Bukan Jarak yang Salah

by - 07 April


Patut dipertanyakan, jika pasangan terpisah jarak dan hubungannya terlihat baik-baik saja, apalagi ternyata hubungannya malah semakin memburuk. Harus di cari tau, itu yak.

Dari hasil pengalaman mendengar (sisanya menguping πŸ˜‚). Ada beberapa kisah dari sudut pandang perempuan, tentang jarak yang membuat mereka malah berakhir jadi nelangsa. 

Eh tapi, jangan mentang-mentang abis baca ini langsung minta cerai atau putus, yak. Bukan bermaksud manas-manasin sih, cuma sekedar menghasut πŸ˜‚ (sama aja itu, mah). Hanya saja, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan. Meskipun sedikit, semoga bisa diambil hikmahnya. 😊

Di suatu pagi, ada seorang wanita menangis tersedu-sedu, sambil sesekali terdiam. Dia berkata, baru sebulan melahirkan anaknya yang keempat, anak pertamanya pun masih kecil. Berulang-ulang dia mempertanyakan kenapa suaminya tega menikah lagi diam-diam, dengan airmata yang tak henti terurai. Bagaimana kehidupan mereka sehari-hari? Ternyata, sang suami bekerja di luar kota dan pulang hanya sebulan sekali.

Lalu ada lagi, seorang wanita yang berkali-kali dikhianati akhirnya memutuskan untuk bercerai, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi kelakuan suaminya selama bertahun-tahun. Semuanya berawal karena sang suami sering pindah tugas keluar kota. Walopun mereka bertemu seminggu sekali, tapi itu kurang cukup untuk membuat suaminya kekeuh untuk tidak terus mencari wanita lain.

Tidak perlu harus sampai keluar kota, Jika seorang suami tidak pulang berhari-hari dikarenakan pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggal, seperti sebuah proyek atau sejenisnya. Jangan dibiarin aja (waspada dounk harusnya). Seperti nasib salah seorang temen saya yang sering upload-upload foto mesra bareng suami, saking positive thinkingnya. Eh taunya, si suami gak pulang berhari-hari, ternyata karena sering menginap di rumah sang mantan. Ckckck..

"Rindu mungkin terjadi karena jarak. Tapi rindu itu, hanya untuk mereka yang setia."

Terus terus, ada lagi temen saya. Pacarnya itu seorang abdi negara, yang harus bertugas beberapa tahun diluar kota. Sempet gak ngasih kabar, eh taunya ngirim sms minta putus, karena dia mau nikah sama orang laen. Lah, mending sekalian aja gak usah ngomong-ngomong atau setidaknya minta putus ajalah karena jarak, gak usah pake embel-embel karena mo nikah sama orang laen. Lah wong tempatnya aja di luar kota. Mo kawin ato gak juga, ya mana tau.

Nah, yang ini beda sudut pandang. Karena cerita ini berasal dari temen saya (cowok) pas kuliah, dia punya temen cowok yang juga adalah temen saya. Ceritanya kami lagi meng-gibhahin si temen kami itu (sebut saja Si Boy) dibawah pohon rindang, pagi-pagi di depan kampus. Mirip species-species tukang gosip ala anak kampus, yak. πŸ˜‚

Tujuan kami sih sebenernya baik, karena Si Boy ini, anaknya lumayan populer dan juga aktif di kegiatan kampus, suaranya enak banget (seorang vokalis), pinter dan ganteng pula. Dia orangnya baik, dan cara berinteraksinya dengan orang lain terlihat dewasa, untuk orang yang hanya beda setaon diatas saya.

Kami mendiskusikan sesuatu yang terbilang hot di seputar kampus pada saat itu, demi kebaikan cewek-cewek yang sangat over ngefans sama Si Boy ini, atau mungkin malah temen saya ini yang rada sirik, karena banyak cewek yang lebih memilih Si Boy daripada dia. Mungkin.. πŸ˜…

Si Boy ini, ternyata udah punya anak-istri di kampung (menikah muda), tapi suka tebar pesona kemana-mana dan merahasiakan latar belakangnya. Sepertinya, temen saya gak sengaja denger dari Si Boy sendiri. Yang jelas temen saya ini orangnya menghargai privasi orang lain, tapi mungkin kelakuan Si Boy telah mengusik hati nuraninya. Gak tega ngeliat cewek-cewek cantik di kampus patah hati, padahal masih banyak pria-pria yang sedang menanti, (termasuk dia kayaknya)πŸ˜‚ dan diharapkan cewek-cewek untuk berhati-hati, jangan sampai salah pilih. πŸ˜‚

Nah satu lagi, cerita dari bapak-bapak muda, juga seorang abdi negara, baru menikah tapi tiba-tiba harus pindah tugas ke kota terpencil, disana dia menikah lagi dan punya anak. Setelah dia kembali pindah tugas kesini secara permanen, Istri dan anaknya yang masih kecil disana ditinggalkan begitu saja dan kembali ke istrinya yang disini.

Sungguhlah mendengar kisah-kisah mereka, bener-bener membuat naluri pembela kebenaran dan keadilan dalam diri saya bangkit (jadi inget Ninja Hattori)πŸ˜‚. Pengennya angkat senjata, tapi berat πŸ˜‚. Pake mulut, orangnya udah dimana, saya dimana. Dengan keyboard, entah apakah para pelaku bisa tersentil? Who Knows.. emang lebih baik calon korban juga yang harus waspada duluan, yak.

Tapiii, gak semua kisah LDR atau LDM seperti itu tentunya, yak. Karena emang begitulah hidup, yang adem ayem bahkan tak terdengar kisahnya, karena tidak ada yang dipermasalahkan. Justru mereka yang bermasalah, jika ketauan maka akan terkuak dan semakin terekspos, karena terdengar lebih menarik dan secara alamiah menjadi pusat perhatian, sehingga membuat seolah hubungan yang berjarak akan selalu berakibat negatif.

Padahal jika ditilik lebih dekat, banyak juga yang rela berkorban, meninggalkan keluarga besar ikut bersama pasangan ke negeri asalnya. Rela berjauhan dari Orangtua dan pindah ke kota lain, agar bisa tetap bersama dengan pasangan. Atau seperti Ortu teman saya yang berpisah (tidak bercerai) sejak teman saya SMA, ibunya bekerja di luar negeri dan membawa serta kakaknya, sedangkan ayahnya disini bersama teman saya dan adiknya, begitu teman saya ini menikah, ibunya memutuskan untuk kembali kesini dan melepas semua kariernya.

"Bukan jarak yang salah, tapi manusianya yang tidak setia. Titik." 

(Bikin peribahasa tapi kok ngegas πŸ˜‚) 

You May Also Like

2 Comments

  1. Ah iya ya, jarak nggak oernag salah. Emang kitanya aja yang mili mau berajarak apa enggak. Kalau baca kisah temen-temennya mbak di atas jadi rada ngeri juga, soalnya saya juga LDR. Berdoa aja deh, semoga Allah jaga hati kami di antara jarak ini😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba 😁. Yang penting setia dan tegas dalam berkomitmen.

      Semoga selalu langgeng ya, Mba. 😊

      Hapus