebih eksis. Demi apa? Kebanyakan sih, ya demi menggaet pujaan hati (buat yang lagi nyari) ato malah pengen segera dilamar? yekan. 🤭

Tapi disini saya gak lagi ngasih tips diet sih, soalnya saya juga sedang berjuang 😅😂, kalo pengen tau diet yang benar dan sehat, dan juga berhasil, tips terlengkapnya bisa diliat disini, yak. 😂

Berdasarkan pengetahuan dan pendapat saya sebagai seorang perempuan (yaah, sekedar untuk berbagi). Inilah 7 hal yang harus dikenali dari seorang lelaki atau calon suami sebelum memutuskan menikah (Of course, sangat bisa banget dijadikan acuan dan sumber informasi penting untuk para cowok-cowok juga, yah). 🤭

Warning : Jika ingin tahu lebih dalam dan lebih jelas, silahkan berkonsultasi ke Tenaga profesional/Ahli atau Konsultan Pernikahan yak, 😅😂 .


1. Lingkungan

Ketahui orang-orang yang ada disekelilingnya, bagaimana pergaulannya (yang sebenarnya yak) bukan hanya yang nampak atau yang terlihat oleh mata kita saja, tapi semuanya. Apakah masuk dalam kriteria lelaki idamanmu atau tidak, serta kebiasaan-kebiasaannya yang mungkin bisa di tolerir atau bahkan tidak sama sekali. Banyak-banyaklah melihat melalui mata orang lain.

Karena dalam Hadist juga telah disebutkan :
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


2. Keluarga

Perhatikan bagaimana hubungannya dengan Orangtua, baik itu dengan Ayah, Ibu dan Saudara-saudaranya. Yang paling penting, bagaimana komunikasi diantara mereka, terutama interaksi antara Ayah dan Ibunya. Karena biasanya, kebiasaan mereka saling memperlakukan satu sama lain akan menurun, terjiplak ke alam bawah sadar anaknya, entah itu baik ataupun buruk. Mau tidak mau, karena anak adalah "Peniru yang ulung".

Banyak juga (Si Anak) yang menyadari hal tersebut (yang buruk) menurun ke dirinya, meskipun sering mencoba mengendalikan diri, namun self control kadang terabaikan ketika sedang berada di titik terendah (namanya manusia, yak). Tapi, jika kamu bisa menerima kekurangannya (masih dalam kategori wajar dan manusiawi) its okey, gak masalah sama sekali. Yang paling penting kamu bisa merespon tindakan-tindakan buruknya dengan cara yang tepat, agar kedua pihak bisa mendapatkan win win solution.


3. Pendidikan

Pendidikan sangat berpengaruh dalam cara berpikir. Seorang pemimpin dalam rumah tangga haruslah bisa menjadi seorang teladan yang baik bagi istri dan juga anak-anaknya. Untuk bisa memberi contoh yang baik, dibutuhkan ilmu dan pemahaman agar mampu mendapatkan kepercayaan. Selain bisa menyikapi masalah dengan lebih bijak, menjalani hidup berkeluarga akan jauh lebih teratur dan lebih terarah.

Dengan ilmu, kita tidak mudah goyah, kendatipun saat melewati benturan-benturan ketika diterpa badai masalah. Condong untuk berpikir positif, karena sudah memiliki bekal "Pendidikan Berkeluarga" yang cukup. Perbedaan kualitasnya sangat besar, jika hanya dijalani dengan cara "mengalir aja" atau dijalani aja".

Dan jangan lupa, ini juga berlaku untuk diri sendiri, yak. 😂


4. Keuangan

Seorang lelaki yang bisa mengatur keuangan itu, diharapkan bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Yang mana yang dibutuhkan saat itu dan yang mana yang masih bisa ditunda. Dan tonggaknya adalah keterbukaan.

Pernah baca, "Kesetiaan wanita diuji saat lelaki tidak punya apa-apa, tapi kesetiaan lelaki diuji saat dia memiliki segalanya." ?

