Ripple Effect karena Berbagi

by - 26 April



Belum lama ini, saya sempat melihat berita viral yang bersliweran di internet. Dimana seorang kakek tua pengusaha kaya dari solo, turun ke jalan ditengah pandemi yang sedang mewabah.

Demi upayanya untuk menebar kebaikan, beliau memutuskan untuk secara langsung menghampiri tukang becak, tukang sol sepatu, pedagang kecil, karyawan toko, anak yatim piatu, janda dan warga berpenghasilan rendah. Untuk diberikan 2 bungkus beras seberat 5 kg, serta uang sebesar 100 ribu rupiah/orang.

Terakhir diketahui, beliau membagikan 500 kg beras dan uang sebesar 10 juta rupiah untuk 100 orang yang tidak mampu, setiap hari dalam sepekan.


Dengan berkeliling dan membagikannya sendiri, beliau berharap apa yang dilakukannya dapat dicontoh oleh banyak pihak. Yang sekiranya memiliki kemampuan lebih dan juga mau memahami pentingnya arti kebaikan berbagi. Terutama untuk membantu saudara-saudara yang sedang terhimpit, di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk memperoleh penghasilan.

Tak terhitung yang mendoakan, begitu pula yang menghujat, tak pernah ketinggalan. Ada netizen yang bilang itu pamer atau riya', ada juga yang bilang demi kepentingan politik. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang, masih sempatkah kita mencari keuntungan dalam kesempitan? saya rasa, hal itu bahkan tidak penting lagi bagi si penerima.


Ketika Kita Berbagi, Kita Sebenarnya sedang Menerima 

Sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh Professor Michael Norton di Harvard Business School menemukan bahwa, memberi uang pada orang lain lebih meningkatkan kebahagiaan orang-orang yang diteliti, ketimbang digunakan untuk keperluannya sendiri. Rasa bahagia itu akan lebih mudah membuat orang-orang untuk memberi atau menularkan kebaikan.

Pada 2006, Jorge Moll dan koleganya di National Institute of Health juga menemukan bahwa, ketika sesorang memberi atau menolong, hal tersebut mengaktifkan bagian-bagian otak yang terhubung dengan kenikmatan, koneksi sosial, dan kepercayaan yang kesemuanya menciptakan efek pendar yang hangat. Sehingga dapat mengeluarkan endorfin di otak dan menghasilkan sebuah perasaan positif yang disebut sebagai “helper’s high”.


“Berbuat baik dan murah hati akan membawa orang lain menjadi lebih positif dan lebih ingin berbagi,” - Buku The How of Happiness oleh Lyubomirsky -


Dua Tipe pada Diri Manusia

Tipe Pemberi
Ada orang yang senang memberi tapi juga berharap mendapatkan balasan. Dan akan kecewa jika terlalu banyak memberi tapi tidak mendapatkan apa-apa. Ada juga yang akan merasa berbahagia jika bisa memberikan sesuatu kepada orang lain (tanpa pamrih). Semakin banyak memberi semakin bahagia yang ia rasakan dan sebaliknya, mereka agak sulit menerima pemberian. 

Meskipun begitu, kaum pemberi pun masih ingin diberi. Seperti mengharapkan imbalan psikologis atau sosial, misalnya saja ucapan terima kasih, harga diri, dan kepercayaan dari orang lain. Hal ini tidak berlaku saat seseorang melakukan altruisme, yakni pemberi/penolong berkorban tanpa mengharapkan imbalan atas kesukarelaannya. Dan ini berasal dari motivasi dalam diri, tanpa memikirkan dampaknya bagi si penolong. Contoh konkretnya adalah, para pejuang yang bertempur di medan perang atau para tenaga medis dan sukarelawan yang sedang berjuang di garda depan, menghadapi pandemi covid 19 yang sedang terjadi sekarang.

