Istri Gemuk, Suami Wajib tau Penyebabnya!

by - 12 April


"Kita mungkin dirumah terus, tapi ternyata duit gak mau ikut diem di rumah. Malah keluar terus." (Entah siapa yang bilang itu di Instagram kemaren, lupa saya).😂

Kita bisa berhemat untuk urusan transport, anak-anak gak minta jajan, stop jalan-jalan bahkan stop laper mata di mall sewaktu weekend. Tapi, sekalinya ngendon di rumah, eh jadinya malah pengen ngemil terus, yekan.

Kegiatan masak-memasak di rumah pun belum tentu juga bisa berhemat. Kadang, bahannya juga gak bisa dibeli sedikit ato malah bersisa banyak tapi hampir gak pernah dipake, jadi rusak, layu sampe kadaluarsa. Sedangkan kalo yang mateng masih bisa dibeli dengan porsi sedikit dan juga bermacam-macam, tanpa harus menghidangkan masakan rumah yang itu lagi, itu lagi. Lalu kemudian makanan yang udah gak 'fresh from the oven" itu pun terlupakan.

Yang begitu itu pasti bikin bosen dan ujung-ujungnya jadi males makan. Dipastikan, bakal tambah pusinglah emaknya (pengen irit malah jadi pailit)😂. Belum lagi biaya untuk menjaga imunitas yang perlu dioptimalkan seperti sekarang ini, alat kebersihan dan alat kesehatan termasuk obat-obatan yang harus di stok di luar kebiasaan, (karena orang-orang di rumah, semuanya lagi pada ngedrop) bikin keuangan membengkak, sebengkak-bengkaknya karena terinfeksi harga yang melonjak dengan sangat drastis. 

Demikian uneg-uneg saya, di minggu pagi yang cerah ini.  😂


Sejak diberlakukannya #stayathome, udah berasakah atmosfernya? Udah mulai gak betahkah? Pengen kesini, pengen kesitu? Pengen ngumpul, makan ini, makan itu? Pastinya udah ada yang nyampe level jenuh, suntuk, bosen, setengah bosen, kali yak. Atau, malah biasa aja, bahkan menikmati? Ada?

Jarum timbangan udah geser ke kanan blom? Skill memasaknya pasti udah pada naek level, yak. Buat yang suka film atawa drama, udah mecahin rekor berapa biji nontonnya? Eh, kuota juga. Udah abis berapa giga tuh? (Kok ini kayak nanya diri sendiri, yak). 😅

Salah satu hal penting yang akan saya bahas disini adalah semoga dibukakannya, mata hati mereka-mereka yang tidak tau atau malah tidak peduli tentang segala keruwetan yang ada di dalam pikiran para ibu rumah tangga (yang jarang bersosialisasi dan ibu yang mendedikasikan waktunya selama 24 jam untuk mengurus keluarga). Semoga mereka bisa menyadari bagaimana suntuknya tidak bisa kemana-mana ketika ruang gerak dibatasi, seperti yang terjadi pada setiap orang di masa pandemi seperti sekarang. 

Karena begitulah yang seorang Ibu rasakan, #stayathome bukan dalam hitungan minggu atau bulan saja, tapi tahunan. Berjibaku di dalam rumah, menghadapi segala keruwetan tak berujung, setiap hari dan berulang-ulang. Pengen kemana-mana gak bisa, apalagi mo ngapa-ngapain dikarenakan anak-anak yang masih pada kecil, atau malah karena para abegeh yang belum mandiri meski udah beranjak dewasa. 

Ditambah lagi dengan adanya wabah, bukan hanya keriweuhan saja yang semakin bertambah karena harus mendahulukan seabrek kewajiban. Tapi juga butuh tenaga ekstra untuk menjaga kebersihan, kesehatan keluarga, mengatur pola makan agar semua anggota keluarga bisa tetap sehat dan terjaga nutrisinya. Walaupun keuangan kadang morat-marit, yang paling penting anak-anak tidak menderita kelaparan.