Walopun itu tidak bisa di sama ratakan untuk setiap orang, namun sebagai selfreminder, hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena banyak sekali contoh kasus serupa yang terjadi disekitar saya. Si Lelaki karena merasa berkecukupan dan memiliki banyak kesempatan, menganggap enteng hubungan dengan mencari wanita lain. Sedangkan Si Perempuan, karena mungkin tidak tahan atau tidak sanggup lagi menjalani hidup serba kekurangan, akhirnya memutuskan untuk berpisah. Lebih memilih untuk mandiri dan sendiri, karena kurangnya empati dan perhatian dari pasangan termasuk dalam urusan finansial. Yang kesemuanya adalah nafkah lahir dan bathin yang tidak diberikan pasangan, padahal Si Lelaki memiliki kemampuan tapi tidak dalam hal kepekaan.


Jadi, lebih baik sengsara di awal tapi "happy ending" (membekali diri dengan ilmu sebanyak-sebanyaknya sebelum memutuskan untuk melangkah lebih lanjut, yaitu pernikahan) daripada bahagia hanya diawal, merasakan masa-masa indah hanya ketika baru jadi pengantin baru. Lantas kemudian, kehidupan pernikahan berubah menjadi keruh bahkan membelenggu, jika malas mengupgrade diri.

Cinta itu buta. Kalo tidak buta, berarti kamu gak cinta dong? Ah, Kata siapa? Seorang buta masih bisa menggunakan tongkat sebagai penunjuk arah dan telinga untuk mendengar. Apalagi ini hanya buta sesaat. Setelah sekian lama menikah, perhatian atau kepercayaan itu biasanya akan banyak berkurang kadarnya, akal dan pikiran akan mulai kembali menghampiri ambang logika.


5. Masa Lalu

Dari beberapa contoh kasus yang pernah saya dengar, ada juga lelaki yang kedapatan tidak jujur tentang masa lalunya. Yah, takut ditolak atau takut diputusin, mungkin? Masa lalunya itu bakal berefek ke masa depan pernikahannya karena tidak adanya keterbukaan dari awal, dan dipastikan tidak akan ada ketenangan dalam pernikahan, kecuali kita memang berusaha menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Dan siapa lagi yang harus mengorbankan perasaan, jika bukan dari pihak perempuan. Apalagi ini seperti kasus salah seorang teman saya, yang suaminya masih dikejar-kejar mantan pacar, hingga akhirnya tergoda lagi sampe punya anak dan kemudian menikah siri. Yang parahnya lagi si mantan yang sudah dinikahi ini, berapa kali menyambangi rumah teman saya untuk mencari suaminya. Berapa kali gontok-gontokan dan harus dilerai oleh Bu RT. Belum lagi bully-annya di Sosmed terhadap teman saya inih, karena salah satu anaknya adalah ABK (akun suaminya dibajak Si mantan). 

Ada juga kasus lain, dimana si mantan istri selalu berusaha menemui mantan suaminya yang baru saja menikah lagi, si istri baru (teman saya) sebelumnya tidak tau kalo suaminya ini seorang duda yang sudah dua kali menikah dan punya anak. Keluarga dari pihak suami pun tak ada yang mau buka mulut, semua informasinya didapat dari tetangga sekitar dan keluarga jauh. Belum lagi pandangan buruk dari tetangga (sahabat-sahabatnya si mantan istri) yang menganggap si istri baru ini seperti layaknya seorang pelakor.


6. Kesehatan

Demi untuk menghindari kemungkinan terburuk, kita juga harus memperhatikan sejauh mana kesehatan pasangan kita. Kadang, ada yang karena emang sudah cinta mati, yah nerimo.

Asalkan kamu paham dengan konsekuensinya, yah tidak mengapa, yang penting semuanya sudah dipertimbangkan dengan baik dan matang.

