10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah

by - 30 Mei


Lebaran baru genap seminggu, saya terpaksa harus meminta maaf lagi. Tapi okehlah, gak papaaaa..

Mohon maaf yaaah, buat yang masih single πŸ€­. Tidak bermaksud menyindir atau membuat kalian merasa tersingkirkan dari postingan kali ini, πŸ˜‚tapi dipersilahkeun bagi yang ingin menabung informasi, demi kebahagiaan bersama pasangannya di masa depan, yah hihihi...  

Tulisan ini adalah based on true story dari sudut pandang perempuan sebagai anak atau istri, yang sempat tertangkap oleh mata dan terdengar oleh telinga saya dari beberapa kerabat dan kenalan. Bukan saja tentang tipikal suami dalam menafkahi pasangannya tapi bisa jadi dua-duanya ternyata ikut andil, dan harus bertanggung jawab terhadap masalah perekonomian yang terjadi dalam rumah tangga mereka. 

Berdasarkan data perceraian dari Mahkamah Agung, pada tahun 2015 hingga tahun 2018. Ada dua masalah utama yang paling banyak dihadapi oleh pasangan suami istri, yaitu perekonomian rumah tangga yang tidak berkesesuaian dan pertengkaran yang tidak ada habisnya. Karena tidak adanya keterbukaan dalam urusan finansial. 

Beberapa diantaranya adalah momok, yang terjadi karena pasangan secara tidak langsung menjiplak kebiasaan Orangtua. Dan semakin tak tergoyahkan karena sudah tertanam di benaknya sejak kecil. Sehingga sulit sekali keluar dari lembah hitam yang penuh dengan onak dan duri (aih, bahasanya). πŸ™„

Kecuali dengan perceraian sebagai jalan terakhir, atau memilih menggunakan komunikasi dua arah dan mau belajar untuk saling terbuka. Agar kedua pihak tidak merasa menjadi korban dan bisa lepas dari tekanan bathin, dikarenakan kesalahan dalam mengelola keuangan dan karena tidak bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk berkomunikasi secara efektif dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan pasangan sebelum menikah. Lalu kemudian bisa di kompromikan bersama pasangan.

Nah, berikut 10 Tipikal Suami dalam Memberi Nafkah. Apa saja itu? Check this out

  1. Suami menyimpan gajinya sendiri untuk ditabung dan mempergunakan gaji istri untuk belanja dan kebutuhan keluarga.
  2. Suami berkuasa penuh dengan keuangan. Uang belanja diberikan perhari hanya setiap akan belanja saja.
  3. Suami hanya memberikan separuh gajinya, separuh lagi disimpan sendiri.
  4. Suami hanya mengutip 10-20 % gajinya untuk bensin dan lain-lain, sisanya diserahkan semua kepada istri. (Lovely)
  5. Suami memberikan gaji ala kadarnya, sisanya terserah istri, mau ngutang atau berusaha mencari tambahan sendiri. Whatever
  6. Suami tidak memberikan gajinya tapi marah-marah kalo tidak ada yang bisa dimakan di rumah. Insane
  7. Suami memberikan gajinya tapi kemudian terus menuntut istri untuk memiliki penghasilan sendiri agar tidak perlu meminta lagi ke suami. What?!
  8. Suami menyerahkan semua gajinya yang tak seberapa tapi diam saja ketika gajinya naik dan bonusnya lebih besar 2x lipat dari gajinya.
  9. Suami menyerahkan semua gajinya tetapi selalu punya uang setiap ingin membeli semua keinginannya. Nah loh??
  10. Suami menyerahkan seluruh gajinya kepada istri dan mempercayai untuk mengelolanya. (Terdebest)

Kepercayaan dalam rumah tangga itu penting banget, bukan hanya tentang istri yang mempercayai kesetiaan suami, bertanggung jawab untuk keluarga dan lain-lain. Suami juga seharusnya ikut andil untuk mempercayai istri dalam tugasnya mengelola keuangan rumah tangga. Jika tidak adanya komunikasi, maka akan berakibat buruk bagi kedua pihak terutama soal keuangan. 

Apalagi jika sudah memiliki anak, kadang partner hidup kita lebih mementingkan kebutuhan buah hati ketimbang pasangannya. Padahal itu adalah salah satu bentuk perhatian yang tidak boleh luput dari pandangan kita begitu saja. Kadang saking sayangnya ke anak, sampai lupa dengan kebutuhannya sendiri. Padahal pada kesempatan itulah kita bisa memanfaatkan ketrampilan kita untuk saling memberikan perhatian lebih ke pasangan, dengan memberikan kebutuhannya terlebih dahulu sebelum ke anak. 

Tapi kalo kita sibuk ngurusin pasangan, nanti anak jadi terlantar dong? Kan kasian. Perhatian itu gak harus yang wah kok, dengan bertanya apa yang sedang dibutuhkan pasangan atau adakah yang sedang diinginkannya, itu aja rasanya udah bikin nyess.