Kendatipun demikian, dengan adanya wabah ini setidaknya ada hikmah yang bisa kita ambil. Beban pikiran seorang Ibu akan menjadi terasa lebih ringan, karena anggota keluarga sudah dengan sendirinya menyadari, dan mulai terbiasa untuk menjaga kebersihan, kesehatan serta pola makan. Tidak lagi harus diingetin terus, sampe harus diomelin berkali-kali, nurut tapi setelah itu males lagi, lupa lagi. Karena kadang anak lebih suka ngedengerin omongan orang lain, ketimbang Orangtuanya sendiri. (Mungkin karena sering diomelin, yak). 😂

Efek samping dari stress dan keruwetan seorang Ibu itu biasanya akan berujung menjadi kegemukan atau overweight hingga obesitas. Karena apa? Yah itu, bisa jadi salah satunya karena kelamaan di rumah, gak bisa kemana-mana jadi bingung mo ngapain lantas jadi mageran, tapi pengen juga melakukan sesuatu biar gak ngerasa jenuh dan cepat bosan meskipun kegiatannya hanya dilakukan di rumah. Karena sayang juga kan, membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Nah, biasanya yang paling gampang itu, yah dengan menyelami apa yang menjadi aktifitasnya sehari-hari. Dari yang paling terdekat saja, misalnya makanan. Makanan dengan mudah bisa diakses, entah dari kulkas atau stok makanan yang ada di lemari. Kalopun gak ada semua, dengan bahan-bahan seadanya dan alat memasak yang tersedia, bukan tidak mungkin seorang ibu jadi semakin kreatif demi sebuah camilan.  Jika udah bener-bener gak ada lagi bahan untuk dimasak (zonk) dan gak bisa keluar untuk belanja, tinggal pesen makanan secara online aja, beres toh. 😂

Tuh kan, ampe dibikin gak ada lagi aral merintang di dunia emak-emak, gegara soal fasilitas permakanan ini, yekan. Blom lagi foto-foto atau resep makanan yang banyak bersliweran di internet. Obsesi tentang makanan pun semakin membara jadinya, yak. 😂

Makan menjadi hal yang membuat ketagihan dan tak jarang seorang Ibu rumah tangga mengabaikan efeknya. Kenapa? karena ternyata bisa menggantikan banyak kebahagiaan yang tidak dia dapatkan setelah menikah. 

Dulu banget, pernah saya bahas sedikit tentang ini, dari bukunya John Gray, P.hD. Bahwa makan merupakan Salah satu pembunuh rasa sakit para Istri.

Sedikit banyak isi bukunya seperti ini :

"Makan merupakan sebuah pengganti yang mudah untuk cinta. Semakin dia banyak makan, untuk sementara waktu dia dapat menekan perasaan-perasaan tidak aman yang menyakitkan yang muncul dari sisi kewanitaannya. Sampai dia menemukan suatu cara untuk memuaskan dan secara langsung memupuk sisi kewanitaannya secara teratur, dia akan terus menggunakan makanan sebagai pembunuh rasa sakit. 

Dengan mematirasakan perasaan-perasaan itu, kemampuannya untuk bercinta diteduhkan, dan menemukan kelegaan. Kecenderungan ini disebut sebuah “Penggantian kebutuhan”. Jika dia tidak dapat memperoleh apa yang betul-betul dibutuhkannya, kebutuhan nyata itu digantikan oleh kebutuhan lain yang tampaknya lebih gampang diperoleh, seperti makanan. Sebelum kehausan akan cinta itu dipuaskan, dia akan terus merasa lapar. Kadang-kadang dia bahkan mampu menipu dirinya sendiri untuk sementara waktu dengan keyakinan bahwa dia cukup bahagia dan tidak perlu berbicara atau berbagi rasa dalam suatu hubungan untuk membangun kebahagiaan bersama pasangan." 

Tidak hanya itu saja, menurut salah seorang Ahli GiziWanita yang menjadi gemuk setelah menikah dan punya anak itu, bukanlah karena keturunan, "Yang turun temurun itu kebiasaan makan dan budaya makan dalam keluarga" (apalagi kalo banyak stok makanan dirumah, tambah semangat itu, yak).😅Hal itu sangat fenomenal, karena terjadi di seluruh dunia dan berulang-ulang pada generasi selanjutnya.