Tipe Penerima
Beda halnya dengan si pemberi, si penerima merasa sangat berbahagia jika mendapat pemberian. Mereka merasa diperhatikan dan dihargai. Apalagi jika sering diberi dan mendapatkan dukungan, sering mendapatkan bantuan akan membuat mereka kadang lupa diri. Namun seiring dengan semakin banyak pemberian yang mereka dapatkan, maka keterikatan pun akan semakin dalam. 

Akan tetapi, tidak selamanya pemberian secara terus menerus akan membuat mereka nyaman. Jika mereka mendapatkan terlalu banyak, bisa timbul perasaan bersalah atau rasa tidak enak dalam diri mereka. Apalagi, jika selalu diperhatikan dan didukung tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk si pemberi. Dan mulai memiliki pikiran, takut untuk menyusahkan si pemberi.


Kebaikan Berbagi itu Menular

Hasil penelitian Proceedings of the National Academy of Science, yang dilakukan oleh James Fowler dari University of California, San Diego dan Nicholas Christakis dari Harvard menunjukkan bahwa, ketika seseorang berlaku baik dan murah hati, hal itu menginspirasi mereka yang mengamatinya, untuk bersikap baik ketika ia bertemu dengan orang lain.

Dan nyatanya, para peneliti memang menemukan bahwa perilaku mementingkan orang lain bisa menyebar hingga tiga lapis komunitas, di sekitar orang pertama yang melakukannya (ripple effect). Seperti ketika air terkena lemparan kerikil dan menimbulkan gelombang percikan air layaknya pola melingkar, berlapis-lapis dan semakin besar.

Ketika kita berbagi, kebaikan itu akan terus berlanjut seperti sebuah pertandingan lari estafet, dimana orang yang menerima kebaikan dari seseorang akan melakukan kebaikan juga bagi orang lain. Bila kita meyakini bahwa kebaikan adalah sebuah lingkaran, maka kebaikan yang kita beri dengan berbagi itu, akan kembali lagi pada kita. Meski akan kita dapati, lewat bentuk dan dengan orang yang berbeda.


Karena sesungguhnya, aktivitas memberi dan menerima ini sama-sama membuat bahagia dan menghadirkan rasa syukur.


Tak Ada Batasan dalam Berbagi 

Tidak hanya si kakek pengusaha kaya, para artis dan influencer Indonesia pun turut mengajak para followers-nya untuk ikut berdonasi, membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi.

Tidak tanggung-tanggung, melalui website tagar.id diketahui, donasi yang terkumpul telah berhasil mencapai angka nominal yang fantastis, dimulai dari angka 9 juta hingga 2,6 miliyar rupiah.

Selain itu, ada juga yang langsung turun ke jalan, membagikan alat pelindung diri (APD), sembako, uang, makanan dan memborong dagangan para pedagang kecil di pinggir jalan.


"Kita berbagi bukan karena kita kaya. Tapi karena kita tahu rasanya lapar dan nggak punya apa-apa."

Kata-kata ini mengingatkan saya, bahwa siapapun bisa berbagi kebaikan meskipun dengan keadaan  financial dan ruang gerak yang masih terbatas. Minimal kita bisa menyumbangkan tenaga atau pikiran, agar bisa bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan.

Contohnya saja seperti beberapa teman di facebook, yang memiliki ribuan follower. Mereka mempersilahkan siapa saja yang memiliki usaha, untuk mempromosikan dagangan mereka di kolom komentar secara gratis. Lalu, ada lagi beberapa blogger yang membuka kelas penulisan berbayar, yang nantinya akan disumbangkan untuk penggalangan dana COVID 19.

Ada juga yang berbagi ke beberapa teman yang membutuhkan, dan beramai-ramai mempergunakan jasa ojek online untuk melakukan pengiriman barang atau memesan makanan untuk mereka. 

Tidak sampai disitu saja, beberapa blogger turut membagikan masker dan hand sanitizer sekaligus menggalang donasi, bagi para tunawisma yang terdampak COVID 19. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang teman blogger bersama komunitasnya.