Nah, yang jadi pertanyaaanya sekarang adalah, pasanganmu termasuk tipikal yang seperti apa, apakah termasuk dalam kriteria di atas atau malah masuk dalam kriteria lain? Dengan kriteria tersebut apakah kamu bisa menerimanya dengan lapang dada? Menerimanya dengan sukacita karena sesuai dengan keinginanmu? Mencoba memakluminya? Atau malah tidak terima tapi diam saja?

Sudahkah kamu minum yakult berkomunikasi dengan pasanganmu hari ini ? πŸ˜…

You May Also Like

66 Comments

  1. Suami saya termasuk tipe yg kadang nomor 3 kadang nomor 4, yang penting ada deh yang dikasi buat istri hehe, btw salam kenal ya mba rini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur dengan segala yang ada ya mba 😁

      Salam kenal juga ya Mba Iidyanie, makasih dah mampir ya 😊

      Hapus
  2. Apa-apa pun bolehlah, asalkan keduanya saling mengerti, saat bahagia dinikmati bersama, dan saling menyabarkan serta berusaha bersama disaat susah, bukan malah menjatuhkan 😊

    Semoga kita termasuk pasangan yang selalu dijaga hatinya oleh Allah, agar selalu menjaga hati untuk pasangan kita, tidak menyakiti dan membandingkan dengan yg lain, aamiin πŸ˜‡

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, pada dasarnya komunikasi yang harus didahulukan.

      Dengan saling mendengarkan maka akhirnya kita mampu untuk "saling dan saling" tentang segala hal yang bersifat positif. Dengan begitu, akan membuat rasa pengertian dan toleransi terhadap pasangan semakin bertumbuh, baik itu dalam kondisi senang ataupun disaat kekurangan.

      Meski tidak bisa selalu kompak dalam bersepakat, tapi kebersamaan akan selalu jadi yang terpenting 😊

      Hapus
  3. Kasian memang kalo denger kisah temen yg suaminya ga mau menafkahi, atopun menafkahi tapi tuntutannya juga banyak, ga sadar diri gaji yg dia ksh cuma berapa. :(.

    Aku bersyukur pas msh kerja gajiku bisa dipakai full untuk jajanku, dan gaji suami 100% dikasih ke aku untuk aku manage.

    Bukannya napa2, tapi dia udh mengakui kalo aku LBH profesional dlam mengatur keuangan rumah tangga :D. Apalagi kerjaan di kantor juga menyangkut uang nasabah :D. Jd atur mengatur uang, aku LBH jago dari suami.

    Skr aku resign dr kerjaan, bisa LBH fokus mengatur uang suami seluruhnya. Bersyukur suamiku percaya dan dari dulu dia prnh bilang, pgn seperti papanya yang dari awal uangnya dipegang semua Ama istri. Jd dia ga pusing mikirin tabungan. Yg ptg cari duitnya aja :D.

    Jd aku bersyukur sih dapat suami yg ga rewel untuk urusan keuangan. ;D . Yg ptg pokoknya, dia mau jajan ato pas tiba liburan, budgetnya udh ada :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, ternyata banyak yang bikin miris sebenernya mba, tapi banyak juga yang segan untuk cerita karena mungkin bisa-bisa dianggap sebagai istri gak bersyukur.

      Karena ada juga beberapa suami yang takut gak bisa leluasa beli ini itu kalo semuanya di pegang istri, padahal kalo dibicarakan baik-baik, istri juga pasti bisa memaklumi selama itu masih dianggap wajar dan masih masuk akal. Masalahnya kadang keinginan suami itu kadang diluar nalar terutama kalo sudah berurusan dengan hobi πŸ˜‚. Sudah tau besar pasak dari pada tiang, atau sebenarnya malah gak peduli (gak semuanya ini loh, tapi adaaa)πŸ˜…

      Seneng banget saya bacanya mba, akhirnya saya dengar lagi suami yang mengerti seperti ini. Dengan begitu, istripun jadi semangat untuk berbenah diri. Semoga saja bisa bisa menginspirasi suami-suami yang lain ya mba 😁

      Hapus
  4. Kayaknya masih kurang satu lagi nih mbak, no 11 yaitu suami yang tidak kerja tapi istri malah yang kerja, pulang kerja ngurus anak dan dapur. Tapi suaminya tetap minta uang buat keperluan seperti pulsa atau ngopi di luar. Suami ongkang-ongkang kaki, istri yang capai.

    Memang ada? Ada dong,
    siapa itu?

    Kabur ah sebelum saya dilempar sandal.πŸƒπŸƒπŸƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooh, Mas Agus masuk yang tipikal no. 11, nanti saya edit lagi postingan ini ya πŸ˜‚πŸ€£

      Tetangga sini juga ada kok mas yang seperti itu, kadang kasihan sama istrinya. Tapi kalo ngeliat suaminya itu, masih muda tapi kurang niat yang kuat mencari nafkah malah istrinya itu sering ngutang kesana kemari buat nyediain kopi dan rokoknya pagi-pagi karena gak tahan omelan suaminya.

      Saya kira sepenting apa, istrinya pagi-pagi ke rumah orang buat ngutang beli rokok suaminya. Sempat terpikir suaminya kdrt sehingga si istri manut-manut aja (mungkin).