Namun, apakah hal tersebut akan berpengaruh kepada keturunan anak cucu kita? atau tidak? atau Bagaimanakah pendapat Orangtuamu? Apakah kamu bersedia selalu mengurus pasanganmu disaat sakit? Apakah kamu sudah mempersiapkan mental yang kuat untuk menjalani hidup seperti itu? 

(Lain halnya jika itu terjadi setelah menikah, yak.)

Coba berpikir dengan logika dan belajar dari orang-orang lama. Atau mungkin, untuk mencoba melihat langsung dari orang-orang yang memiliki kehidupan pernikahan seperti itu. 

Karena cinta itu, tidak hanya sebatas keinginan untuk bersama, tapi juga untuk kebaikan bersama.


7. Cara Berkomunikasi dengan Lawan Jenis

Point ketujuh ini sebenarnya masih berhubungan dengan point kesatu, dimana lingkungan sangat menggambarkan bagaimana cara pasangan berkomunikasi.

Ada beberapa lelaki yang pernah saya kenal, baik itu yang sudah menikah ataupun belum, kadang lain di depan lain di belakang. Maksudnya, jaim hanya ketika di depan pasangan, tapi ketika tidak berada di lingkaran pertemanan pasangan, tidak segan ngobrol tentang hal-hal yang intim atau bahkan tidak pantas dibicarakan dengan wanita lain. Seperti hal-hal yang bisa memicu ketidaksetiaan si lelaki terhadap pasangannya. Apalagi jika hal tersebut sering terjadi setelah berumah tangga. (Memang tidak semua lelaki, tapi ada yg seperti itu dan gak cuma satu).

Nah, apakah hal itu sudah merupakan wataknya dari lahir atau malah kebiasaan yang sulit untuk diubah? ataukah kamu malah menganggapnya biasa saja dan memakluminya? Kita kembali ke point Keluarga dan juga point Lingkungan. 😁


Komunikasikan dengan cara Open Minded

Jika kamu tidak bisa atau belum menemukan beberapa point diatas pada pasangan kalian, maka bicara adalah jalan terbaik. Misalnya, dengan mengkompromikan untuk belajar bersama-bersama mengenai kehidupan pernikahan dan persiapan menjadi Orangtua. 

Kendatipun masa lalunya dirasa tidak bermanfaat untuk masa depan pernikahan. Namun mendapatkan feedback yang baik ketika di komunikasikan, akan membuat pasangan mau menerima semua kekurangan kita juga, karena merasa dihargai dan dipercayai. Apalagi, jika orang yang nanti akan menjadi teman hidup kita  adalah seseorang yang Berpikiran Terbuka (open minded) dan Memahami "Cara Berkomunikasi yang Efektif" terhadap Pasangan.


Sebenernya masih ada point-point lain yang pengen saya tuangkan disini, tapi kayaknya segini dulu deh, ntar mungkin ada part dua nya, InsyaAllah.. 😅


Okey.. "Berbahagialah dalam kesendirianmu dan mulailah mencintai dirimu, lalu Dia akan mulai mengikutimu."

"Selamat Hari Perempuan Sedunia" 😊

You May Also Like

16 Comments

  1. aih setuju banget..emang berpengaruh terutama keluarga, lingkungan–krn bs ngeliat karakter aslinya gmn, cara dia menghormati ibunya bs jd tolak ukur bagaimana dia akan memperlakukan istrinya kelak

    BalasHapus
  2. Jujur saya dulu menikah sama suami sama sekali nggak melihat dari semua itu, dasar yak, hahaha
    Dibilang bucin enggak juga, mungkin karena dulu hal-hal seperti ini nggak semudah sekarang berkembangnya.
    Dan sekarang setelah 10 tahun menikah, saya hanya akan menyimpulkan, bahwa…
    Menikahlah dengan lelaki yang tak akan pernah menyerah.
    Manusia tempatnya salah, akan tetapi..
    Jika dia tidak pernah menyerah, insha Allah semua akan baik-baik saja 🙂