Dan semoga saja, dengan menuliskannya disini juga bisa menjadi cara bagi saya, untuk menebar kebaikan.


kita juga bisa menebar kebaikan disekitar rumah kita sendiri, seperti ibu saya misalnya. Setiap pulang dari pasar dengan berjalan kaki, beliau kerapkali mendatangi rumah tetangga yang ada di sepanjang jalan menuju rumah, untuk sekedar berbagi satu atau dua belanjaannya kepada mereka yang membutuhkan. Entah itu makanan, buah, lauk atau keperluan sehari-hari. Apalagi jika mereka datang ke rumah, biasanya akan mendapat oleh-oleh makanan atau apapun (selagi ada), untuk dibawa pulang.



Tepat Sasaran dalam Menebar Kebaikan

Begitu  banyak  orang  di  dunia  ini  yang  bersedia  memberikan  pertolongan  kepada sesama dan mengetahui artinya kebaikan berbagi,  akan  tetapi  tidak  semua perbuatan baik tersebut diketahui orang banyak. Beberapa diantaranya diketahui secara luas, justru karena tersebar di dunia maya.

Saya sering mendengar ada tetangga yang lebih mampu dan berkecukupan, mendapatkan sumbangan sembako dan surat keterangan miskin atau tidak mampu dari RT. Begitu juga setelah membaca timeline di social media, ternyata ada beberapa teman yang menyadari hal tersebut terjadi di sekeliling mereka.

Seperti di jaman ketika saya kecil, dimana teknologi informasi masih sangat terbelakang. Bantuan diumumkan di depan banyak orang, tapi hanya di sekitar lingkungannya saja. Seringnya jalan di tempat atau malah berhenti di beberapa orang. Informasi yang didapat pun belum tentu sampai ke orang yang berhak menerima. Selebihnya hanya di sampaikan dari mulut ke mulut dan biasanya sudah terlambat. Siapa cepat, maka dia yang dapat.

Dulu sekali, saya sering bertanya-tanya. Mengapa banyak tetangga yang mendapatkan sumbangan uang, barang, zakat atau daging kurban saat hari raya, sedangkan kami tidak. Padahal, jika dibandingkan dengan tetangga sekitar, keadaan kami pada saat itu cukup menyedihkan. Karena orangtua saya hanya mengandalkan warung kecil sebagai mata pencaharian dan sempat menganggur karena bangkrut. Tidak ada lagi yang bisa dijual akibat dampak krisis moneter tahun 1998. Sementara ada 8 orang anak yang menunggu untuk diberi makan. 

Setiap kami protes karena tidak kebagian jatah sumbangan, Ibu saya selalu menjawab, "biarkan saja, mungkin disini lebih banyak yang hidupnya lebih susah dari kita." Dengan prinsip bapak yang juga tidak ingin harga dirinya jatuh karena meminta-minta, kami yang masih kecil pun jadi merasa semakin tersudutkan dari lingkungan, karena tak ada yang peduli.

Teringat kembali ketika saya menginjak bangku SMA. Ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa untuk anak tidak mampu. Yang membuat saya tidak habis pikir, beasiswa itu baru diketahui teman-teman yang lain justru setelah dana beasiswa itu dibagikan ke para penerima (tidak diumumkan). Yang nota bene, si penerima terpilih bahkan jauh lebih mampu, dari teman-teman yang saya ketahui betul bagaimana kondisi keluarganya.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika saya sudah bekerja, seorang kenalan berhasil mendapatkan surat keterangan miskin untuk mendapatkan beasiswa, sedangkan statusnya saat itu adalah seorang mahasiswa kedokteran bonafide, dengan dukungan fasilitas dan finansial dari Orangtua yang bisa dibilang lebih dari cukup. 

Menebar Kebaikan melalui Dompet Dhuafa

Agar bantuan kita bisa disalurkan kepada mereka yang memang membutuhkan dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya, kita bisa menjadikan Dompet Dhuafa sebagai wadah untuk berdonasi. 

Karena Dompet Dhuafa (DD) adalah Lembaga Amil Zakat milik masyarakat, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta Dana Sosial Kemanusiaan lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan sejak tahun 1993. 