      Mas Agus mo sandal bakiak ato sandal wedges? ntar saya bilangin ke orangnya 🀣

      Hapus
    2. uaduuuuh. bener juga. tipe yang gini-gini juga banyak, selain minta jajan juga tetep minta dilayani bak raja.... heheheu.... (mak mak pasti langsung gatal baca ini)

      Hapus
    3. Kok pgn nabok baca yg tipe mas Agus ini yaaa wkwkwkwkwk...

      Hapus
  5. Kalau saya, semua saya yang pegang mba :D dia cuma pegang kartu saja buat jaga-jaga tapi jarang dipakai belanja (paling cuma bensin atau makan saja), soalnya dia nggak suka beli-belian :)) dan karena post mba ini saya jadi penasaran terakhir dia beli apa di luar urusan bensin dan makan, terus saya check record-nya ternyata tiga bulan lalu terakhir dia belanja itu juga cuma beli kabel seharga 5000 won buat kerjaannya :"""))))

    Saya jujur sedih kalau dengar cerita orang-orang yang saya kenal, yang mostly bertengkar karena masalah keuangan. Dan seperti yang mba Rini bilang, rasa-rasanya betul banget banyak perpisahan terjadi alasannya karena finansial. Karena ilmu finansial untuk bisa belajar bagaimana mengelola keuangan itu nggak ada di sekolah, jadi kita harus trial error terlebih dahulu untuk paham bagaimana mengelola uang kita dengan baik dan benar. Permasalahannya, terkadang, beberapa dari kita justru collapse setelah trial error dilakukan.

    By the way saya setuju sama mba Rini, kalau kita harus memperhatikan pasangan. Ibu pernah bilang, "Pasangan itu no.1, anak-anak itu no.2, soalnya pasangan yang akan hidup sama kita selama-lamanya, sedangkan anak akan meninggalkan kita setelah mereka dewasa. Jadi jangan karena terlalu cinta sama anak, sampai lupa cinta sama pasangan." dan itu yang saya pegang sampai sekarang hehehe :D

    Dan doa saya, semoga ke depannya, semakin banyak yang aware betapa pentingnya mengelola keuangan agar kelak bisa menghadapi apapun permasalahan finansial yang ada di depan mata ~ dan semoga yang hidupnya belum tercukupkan, agar bisa dicukupkan. Amiiiin. Terima kasih for this beautiful post mba :D<3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Deuh, Your Honey suami idaman banget sih, mba 😁

      Bukan hanya bertengkar aja mba, karena banyak juga yang melakukan perang dingin. Di depan emang nerima, tapi dalem hati mangkel, sering salah paham dalam berkomunikasi karena memang tidak tau bagaimana strategi berkomunikasi yang efektif terhadap pasangan.

      Ada yang sampai menyimpan dendam, nanti kalo istri dapet rejeki juga bakal diem-diem aja. Ada juga yang kalo udah kepepet tinggal nyomot aja dari dompet suami. Dan kalo salah satu gak ada yang mau memulai untuk belajar mengerti dan menurunkan ego, wah alamatnya itu bakal jadi bom waktu kalo Kebiasaan seperti itu terus terulang dan terulang lagi. πŸ˜‚

      Saya juga sempet merenung mba, kalo ngeliat anak-anak dan membandingkan dengan diri saya sekarang. Ternyata beginilah ibu saya dulu, repot ngurus anak, disayang seolah akan selalu bersama seumur hidup, tapi sekarang. Saya udah entah dimana, pergi begitu saja. Sudah sibuk dengan diri sendiri. Sementara Ibu tetap berdua bersama suami yang mungkin tidak sesuai dengan yang diharapankannya.

      Dan suatu saat nanti, anak-anak juga akan memilih hidupnya sendiri.

      Rentang waktu kita sejak lahir bersama Orangtua hingga menikah mungkin tidak sepanjang rentang waktu ketika kita hidup bersama suami (mungkin kasih sayang dari Orangtua yang membedakan).

      Meskipun pasangan awalnya hanya orang lain, tapi dialah yang akan hidup bersama kita hingga akhir nanti. Jarak dari usia 20 tahun (jika menikah di usia itu) ke 60 tahun pun sudah lumayan lama jika dibandingkan kebersamaan kita bersama Orang tua, hanya 20 tahun. Tapi bersama pasangan, 40 tahun kita bergantung, saling menjaga, saling berbagi, hingga nanti menua bersama (jika hubungannya awet)

      🀲 Amiiiiin... saya do'akan juga buat semuanya 😊

      Hapus
  6. Dalam suatu hubungan, semua akan terasa harmonis ketika komunikasi berjalan dengan baik. Gak ada lagi tuh yang namanya misscom, atau tebak-tebakan ala kuis. Masa sangking positifnya, si istri mikir..."Mungkin suamiku sedang menabung untuk proyek masa depan, ntar di kasih suprise" ya gimana gitu, kalo misalnya ternyata enggak ada yang ditabungin malah dilahap habis di belakang istri?