    BalasHapus
  3. Sepertinya, menyerah ini masuk ke point pendidikan mba 😊

    Emang ada tuh mba, laki2 yg ilmunya kurang, eh gengsinya selangit. Sayangnya, abis ituh dpt nasehat atau peringatan dari org laen justru di waktu yang salah pulak, yg sampe bikin dia ngerasa udah gak dipercaya lagi bahwa sebenernya dia memiliki kemampuan (emang udah kodratnya utk merasa ingin dipercayai). Egonya pun terpancing, ya sepaket jadinya 😂. Pada akhirnya, semua masukan dari org lain jadi ga ada yang mempan, yg ada malah tersinggung, merasa gak dihargain, gak berguna dan akhirnya nyerah. Pdhal jika saja dia mau open minded dan menurunkan egonya sedikit, kata2 nyerah itu gak bkal ada, hidup yg dijalaninya tidak akan seberat itu, jika punya ilmunya.
    Dan ditambah lagi perjalanan hidup juga timpang jika hanya pihak perempuan aja yg berusaha mengerti (sabar itu buahnya emg manis bgt :D). Sabar jg merupakan feedback yg menyibukkan pasangan agar tidak ingat utk menyerah. Karena itu "berdua emg lebih baik" belajarnya, sama2
    (Kdg kita dulu yg musti ngalah, karena kita lebih dulu tau ilmunya, Berat ya jd perempuan itu :).)

    Dan lagi, sepertinya kebiasaan "gampang" menyerah ini bisa jadi berawal dari keluarga, lingkungan pertemanan, kurangnya motivasi dan trauma yg terjadi berulang kali karena tidak mau belajar dan mengoreksi diri dari kesalahan masa lalu. Dan lagi2, ego yg dikedepankan.

    Kalo dulu emg berat, teknologi informasi gak kyk skrg. Dulu mah susah, internet ada tp info blum bnyk, yg ada tante, uwak, nenek, ortu, apalagi jika kurang dekat dgn anak, malah malu sm anak kalo curhat kyk begini, takut anak kepikiranlah, masih tabuh lah, bukan urusan anak lah, macem2.. 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget ngeeett Mba!
      Di mulai dari kebiasaan keluarga yang membiarkan anak bebas memutuskan tanpa adanya bimbingan tuh.

      Kadang kalimat positif malah jadi negatif.
      Misal, yang penting kan usaha, kalau nggak berhasil setidaknya udah usaha.
      Padahal usaha yang dilakukan salah, lah sama aja dong belum usaha.

      Mirisnya lagi, udah salah ngotot pula hahaha.

      Jadilah menyerah setelah menyalahkan orang.

      Dan sebalnya lagi, kadang wanita sendiri loh yang bilangin "sabar aja", istri kudu ngalah, ngalah sendiri? lama-lama gila hahahaha

      Hapus
  4. Nah, itu bener bgt mba. 😂

    BalasHapus
  5. dan dari itu semua, sblm menikah emang harus ada kejujuran dan keterbukaan satu sama lain. jangan ada yang ditutupin biar sama sama enak

    BalasHapus
  6. Waduh, sepertinya ini cocok sekali buatku.

    1. Lingkungan, rasanya orang kuper seperti aku ini ngga ada yang bisa diandalkan

    2. Keluarga, keluarga saya ngga ada yang spesial, biasa saja bukan seperti keluarga abu Rizal Bakrie atau Harry Tanoe.😂

    3. Pendidikan, ampun ini titik lemah saya karena tidak punya ijazah yang bisa dibanggakan, cuma selembar saja, kalo lamar kerja di pabrik auto ditolak kecuali ada uang segepok.😂

    4. Keuangan, Alhamdulillah kalo masalah uang sih banyak, tinggal ambil di bank saja, tapi nunggu mbak Rini kasih pin ATM nya dulu.🤣

    Eh, tapi jangan bank Toyib ya mbak.😂

    5. Masa lalu, ah sudahlah masa lalu ngga usah dibicarakan disini, ngga enak sama mantan.🤭

    6. Kesehatan, Alhamdulillah badan selalu sehat sih, olah raga masih kuat jalan 10-15 km, dengan catatan naik motor.😂
    Paling yang sakit kantongnya saja, apalagi pas tanggal tua seperti sekarang.😭

    7. No komen.😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada apa dengan yang No. 7 inih ya 🤔😮

      Hapus
    2. Ah, tidak ada apa-apa kok, beneran.