Gemuk setelah melahirkan dan menyusui itu masih wajar menurut saya, yang tidak wajar itu gemuk seumur hidup. Kendatipun sekarang sudah banyak wanita yang berusaha dan keluar dari lingkaran tersebut, dengan menjaga pola makan dan hidup sehat seperti olahraga serta mengelola pikiran agar tidak gampang stress, tapi masih saja ada yang pasrah dan menganggap gemuk itu wajar setelah menikah dan punya anak.

Ada juga yang berusaha untuk kembali ke body asal sebelum menikah atau sekedar mencoba mengurangi lemak di tubuh tapi gagal karena kurangnya dukungan dan motivasi dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada akhirnya dia menyerah, tidak berbuat apa-apa lagi dan berusaha menerima dirinya apa adanya. Padahal, dipastikan banyak penyakit yang akan mengintai dan berdatangan jika hal tersebut dibiarkan begitu saja.

Meskipun banyak juga yang melangsing tanpa memperhatikan pola makan, bisa saja itu terjadi karena kurangnya nutrisi akibat sembarang diet atau karena sakit. Saking banyaknya yang dipikirin atau karena ketidakmampuan dan kurangnya fasilitas untuk memperoleh makanan, IMO.

Beberapa tahun yang lalu, teman saya meninggal dunia. Dia menghembuskan nafas terakhir, setelah melahirkan anak pertamanya. Lalu, beberapa tahun setelahnya, teman kental saya, meninggal dunia akibat pecah pembuluh darah di otak. Lalu kemudian tak lama berselang, saya pun tak sengaja menonton di sebuah acara berita selebriti, bahwa Mike Mohede pun telah berpulang. Lalu kemudian satu-satunya paman saya juga menyusul karena penyakit di usus.

Dan baru saja dua minggu yang lalu, Ibu tetangga depan rumah turut menyusul karena sakit tumor usus, setelah sebulan sebelumnya mbak penjual sayur langganan saya berpulang karena tekanan darah tinggi dan terakhir Ibu tetangga samping rumah yang menderita penyakit komplikasi. Selain itu, masih ada dua tetangga lagi yang sedang sakit parah. (ini yang hanya di lingkungan rumah saja, belum di lingkungan keluarga dan lain-lain).

Kamu tau apa kesamaan mereka? Sama-sama mengalami overweight hingga obesitas.

Menurut John Gray, PhD. Kemudahan, kenyamanan, kelancaran, rasa aman, riang gembira, rekreasi, kenikmatan dan keindahan, semuanya memupuk sisi kewanitaan tetapi diet tidak. Program diet dengan memakan lebih banyak makanan berkadar lemak rendah dan berolahraga jelas merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi berat badan. Namun pemecahan paling efektif adalah hubungan yang lebih membangun kebahagiaan dan gaya hidup yang lebih santai dan tidak banyak beban.

Karena itu, "Untuk mendukung seorang wanita, pria harus memahami bahwa, jauh didalam lubuk hati, wanita ingin beristirahat, merasa lega dan menyerahkan kepada seseorang yang dipercayainya untuk mengasuh dan mendukungnya. Inilah kebutuhan batiniah sejati sisi kewanitaan."  - John Gray, PhD.

Tulisan isi saya buat karena merasa sangat prihatin dengan keadaan ini, mengingat mayoritas ibu-ibu disini mengalami hal seperti itu (saya termasuk gak yah, hmm..)🤔😂.

Dan juga, karena merasa tertohok (tersentil tepatnya 😂) dengan kalimat ini :


"Siapa yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka dia tidak bisa mengendalikan pikirannya." – Ali bin Abi Thalib


Yang berarti makan berlebihan itu, adalah salah satu ciri bahwa saya tidak bisa mengendalikan diri.  Ckckck.. 😅

You May Also Like

21 Comments

  1. Soal istri gemuk, saya heran kenapa harus dipersoalkan dan dijadikan masalah baik bagi kalangan cewek atau cowok. Bagi saya sih, gemuk atau kurus bukanlah sebuah masalah besar. Yang penting "sehat". Ada banyak hal yang lebih perlu perhatian daripada mikirin soal kegendutan.