    Kadang juga suami kurang perhatian dengan arus uang kemana saja perginya, ketika sudah habis dan sang istri mengadu, malah dibilang "Lho kok cepat banget habisnya"

    Rasanya pengen aing jitak dua pasangan yang luput membangun komunikasi. Korban sinetron wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada loh mba yang seperti itu, banyaaaak... πŸ˜‚

      Kayaknya sinetron itu diambil dari kisah nyata banget mba πŸ˜…πŸ˜‚

      Hapus
  7. Aku dibesarkan dg orang tua yg terbuka masalah keuangan, hal ini juga yg aku praktekkan bersama suami setelah menikah.. Kita saling tau penghasilan masing2, dan pos pengeluaran nya. Setiap pengeluaran besar adalah hasil rembuk ber2, sedangkan buat pengeluaran rutin semuanya diserahkan suami ke aku. Karena suami bilang, aku itu mentri keuangan dia presidennya, jd dia cukup terima laporannya aja 🀣 padahal emank dia aja ga mau repot ngurusin uang ya. Hehehe.

    Ketika seorang teman akan menikah, aku waktu itu juga kasi wejangan ke dia betapa pentingnya masalah keuangan ini dalam rumah tangga. Karena ga dipungkiri banyak masalah rumah tangga berawal dari masalah finansial. Masalah finansial bukan hanya karena sekedar kekurangan, tp banyak juga yg berlebih tapi mungkin karena saling ga terbuka jd banyak masalah di belakang hari..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senengnya ☺️

      Sepertinya selain karena meniru ortu, faktor yang juga mempengaruhi adalah perbedaan gaya hidup generasi jaman old dengan generasi jaman now juga ya mba, di dukung pula dengan informasi dan pengetahun yang lebih luas dan mudah di dapat, untuk ngejalanin hidup yang lebih baik

      Setuju 😁

      Masalah finansial tidak hanya terjadi karena kekurangan. Karena ada juga yang berlebih, tapi dimanfaatkan untuk hal yang tidak semestinya,seperti dipakai untuk selingkuh sampai membiayai wanita simpanan. Itu untuk hal yang negatif, bahkan jika yang dilakukan adalah hal yang positif (menolong orang lain), tetap saja itu bisa menimbulkan kesalahpahaman jika tidak menomorsatukan komunikasi

      Hapus
  8. Halo Mbak Rini,

    Berhubung saya orang yang boros, dan cenderung tak sabaran dan sering gelap mata, maka saya serahkan semua penghasilan saya kepada istri. Saya juga tunjukkan semua penghasilan yang saya peroleh dari kantor, termasuk uang saku perjalanan dinas ke luar kota atau ke luar negeri. Kalau di tulisan Mbak ini, mungkin saya boleh ge-er karena termasuk sebagai suami terdebest. Haha.

    Tapi mungkin kategori itu disetujui oleh tipikal istri yang bersedia untuk ditambah repot untuk mengelola keuangan sendirian. Memang sih saya tetap berkomunikasi dengan istri dalam hal membelanjakan uang, tapi tentu yang jadi lebih repot adalah istri, karena dia harus menghitung detail berapa uang yang ada dan sisanya berapa. Sementara saya paling jauh hanya ikut membantu apakah barang yang akan dibeli sifatnya penting dan segera, penting tapi tak perlu buru-buru, tak penting tapi harus dibeli, dsb, dsb. Nah, kalau sudah sepakat istrilah yang repot mencari barangnya, membandingkan merk, membandingkan harga, dsb. Hehe.

    Kalau boleh fair, mungkin tipikal suami yang menyerahkan semua penghasilannya kepada istri termasuk sebagai suami 50:50. Sebab bisa saja dia serahkan penghasilannya hanya karena tak mau repot mikirin neraca keuangan rumah tangga. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas agung, selamat. Anda telah masuk menjadi nominasi suami terdebest di blog ini hihihi..

      Apapun tipikal istrinya, saya rasa akan jauh lebih repot mikirin, kemana aja uang yang udah dipake, padahal kebutuhan di rumah gak pernah terpenuhi karena gaji yang pas-pasan, sementara gak ada satupun informasi atau kejelasan yang diterima dari suami hihihi.. yang ada malah bikin suudzon all the way πŸ˜‚

      Ada juga tipikal istri yang gak mau repot dalam urusan keuangan, tapi alasannya lebih karena sudah capek mikirin gaji yang tak seberapa harus dibagi-bagi untuk banyak kebutuhan. Sering tekor karena harus nyari tambahan sendiri, dan suami gak peduli kalo jatah perbulan ternyata gak sebanding dengan kebutuhan rumah tangga yang besar. (karena suami merasa sudah menunaikan kewajiban, dengan memberi nafkah. Berapapun yang diberi istri harus nerima suami gak mau tau efeknya). Sehingga sang istri pun nyerah, dan lebih memilih gak mau repot dengan urusan keuangan, semuanya diserahkan ke suami, biar suaminya nyadar kalo uang yang belio kasih itu gak cukup hihihi..

      Saya pikir kalo gaji suaminya berlebih, saya rasa sang istri dengan senang hati untuk repot-repot mikirin neraca keuangan rumah tangga mas, karena emang udah naluri perempuan itu mah, kodrat. Apasih yang direpotin dari uang berlebih itu, kecuali repot buat dihabisin hihihi πŸ˜‚πŸ˜

      Hapus
  9. Kalau suami saya no 3 atau 4 kali yaa... malah saya yang kayaknya nomor 9 hahahaha. padahal ngakunya jago nabung, tapi setelah menikah, saya yang lebih sering jajan. hal ini juga sempat jadi perdebatan tuh. Langsung kesenggol, wah, bener juga ya kalau udah nikah finansial jadi hal yang penting, rawan kepentok kiri-kanan.