Donasi yang dikelola juga mampu mengentaskan kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi. Mereka bukan saja “memberi ikan”, namun “memberi kail” dan melatih para penerima donasi, agar mampu bertahan bahkan berpindah dari penerima menjadi pemberi donasi (ripple effect).




Selain karena memiliki 5 pilar program utama yang memiliki tujuan besar dalam mengentaskan kemiskinan, Dompet Dhuafa juga menggunakan data penerima manfaat dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), berdasarkan Sensus Penduduk, Survei Sosial Ekonomi dan Potensi Desa (PODES). TNP2K juga mendata rumah tangga lain yang diduga miskin berdasarkan informasi dari rumah tangga miskin lainnya (dengan melakukan konsultasi bersama penduduk miskin selama proses pendataan), serta hasil pengamatan langsung di lapangan. Jadi, dipastikan tepat sasaran dan bisa dipertanggungjawabkan.


Di masa pandemi seperti sekarang, kita mengalami kesulitan untuk berbagi karena diberlakukannya kebijakan Work From Home (WFH), School From Home (SFH), Stayathome, Physical Distancing, Social Distancing, PSBB dan lain-lain, demi untuk memutus rantai penyebaran wabah COVID 19. Yang secara tidak langsung, berdampak besar dari segi ekonomi, khususnya bagi masyarakat menengah kebawah. Seperti contohnya, mereka yang menggantungkan hidup dari pendapatan sehari-hari, dengan pekerjaan yang mengharuskan untuk berinteraksi dari jarak dekat dan berada diantara orang banyak.




Karena itu, Dompet Dhuafa juga membuka donasi berupa sembako bagi masyarakat yang terdampak Corona. 


Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat disini. Jika ingin menyalurkan bantuan berupa dana, cukup dengan mengklik  :  https://donasi.dompetdhuafa.org 




Disana kita bisa langsung mengisi data dengan memilih Jenis Donasi. Apakah itu Zakat, Infak/Sedekah, Kemanusiaan, Wakaf dan lain-lain. Setelah itu, mengenai Pengkhususan Donasi, apakah itu Zakat Maal, Zakat Fitrah, Zakat Penghasilan atau Fidyah. 
Lalu, kita tinggal mengisi Informasi lengkap Profil Donatur dan memilih metode pembayaran. Setelah selesai, tinggal klik Donasi Sekarang! Lalu akan terbuka halaman informasi pembayaran, yang juga akan kita terima melalui email. Setelah melakukan transfer, kita tinggal mengkonfirmasi pembayaran dengan mengupload bukti transfer.  
Informasi dan Konfirmasi :
  • Call Center 021-7416050
  • SMS 0812 1292 528
  • Email layandonatur@dompetdhuafa.org
  • www.dompetdhuafa.org




Referensi :
# Shadiqi, M. A. 2018. Perilaku Prososial. Dalam A. 
   Pitaloka, Z. Abidin, & M. N. Milla (Eds.), Buku psikologi sosial, pengantar teori dan penelitian 
   (227-260)
# https://greatmind.id
# https://pijarpsikologi.org
# Dompet dhuafa.org
# https://bdt.tnp2k.go.id
# Liputan6.com

You May Also Like

32 Comments

  1. minta surat miskin padahl kaya? haduhh benar2 memalukan.menurut aku itu beneran menurunkan harga diri kak..jangan sampai deh kita..sesulit apapun

    semoga selalu ada rejeki buat kita smeua yaaa..sehingga kita menjadi orang yang mudah berbagi.Tangan diatas jauh lebih baik kok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, semoga dipermudahkan ya mba, agar bisa lebih banyak berbagi 😊

      Hapus
  2. Betapa berbagi itu selalu saja membuat para pelakukanya semakin dianugerahi kebahagiaan dalam hidupnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas 😊, semoga kita selalu mendapat limpahan rezeki agar selalu bisa berbagi, ke mereka yang membutuhkan

      Hapus
  3. Betul sekali kak, kebaikan berbagi itu menular..