      (Sebenarnya sudah lupa kenapa komen gitu no 7 😂)

      Hapus
  7. terima kasih banyak buat tips-tipnya kak! ini berguna banget sih buat aku yang belum menikah. baca pengalaman-pengalaman orang yang udah menikah jadi membuat aku lebih terbuka lagi pikirannya akan sebuah pernikahan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Dek Lia, sama-sama... 😁

      Jadi gimana? kapan nikah? *eh (ratjoen banget pertanyaannya yah) hihihi..😅

      Hapus
    2. Apa itu yang kakak tulis? Kok kalimatnya ke sensor sih?
      *pura2 nggak kebaca*
      *kabor*

      Hapus
  8. Terus terang.. saya nggak mikir banyak sebelum nikah. Sampai lupa adiknya ada 6 dan saudaranya banyak... bucin.. wkwkwkwk

    Jujur saja mbak, saya pikir setelah menjalani pernikahan hampir 20 tahun, yang terpenting itu bukan tentang teori "membahagiakan pasangan" atau "membahagiakan diri sendiri". Kalau teori yang satu akhirnya akan mengorbankan diri sendiri, teori 2 mengorbankan pasangan.

    Kalau saya lebih suka "memakai konsep" menjalani bersama. Sisi pandang bahwa istri atau suami adalah "teman hidup" dan saya menerjemahkannya secara harfiah saja. Istri saya ya teman pilihan saya untuk menghabiskan hidup, mencari kebahagiaan bersama.

    Juga kalau dipikir-pikir lagi, zaman sekarang, terlalu banyak teori bertebaran soal pernikahan. Harus begini lah begitu lah. Jadi kesannya menakutkan dan teoretis banget. Tidak jarang bikin kepala gede karena merasa sudah tahu teorinya lalu berpikir bahwa pernikahannya pasti sukses.

    kenyataannya , ya nggak. Menikah itu butuh kemauan belajar yang tinggi, kalau tidak maka sulit kita mengerti pasangan. Barulah setelah itu terbentuk sebuah tim yang bisa bekerja dan berjalan bersama. Itupun nggak berarti bisa berhenti belajar karena manusia itu berubah..

    Aku lebih suka memandang bahwa tidak ada persiapan terbaik dalam menghadapi pernikahan, selain kesiapan untuk belajar menjalani sebuah kehidupan baru.

    Itu yang aku sampaikan kepada putra kesayangan kami sekarang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mas, Setuju 😁

      Seremeh apapun teorinya, yang dibutuhkan paling pertama adalah kemauan dan lalu kemudian belajar memaklumi. Karena setiap terjadi perubahan maka setiap itu pula kita harus bersiap belajar memandang hal baru, dari segala sudut pandang. Manusia itu bukan mahluk sempurna, gak akan selalu memberi terkadang dia juga butuh diberi, ada naik turunnya, kadang kuat kadang lemah, kadang sedih kadang gembira. Belajar sensitif dan lebih peka dengan ritme kondisi dan keadaan pasangan. Insyaallah, yang kita lakukan itu akan memantul kembali ke diri kita.

      Hapus
  9. Waah nomor 5 Nih...🙄😲😲

    Kalau masa lalunya banyak pacar itu gimana mbak Rin...😲😲

    Malah terkadang mantan suka telpon2 ..😲😲 Terus kudu pie mbak Rin..?

    PENDIDIKAN : Nganggur mbak Rin...Terkadang dirumah tidur, Makan, Berak, Tidur lagi..🤣🤣🤣 Kudu pie akunya mbak Rin.😭😭

    BalasHapus