    Saya dan suami sendiri masih belajar. Karena dua-duanya berpenghasilan, dan kami paham penghasilan kami sama-sama ngepas, jujur adalah kuncinya. Saya jujur pengeluaran besar apa saja yang saya keluarkan tiap bulan (karena saya masih menanggung keluarga di rumah orangtua), dia juga memberitahu cicilannya yang dia punya sejak sebelum sama saya (dan tenggat lunasnya).

    Untuk pengeluaran besar kami berembuk, dan penghasilan kami semua dipakai untuk berdua. Suami keperluan rutin serta bersilat menyimpan untuk tempat tinggal yang mengontrak, dan saya tugas menabung untuk pensiun serta investasi untuk masa depan. Untuk pengeluaran rutin, suami tahu terima laporan saja setiap bulan.

    Saya sudah bilang sih, nggak masalah kalau suami terima lebih dari gajinya dan nggak bilang sama istri, selama kebutuhan yang rutin terpenuhi. Saya juga begitu soalnya hehe. Uang dinas dipake jajan sendiri :).

    Tapi kemarin2, berpikir lagi, kalau kelebihan itu kami gabungkan dan tabungkan, siapa tahu bisa dapat rumah lebih cepat toh. Cuma ya itu, untuk jujur-jujuran masih harus belajar, karena masih kaku dan bingung cara menyampaikannya. Juga masalah ego dan memenangkan keinginan diri sendiri dibanding keinginan bersama.

    Yang penting sih terbuka dan nrimo, nrimo kalau kebutuhan rutin harga naik dan nrimo kalau makanannya jarang daging, kalau mau daging dia harus nambah lagi. Hehehe....

    Topik ini sungguh menarik dan menyenangkan buat saya si pengantin baru :'D terima kasih bahasannya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... sepertinya udah komplit komentarnya mba mega, jadi gak perlu penambahan dari saya, udah jelas sekali lika liku perjalanan ekonomi rumah tangganya yah 😁

      Betul banget, emang yang penting nrimo. Kalo udah tau bakal kekurangan yah gak usah pake mendem-mendem juga ya mba. Ngambek sih boleh tapi sebentar aja. Setelah itu rembukanlah sama pasangan. Saling diskusi gimana caranya memperbaiki perekonomian biar semuanya sama-sama senang. Walopun pasangan kita mengalah, tapi di kesempatan selanjutnya, tetap ingat untuk memberikan dan mengutamakan yang terbaik buat pasangan, sebagai tanda perhatian dan rasa sayang. 🀭

      Demi apa? yah demi keutuhan rumah tangga juga ya mba. Kalo Istrinya bahagia bakal berefek juga dengan suasana di dalam rumah, karena Ibu itu pusat kebahagiaanya anak-anak dan juga suami 😁 *nyindir para suami hihihi...

      Hapus
  10. Kalau saya yang nomor 10, akan tetapiiihhhhh paksu pengennya semua bisa memenuhi.
    Giliran nggak ada yang bisa disaving dia heran.
    Beteh nggak sih, tipe-tipe lelaki kebanyakan mah kayak gitu.

    Cari duit, semampunya, semua dikasih ke istri, dengan harapan semua kebutuhan terpenuhi, kalau irit dikit dibilang pelit.

    Kalau masalah ngatur duit, entah mengapa paling damai tuh saat saya kerja, meski sejujurnya saat kerja dan enggak kerja, totalnya hanya beti.

    Sering banget, saya resign, suami ada kenaikan gaji meski nggak sama dengan total gaji kalau saya kerja.

    Ahh duit memang bikin bete.
    Mikirinnya aja udah ngerusak mood hahahaha.

    Menurut saya, ini paling wajib dibicarakan sebelum nikah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ngebahas Piti terus pas mau Nikah kasihan cowok yang kaga punya duit...Aturan jadi malah bubar gara2 bokek..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Tapi jodoh sudah diatur Uni Rey.....Jadi yang bokek bisa dapat yang kaya..😊😊

      Yang kaya bisa sebaliknya ...Tinggal bagaimana kita menjalani rumah tangga tersebut.😊😊

      Hapus
    2. Nah ini sepertinya ngebahas duit sebelum nikah ini masih tabu yah. Tapi kalo di liat dari manfaatnya, membicarakan masalah keuangan sebelum hari H itu adalah yang paling efektif, karena nantinya ketika sudah menikah kan hidupnya dari uang suami juga (walopun istri punya penghasilan sendiri).