    BalasHapus
  4. Setuju banget, Mbak. Di saat yang serba gak enak ini sebaiknya kita saling tolong menolong sesuai dengan kemampuan masing-masing.

    Ngomong-ngomong aku juga gemes banget setiap kali tau ada orang yang secara keuangan bisa dibilang mampu tapi masih juga dapat bantuan yang seharusnya didapatkan orang yang tidak mampu. Menurutku orang-orang seperti itu walaupun kaya tapi mentalnya mental orang peminta-minta. Memalukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang mereka nya juga yang gak nyadar mungkin mba, bisa jadi mereka ngebandingin dirinya dengan yang lebih mampu jadi ngerasa miskin aja walopun udah beduit. Pernah denger istilah "makin kaya makin pelit" "kalo gak pelit gak bisa jadi kaya". Mungkin prinsip itu yang dipake mba ato mungkin make prinsip ekonomi "dengan pengeluaran sekecil-kecilnya, agar untung sebesar-besarnya" πŸ˜‚

      Hapus
  5. "Dengan bersedekah tidak akan membuat kita miskin" saya lupa baca dimana, mungkin kalimat itu bisa menjadi penyemangat untuk terus menebar kebaikan.

    Wah keren banget ya berarti, setiap kali kita berbagi maka hormon endorfin bakal meningkat. Hormon kebahagiaanπŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba πŸ˜… selama orang yang memberi itu ikhlas πŸ˜‚

      Hapus
  6. Baca cerita di tengah itu memang hal yang realistis. Banyak orang yang sebenarnya mampu tapi tidak malu jadi miskin dadakan kalo ada bantuan pemerintah.

    Ibuku juga sebenarnya terdaftar di kelurahan sebagai orang yang menerima bantuan pemerintah, tapi anehnya tidak pernah sampai. Usut punya usut, ternyata bantuan buat ibu saya diberikan pada saudara pak RT yang mana rumahnya lebih bagus dari kami.

    Tapi biarkan sajalah, nanti juga ketahuan dan malu sendiri.😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin yang diberikan ke saudara RT ini kyknya mirip sama cerita di daerah saya mas. Adik saya bilang, disemua RT di daerah sini ada pembagian sembako dll. Tapi sampe harini gak ada pengumuman ato kabar di "sebuah RT", eh taunya ada keluarga RT yang pasang status dpt bantuan sembako.

      Hapus
    2. Bansos memang rawan penyalahgunaan, kalo punya koneksi ke RT atau lurah kemungkinan bisa dapat bantuan.

      Kata tetangga sih, ibu saya ngga dapat bantuan karena anak anaknya punya motor semua.

      Huff, aku rasa lumrah saja ya punya motor karena kami di kampung jauh dari jalan raya, masa mau ngojek terus, motor juga beat, kakak saya memang Vario sih, ngga ada saudara saya yang punya Nmax atau PCX.😊

      Hapus
    3. Trus para ojol yang punya motor itu, gimana nasibnya mereka mas πŸ˜‚

      Hapus
  7. Iya Mbak saya juga baca info tentang bapak yang berbagi itu. Luar biasa.
    Seperti banyak orang bilang, indahnya berbagi. Dan berbagi memberikan kebahagiaan kepada pemberi, hal ini menyiratkan bahwa berbagi bisa dilakukan entah di level manapun kemampuan kita.
    Semoga diri kita tetap diberikan keinginan dan keikhlasan untuk berbagi sesuai kemampuan yang kita miliki.