    Saya bisa berkata begitu karena istri saya termasuk gemuk. Bukan karena sering makan atau banyak makan, tetapi karena faktor keturunan. Soal makan, saya menyaksikan sendiri selama 19 tahun kalau dia makannya itu sedikit. Cuma, keluarganya memang terlihat semua anak ceweknya gemuk, tetapi anak cowoknya kurus. Ada faktor keturunan.

    Gemuk tidak selalu artinya dia banyak makan, meski biasanya begitu, tetapi ada juga karena keturunan.

    Memang hal itu menjadi kesebalan sendiri bagi istri saya, tetapi saya bilang, kenapa harus pusing. Saya suamimu saja tidak mempermasalahkan dan tetap sayang sama dia, lalu kenapa harus repot.

    Saya lebih suka dia sehat daripada dia diet, menyiksa diri, dan pada akhirnya beresiko turunnya kesehatan dirinya. Kalau gitu lebih repot lagi karena kami bergantung padanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan ke postingan saya yang berjudul Akibat Sembarang Diet dan Salah satu pembunuh rasa sakit para Istri , Mas. Ada beberapa referensi yang bisa dijadikan sebagai tambahan informasi. Monggo... 😊

      Hapus
  2. Saya gemuk saat hamil dan pasca melahirkan, begitu terus 3 kali..Setelahnya beratnya segini-segini aja, proporsional..Saya setuju, intinya bisa mengendalikan hawa nafsu dan itu semua tergantung pada diri kita sendiri

    BalasHapus
  3. Seneng banget nemu tulisan ini. Aku bukan fokus sama gemuk atau kurusnya. Karena belum tentu memang perempuan gemuk penyebabnya pasti ini. Cuma bisa jadi, perempuan gemuk penyebabnya ya ini. Yang jadi fokusku adalah isu ttg bagaimana laki-laki memahami pekerjaan wanita yang full di rumah saja. Banyak laki-laki yang gag sadar bahwa bahwa rumah tangga itu kerja sama. Dan tidak selayaknya semua tugas domestik diberikan pada perempuan tanpa ada penghargaan apapun. Mininal ucapan terimakasih. Dan aku jadi mikir kayaknya berat2ku segini2 aja krn suami sudah memenuhi cukul kebutuhanku dan ngasih kesempatan buat beraktualisasi diri. Hehe

    BalasHapus
  4. Inti'y jgn berlebih2an aja ya mba. Gemuk no problem sih selama semua'y dalam batas normal, mungkin makan'y dikit2 tp sering. Hihi..

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah suami nggak pernah protes kalau aku nambah BB. Justru akunya yang pengen nggak nambah BB, bukan apa2, rasanya berat bawa dan kurang energik aja kalau beraktivitas.

    BalasHapus
  6. Kondisi stay at home 2 bulan terakhir ini sebenarnya yang dirasakan oleh para ibu yang bekerja di ranah domestik tiap harinya ya, Mbak. Dan mungkin kondisi di dalam rumah terkadang menjadi faktor tidak langsung yang membuat jarum timbangan istri bergeser ke kanan. Ya, karena mungkin me time istri diperoleh saat ia sedang menikmati kudapan yang enak. Semoga dengan masa stay at home kemarin, para suami menjadi bisa lebih memahami kondisi istri dan bekerja sama dalam rumah tangga.

    BalasHapus
  7. Wow tulisanny renyah dan cerdas. Sangat menohok jaum yg selama ini “memasrahkn” diri dg label “kl dah nikah, gemuk itu wajar”. Nice sharing kak. Saya belajar sesuatu dr tulisan kakak ^^ terima kasih

    BalasHapus
  8. Saya juga setelah melahirkan berat badan langsung naik drastis dari 55 ke 83. Berat badan yang berlebih ini membuat saya mengalami gangguan kesehatan mulai asam urat hingga kolesterol. Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan diet guna menurunkan berat badan saya. Alhamdulillah sekarang berat badan saya kembali ke normal 55 dan supaya berat badan tidak naik lagi dan untuk menjaga kesehatan saya tetap menjaga pola makan. Tapi memang melakukan diet itu benar-benar tidak mudah. Harus punya niat yang kuat dan konsisten supaya dietnya berhasil.