      Kecuali setelah ijab kabul, udah berencana kembali hidup di rumah masing-masing (kayak nikah boongan di drakor)πŸ˜‚. Walopun pada kenyataannya kayaknya ada dan setau saya tetep serumah πŸ˜‚. Terkecuali LDM, tapi bagi laki-laki yang bertanggung jawab, istrinya pasti selalu dapet transferan dong, Apalagi kalo udah punyak anak. πŸ™„ (Walopun hanya mampu ngirim sedikit)

      Hapus
    3. hihihi, yah gak juga Mas Satria. Justru kalo udah jujur soal keuangannya, kan malah ketauan pasangannya itu tulus apa gak, pasti dia memaklumi atau bersama-sama membantu soal keuangan. Tapi kalo ketiban sial, yah nasibnya emang. Begitu terkuak semua berapa penghasilan pasangan, eh langsung bubar. Pasangan langsung pelang-pelang ngilang. Nah bagus berarti kan, ketauan kalo cinta nya gak ikhlas. Yang ada nanti pas udah nikah malah makah hati, gak bahagia. Mending ketauan sekarang, sebelum terlambat dan nyesel seumur hidup. πŸ˜…πŸ˜‚

      Hapus
    4. Nah iya, terlihat tabu padahal penting, bahkan dalam taaruf pun, masalah duit ini sebaiknya diomongin deh, ketimbang kenapa-kenapa di kemudian hari kan ye.

      Meskipun mungkin setelah nikah dia berubah, setidaknya udah pernah dibahas kan ya :)

      Hapus
  11. Kalau ngomong masalah duit rumah tangga gini sih aku masih belum terlalu jago, Mbak Rin. Maklum, masih manten anyar jadi belum punya banyak pengalaman. Hehehe.

    Tapi kalau dipikir-pikir yang paling enak kalau dapat suami yang tipe nomor sepuluh itu ya, Mbak. Benar-benar bisa percaya sama istrinya. Suami cari uang, terus uangnya full diberikan ke istri untuk diolah sama istri. Enaknya sih semua pengeluaran bisa dikontrol lebih mudah, soalnya duit juga keluar dari satu pintu aja.

    Tapi walaupun begitu cara memberi nafkah yang lain juga tidak bisa dikatakan buruk juga. Ada positif negatifnya sendiri-sendiri. Kecuali yang 5, 6, 7 soalnya itu kejam banget sih, model-model laki-laki tak bertanggung jawab banget.πŸ˜‚

    Yang pasti untuk masalah duit ini yang paling penting adalah adanya saling keterbukaan dan kejujuran antara suami dan istri. Dan sebaiknya antara suami dan istri bisa memilih bagaimana metode pemberian nafkah yang sama-sama enak untuk keduanya dan untuk keluarga yang mereka bina, bukan hanya yang menguntungkan dirinya sendiri.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener, sebenarnya siapapun yang pegang duit, yang penting saling terbuka, saling punya goal yang sama juga, jadi nggak ada yang merasa nggak dianggap hahaha

      Hapus
    2. Betulll Sekali πŸ‘ 😁

      Hapus
  12. Memang urusan finansial ini sangat sensitif, tapi itu nggak berarti pasangan yang mau menikah malah menghindari topik krusial ini. Justru ini yang harus dibicarakan secara jelas di awal ya untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan di kemudian hari.

    Sebenarnya aku tuh masih belajar banget soal mengelola keuangan, karena sejujurnya suamiku yang lebih telaten meskipun dia menyerahkan tanggung jawab keuangan keluarga sepenuhnya ke aku. Awal-awal aku yang diajari bagaimana cara menabung dan menyusun budget, setelah itu doi nggak pernah musingin lagi. Kecuali kalau ada pengeluaran yang cukup besar, biasanya kami berdua akan diskusi bersama lagi.

    Dan setuju sekali dengan Mba Rini tentang pasangan adalah nomor satu, diikuti anak-anak. Prinsip ini aku praktikan juga dalam kebiasaan-kebiasaan kecil, seperti kalau makan aku pasti ambilkan suami nasi dulu, baru si kecil. Pada akhirnya kita akan menghabiskan sisa waktu bersama pasangan tercinta, ya.

    Makasih untuk tulisan ini, Mbaa. Semoga mereka yang kebetulan menghadapi situasi seperti di atas, kemudian membaca ini bisa dicerahkan kembali (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin di awal-awal itu masih dianggap privasi, IMO sih. Masih segan, mungkin takut dianggap cinta karena materi, padahal tujuannya bukan itu sebenernya ya, mba πŸ˜‚.

      Nah ini, emang perlu adanya kerjasama antara dua pihak. Kalo suami yang telaten soal keuangan, apa salahnya mengajari istri yang mungkin gak berbakat dibidang keuangan. Alih-alih menganggap istri gak becus ngurus duit lalu semuanya disimpan sendiri, seperti ada beberapa orang yang saya kenal. Yang ada nanti malah dianggap pelit atau kejam ke istri (walopun pada kenyataannya kebanyakan, iya).

      Dengan membimbing istri juga merupakan sebuah tanda perhatian dan sebagai cara untuk menghargai orang yang sudah di nikahinya (termasuk juga aspek-aspek yang lain dan tidak hanya berenti di soal keuangan saja), seperti suaminya mba Jane ini contohnya. 😊

      Sama-sama mba, Semoga bermanfaat buat yang baca. Amiiin...