    Salam,

    BalasHapus
  8. Berbagi itu jika dilakukan dengan iklas tanpa mengharap balasan akan menimbulkan efek bahagia bagi yg memberinya, dan itu memang betul banget, gak bisa diungkapkan dengan kata"berapapun jumlahnya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak, betul banget mba. Emang enaknya jadi pemberi daripada penerima, sebenereπŸ˜‚

      Hapus
  9. Semoga makin banyak yang mau berbagi bahkan setelah pandemi ini

    Aku dulu tipe yang kalau ngasih selalu mikir nanti dapat balasan dari Allah. Sekarang sudah gak lagi. Ngasih sesuatu lalu lupakan

    BalasHapus
  10. Bener banget kaa, secara tidak langsung apa yang kita kasih ke orang lain bakal balik lagi ke kita bahkan dengan hal yang lebih besar, dan tidak diduga.. Padahal saat memberi iklas iklas aja eh balesannya luar biasa, jngan lupa berbagi deh pokoknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru dengan tidak mengharap balasan dan dengan ikhlas ikhlas aja itu yang bikin kita jadi ngerasa wah karena datangnya gak disangka-sangka ya mas, coba kalo kita mengharapkan sesuatu dari yang udah kita beri, yang ada juga bakal kecewa dan sia-sia juga jadinya pemberian kita ituh, udahlah jadi gak ikhlas trus pahalanya malah ikutan berkurang πŸ˜…

      Hapus
  11. Suka banget sama tulisan mba Rini, sangat detail dan jelas :D

    Karena ingin baca dengan seksama, saya baru bisa komentar sekarang setelah pelan-pelan membaca dari atas sampai bawah :3 by the way saya salut sama kakek tua Solo yang mba Rini ceritakan, karena beliau tau betul kalau beliau bisa punya kekuatan untuk membantu orang banyak. Mungkin untuk beliau uang 10 juta dan 500kg beras hanya 0,0001% dari kekayaan yang beliau punya, tapi ternyata hal tersebut bisa membantu masyarakat secara luas :")

    Ohya, perihal bantuan yang nggak tepat sasaran, memang banyak terjadi di sekitar kita ya mba. Agak sedih, tapi begitulah kenyataan yang ada di lapangan. Semoga orang-orang yang berusaha mengambil keuntungan di tengah kesulitan orang banyak, bisa terketuk hatinya, untuk nggak melakukan hal demikian di masa-masa mendatang. Kita hanya bisa membantu sebisa kita, dan berdoa karena nggak ada yang bisa mengubah isi hati dan pikiran mereka kecuali siraman kasih dari Yang Maha Kuasa :"D

    By the way, Dompet Dhuafa ini salah satu lembaga bagus yang sudah saya ketahui dan gunakan dari lamaaaa. Ibaratnya, salah satu dedengkot lembaga bantuan kemasyarakatan di Indonesia yang sudah malang melintang :D bahkan, jaman-jaman sebelum banyak lembaga bantuan, Dompet Dhuafa sudah berperan banyak dalam membantu masyarakat luas. Jadi termasuk yang trustable di bidangnya ~ semoga dengan post mba Rini, semakin banyak pembaca yang bisa aware dan tergerak untuk membantu sesama melalui Dompet Dhuafa :>

    For the last, good luck mba! :D<3

    BalasHapus
    Balasan
    1. mksh mbaaaaa πŸ˜πŸ˜‚

      iya, mba. Semoga apa yang saya share disini bisa bermanfaat buat yang baca khususnya, dan bisa memahami apa makna dibalik berbagi dan pengaruhnya bagi kita sebagai manusia. Gak ada yang dirugikan dari kegiatan berbagi ini, asalkan itu karena kemauan dari dalam diri. Bantuan sekecil apapun gak masalah, asalkan memiliki keihkhlasan yang sebesar-besarnya, kayaknya itu udah lebih dari cukup. πŸ˜…

      Semoga dengan ikut berdonasi, kita juga bisa ikut ambil bagian membantu orang2 yang benar-benar membutuhkan ya mba 😊

      Sekali lagi, Mksh ya mba 😁

      Hapus
  12. Wah... keren sekali ya Kak. Aku juga saat ini menjadi relawan lho.
    Aku juga setuju, berbagi bukan karena kaya, tapi kita berbagi karena kita tahu rasanya lapar dan nggak punya apa-apa.
    Menarik.
    Sukses ya Kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, itu udah saya screenshot dan saya cantumin link tulisannya, semoga menginspirasi semua orang ya mba 😁

      Makasih yaaaa 😁

      Hapus
  13. hehehehehe, kayak kenal tuh tulisan di gambar hahahahahahah.