    BalasHapus
  9. Saya bukan termasuk orang yang mudah gemuk.
    Prinsip saya, yang penting segala sesuatu tidak berlebihan, termasuk soal.makan.

    BalasHapus
  10. Baca tulisan mbak bikin aku mangguk² kepala sama senyum² sendiri lo😆 kok iya sih sama kaya aku😅. Fix! Makan makanan yang berkadar lemak rendah dan olahraga, menuju berat ideal lah ya mbak🧘‍♀️

    BalasHapus
  11. Saya kalau lagi stress atau banyak pekerjaan bawaannya pengen makaaann melulu. Tapi sebenernya saya sadar bahwa hal tersebut tidak baik. Skrng usia mendekati 40 dimana saya harus tahu diri akan asupan makanan yang masuk ke tubuh saya. Walau suami orangnya menerima saya apa adanya namun saya tidak ingin obesitas sehingga menyusahkan orang disekitar karena sakit. Untuk itulah skrng saya berusaha hidup lebih sehat.

    BalasHapus
  12. Saya justru sulit gemuk mbak. Mungkin karena saya enggak suka ngemil. Hehe. Kebiasaan makan itu memang ngaruh banget sih. Kayak saya yang kurus begini, karena memang tipe yang makan karena butuh bukan karena pingin.

    BalasHapus
  13. Aku tersentuh baca postinganmu ini mbak. Meski buatku sebaliknya, stay at home atau gak, tetep aja gak gemuk2. Tapi bisa lah dibalik, istri gak gemuk suami harus paham penyebabnya juga. Mungkin butuh istirahat dan jajan yg banyak ha ha ha. Modus.

    BalasHapus
  14. akupun termasuk, sedang berusaaha diet, tapi suami saya mah cuek soalnya dia juga gemuk wkwk. malah saya niat banget diet, tapi suami enggak heu. tapi Alhamdulillah dari awal tahun udah berhasil turun 7 kg. sebulan 1 kg turun. perlahan sih, mudah-mudahan konsisten sampai beneran turun di angka yang di mau hehe.

    BalasHapus
  15. Aku kok merasa kayak mbak ya. Kadang masak nggak bikin hemat malah boncos.

    Ini aja ada bahan makanan yang terpaksa dikasih ke kucing liar. Apalagi kalau nggak gara-gara kelupaan trus nyimpennya nggak bener.

    Soal timbangan, selama di rumah aja malah gesernya ke kiri. Ini beratku mulai balik ke berat sebelum lahiran dulu. Happy banget. Cumaaaa... Wajahku nih yang kusem ampun-ampunan.

    BalasHapus
  16. Ucapan John Gray itu kena banget Mak. Sebenarnya yang bikin gemuk itu justru stres, bukan karena bahagia.

    BalasHapus
  17. Betul juga ya, makan cara paling mudah untuk mengganti kebutuhan yang tidak terpenuhi. Emotional eating. Jadi solusinya bukan diet, tapi mengetahui kebutuhan apa sebenarnya yang nggak terpenuhi dan memenuhinya.

    BalasHapus
  18. Makan sebagai pengganti kebutuhan yang nggak terpenuhi. Emotional eating. Sedih makan, merasa nggak nyaman makan, seneng makan, karena nggak tahu cara mengelola emosi itu dan menyalurkannya ke tempat selain makan. Kalau gitu solusinya bukan diet tapi belajar menyalurkan emosi dan berkomunikasi dengan suami untuk mendapatkan support emosional yang dibutuhkan.

    BalasHapus
  19. hahaha iya nih suami harus baca. tapi suamiku jg yg ga masalah apa protes, malah aku sendiri yang suka minder krn agak gemukan wkwk

    BalasHapus
  20. Saya mah dietnya mulai besok saja :D
    Saya sejak masuk usia 30, mudah bgt naik BB-nya dan susah dituruninnya.
    Jadi ya... seimbangin saja dengan olah raga biar ga gemuk bgt

    BalasHapus