      Hapus
  13. Waadduuhhh!! Kok Type saya nggak ada mbak.??? 😲😲😲


    Yaa iyalah orang gw kaga kerja...Yang kerja Istri.🀣🀣🀣🀣

    Gw dirumah doang tidur makan berak dan main HP, Itu Type suami macam mana mbak.🀣🀣🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkwkwkw, ituuu jualannya dikasih ke mana hayooo, mencurigakan nih hahahaha

      Hapus
    2. Sepertinya buat yang kedua mbak hasil jualannya, atau mungkin yang ketiga atau keempat.😱

      Hapus
    3. Itu masuk dalam 10 Tipikal Istri dalam memberi nafkah Mas Satria, πŸ˜‚

      Hapus
  14. jadi saya ini masih remaja dan blom punya istri.. tpi kalo seandai nya saya punya istri saya akan kasih 90% gajimsaya, 10% buat uang kantong saya aja hehe..

    yul mbak rin mari berteman dan saling follow

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seeep, keren emang anak muda jaman sekarang. Mau belajar dan Open Minded 😊

      Tapi tetep jangan lupa selalu jaga komunikasi, saling terbuka dan menyamakan tujuan, yak 😁

      Hapus
  15. Kalau milih istri gak salah, istri the best. Pilihan nomor 10 adalah yang terbaik.

    Teman-teman sy yg sdh menjadi suami, kadang jarang yang melakukan poin 10. Karena banyak alasan yang banyak hadir dari sang istri.

    Tapi jika sang istri itu the best, gak ada alasan untuk tidak melakukan poin 10. Seperti Presiden yang mempercayakan semua urusan keuangan kepada Menteri Keuangan. Bukan begitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya semua jawabannya bisa langsung dilihat dikomentar yang sudah ditulis temen-temen lain, mas hihihi..

      Menurut saya gak masalah kalo itu bukan pilihan no. 10, yang penting adanya keterbukaan, saling menjaga komunikasi, saling mengoreksi diri sebelum menyalahkan yang lain, berusaha melihat dari sudut pandang pasangan dan menyamakan tujuan agar bisa kompak dan tidak salah paham. πŸ˜…πŸ˜‚

      Hapus
  16. Meski belum menikah sekarang saya Jadi tahu tipe - tipe suami itu apa aja. Ada 10 tipe ya mbak?
    Makasih banyak mbak saya jadi nambah ilmu buat bekal nanti nya...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya masih ada lagi Mba, cuman yang 10 ini yang paling terpikirkan hihihi... yang laennya mungkin menyusul πŸ˜‚

      Semoga bermanfaat ya, Mba 😊

      Hapus
    2. Ada tipe nomor 11 dan juga nomor 12 mbak Cherry. Tunggu saja updatenya di uzegan TV.πŸ˜…

      Hapus
  17. Balasan
    1. Ish kereeen, pasti udah paham banget kalo suami istri itu emang perlu komunikasi, saling terbuka dan mau saling memahami terutama soal keuangan.

      Yang paling penting menjadi tipe No. 10 bukan karena terpaksa yak πŸ˜‚ kan ada tuh, semua gaji di kasih ke istri, tapi dibelakang masih suka gondok hihihi.. Ikhlas yah.. 😁

      Hapus
  18. berarti saya termasuk tipe suami nah lho! (nomor 9)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😱 nah loh, nah looh ?!! πŸ˜‚ Sebelum terjadi kesalahpahaman, sebelum ada yang Suudzon, dan sebelum sebelum yang lain-lainnya, lebih baik mencegah daripada mengobati, yak πŸ˜‚. Biasanya istri itu lebih menyukai kejujuran pasangannya kok (malah itu yang bikin dia makin kesemsem karena kejujuran suami membuatnya ngerasa semakin di hargai) πŸ˜…πŸ˜

      Hapus
  19. Haha Bapak saya masuk dalam kategori No. 4 (Lovely)

    BalasHapus
  20. Ini pengalaman ato gimana mbak aokwowkwokwowk :v.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... iya sih, ada juga pengalaman dari temen, saudara, ortu, lengkap pokoknya ini mah πŸ˜‚πŸ˜

      Hapus
  21. Semua untuk orang lain, untuk diri sendiri semoga di akhirat nanti bismillah

    BalasHapus
  22. saya nggak punya rekening ba nk mbak Rin. Gaji ditransfer ke rekening istri dan karena kantor membolehkan, berarti sudah 12 tahun saya tidak punya rekening.

    Penggunaan rekening itu ya dibicarakan bareng2 lah...Biasanya saya cuma pegang uang tuk ongkos, makan dan sedikit jajan/cadangan.

    Kita selalu kompromi mau beli apa2 😁😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciee.. satu lagi nih suami yang masuk kategori terdebest πŸ˜‚πŸ˜

      Hapus
  23. Masalah uang memang sensitif ya..intinya sih komunikasi antara pasutri. Tentang tipikal suami di atas aku juga dah temui macamnya..baik di keluarga besar maupun teman. Kalau aku sih lebih ke 2 anak laki-laki yang ada di rumah dengan membekali mereka akan arti nafkah dan menanamkan tentang kebaikan yang mesti dilakukan saat nanti berumah tangga termasuk hal keuangan. Apalagi mereka sudah remaja sekarang jadi sedikit banyak sudah nyambung jika ada pembicaraan bertema ini

    BalasHapus
  24. Suka ikut prihatin jika menemui kasus keuangan dalam rumah tangga, terkadang sampai gak habis pikir kalau ada yang perhitungan seperti itu, padahal sama anak, istri, tapi kembali lagi kepada kesepakatan kedua belah pihak juga, asalkan saling rida dan ikhlas gak masalah. Tetapi tetap harus ada komunikasi yang terbuka dengan pasangan, sehingga jelas kemana larinya gaji suami.