    Btw, saya kok nggak baca ya berita bapak yang menyebarkan bantuan itu, masha Allah, semoga si bapak selalu diberikan keberkahan olehNya, aamiin.

    Btw, saya pribadi sejujurnya paling malu jadi penerima, lebih suka pemberi.

    Mungkin karena dari kecil saya dididik oleh bapak untuk tidak boleh sembarangan menerima pemberian orang.
    Itu menerima loh, apalagi meminta.

    Saya ingat dulu waktu kecil, sepupu-sepupu saya paling suka menyambut paman (atau om) yang baru datang, lalu merengek minta duit.
    Saya baru mau ikutan mendekat aja udah kena pelototan bapak.

    Bahkan saat paman kami akhirnya membagikan kami uang jajan, saya menoleh dulu ke ortu minta persetujuan, kalau mereka mengangguk saya berani ambil.

    Sikap begitu ternyata terbawa sampai saya dewasa, bahkan kadang saya mikir, saya itu gengsian hahaha.
    gengsi menerima, apalagi meminta hahahaha.

    Saya tidak pandai menawar, kalau ke pasar, tunjuk sana sini, makanya kalau nggak punya duit, saya takut ke pasar, mending beli telur aja yang pasti harganya :D

    Saya pun paling suka jika memberi, tapi nggak suka nampakin diri (tapi diceritakan di sini, riya kamu, Rey! hahahahahaha).
    Maksudnya, sejak dulu kalau mau berbagi, saya minta suami atau anak yang ngasih, saya ngumpet qiqiqiqi.

    Tapi bener seperti yang ditulis di atas, saat kita memberi, sebenarnya saat itu kita sedang menerima.
    Saya mengalami begitu banyak keajaiban setiap kali mengalami kesulitan keuangan.
    Tiba-tiba saja tuh, adaaaa aja muncul di depan saya, hal yang saya butuhkan huhuhu.

    Masha Allah, the power of memberi, kalau menurut saya, memberi itu sama dengan menabung, dan Allah tabungkan dengan jaminan diambil di dunia dan di akhirat.

    Oh ya, sayapun selalu pakai dompet dhuafa ini Mba, karena memang kiprah mereka yang selalu ada di barisan terdepan dan tepat sasaran membantu yang amat perlu dibantu.

    Semoga berkah selalu, aamiin :)
    Semoga kita semua selalu bisa memberi, dan Allah membukakan hati orang-orang yang masih juga berpikir 'nakal' di tengah keadaan kayak gini.

    Apalagi yang mampu tapi ngaku miskin.
    Nggak takut apa ya, di aamiinin semesta, terus miskin beneran deh hahahaha.

    Miskin harta mungkin banyak dialami orang saat ini, namun mental kaya tetep jadi sesuatu yang harus kita pegang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ˜… Iya mba, cuman dua orang yang sempet terscreenshoot termasuk punya mba rey plus komennya, yang laennya tenggelam duluan di timeline, mo nyari lagi gak ketemu saking banyaknya yang bikin status 😁. Seperti kata Ibu saya mba, Allah itu gak pernah tidur. Sekecil apapun perbuatan kita meski dalam hati, gak ada yang bisa terhindar dari pandangan Nya.

      Rasanya emang beda banget ya mba, ketika tangan kita diatas. Meskipun kita gak bisa menghindari saat tangan kita terpaksa dibawah.

      Tapi semoga ketika roda kita berputar kita tetap selalu ingat agar tangan kita juga bisa diatas 😊

      Hapus
    2. tangan di atas itu jauh lebih membahagiakan, tapi kita nggak bisa juga menghindari tangan di bawah :)
      memang rezeki itu disebar sama Allah, kadang rezeki orang nemplok ke kita, kadang rezeki kita nemplok di orang.
      Yang harus kita lakukan adalah berdoa, berusaha dan tawakal :)

      Hapus
    3. Iya, setujuw banget mba 😊

      Hapus