    BalasHapus
  25. Suami saya tipe yang mana ya? alhamdulillah tipe yang bikin adem di hati Mba. Kebetulan soal pengaturan uang sudah dibicarakan sejak sebelum menikah. sekarang lebih mudah dijalani saat sudah menikah dan punya anak. Kuncinya memang saling terbuka dan saling percaya ya Mba hehe

    BalasHapus
  26. Suami saya tipe gado-gado wkwkkw

    BalasHapus
  27. Kalau ditelaah, suami saya tipe yg lovely nih. Dia menyerahkan uangnya. Cuma simpan beberapa untuk bensin dan kebutuhan pekerjaannya. Alhamdulillah. Intinya kami sukuri saja hehehe...

    BalasHapus
  28. kalau saya sama suami sih, gaji semua dia yang pegang, saya dijatah setiap minggu. karena dia berhak untuk menggunakan gajinya sendiri yang penting saya enggak kekurangan sandang pangan papan, hehe. tapi emang tiap rumtang beda. bagaimana komunikasinya aja sih. selama ini saya sama suami juga enggak masalah dengan gaji dia yang pegang semua. selama saya minta jika jatah saya abis, dia juga tetap ngasih tanpa tanya, wkwkwk. yang penting semua tercukupi dengan baik.

    BalasHapus
  29. terbuka belum tentu harus semua-muanya dikasih kok mbak rin. tipekal yang mana saja yang penting keduanya jujur dan menerima pasangan serta tau goal selanjutnya apa. Nah komunikasi terbuka itu semua dibicarakan asal tidak ada kesalahpahaman

    BalasHapus
  30. Dulu waktu masih sekolah, saya suka heran kok teman-teman saya selalu minta uang sama ibunya. Kalau saya sama ayahnya. Kata mereka, memang ayahnya kerja, tapi uang gajinya diserahkan semua ke ibu. Beda dengan di keluarga kami, ayah saya yang bekerja dan beliau juga yang pegang uangnya.

    Eng ing eng, ternyata di dalam rumah kami pun nggak ada rasa kepercayaan dalam pengelolaan uang, nih.

    BalasHapus
  31. Aku sih berubah-ubah kayaknya. Awal nikah yaa aku dikasih sejumlah tertentu, ya dicukup-cukupin. Lalu, suami pernah dirumahkan. Alhamdulillah, aku kerja. Sekarang alhamdulillah, gaji suami udah mayan. Jadi bisa aja ngendelin dari suami aja. Tetapi...aku masih kerja aja...Ya gitu deh, penghasilan turun-naik, sumbernya bisa dari suami or istri. Kan kita mah tim ajah...

    BalasHapus
  32. Sudah dong, suamiku tipe yg smua penghasilan dipercayakan untuk dikelola istri

    BalasHapus
  33. Dalam pengelolaan keuangan memang harus imbang dengan istri. Keduanya harus kompak efisien dan saling berkomunikasi. Kalo nggak susah ya mbak. Ibaratnya 1 kapal di lautan

    BalasHapus
  34. Bener banget masalah ekonomi memang seringkali jadi sumber perceraian. Tapi aku juga termasuk yang nggak setuju kalau gaji suami seratus persen dikasih ke istrinya sih, kecuali memang suami punya pendapatan lain di luar gaji yang diberikan istri.

    Memang PR nya adalah qowammah pada diri suami. Tapi di sisi lain, istri pun juga harus menumbuhkan sikap syukur. Insya Allah kalau suami qowwamah, ia akan paham saat istrinya bilang, kurang nih dikasih uang segini, nggak akan marah2 dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.

    Di satu sisi ketika istri punya rasa syukur, berapapun yang suami kasih insya Allah bisa tercukupi.

    Komunikasi dan diskusi yang intens juga diperlukan dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Baik suami dan istri sama-sama tahu bagaimana keuangan di keluarga. Istri boleh saja jadi menteri keuangan, tapi presidennya tetap suami, jadi ia tetap perlu tahu dan terlibat dalam proses pengelolaan keuangan :)

    BalasHapus
  35. Banyak juga ya tipe-tipenya. Haha... Apapun gayanya, asal disepakati dan diterima bersama, insyaallah menjadi kebaikan. jangan sampai ada pihak yg merasa ngganjel

    BalasHapus
  36. Alhamdulillah, suami sangat terbuka dan transparan terhadap jumlah pendapatan. Beliau juga selalu membuka komunikasi berkaitan dengan hal hal pengeluaran diluar rutinitas. Alhamdulillah..semoga kita semua dapat berkomunikasi dengan baik pasangan, sehingga apabila ada timbul hambatan, bisa segera diatasi

    BalasHapus