Berkerumun di Mall demi Baju Lebaran ?

by - 19 Mei

Beberapa hari yang lalu, banyak sekali status-status yang bersliweran di timeline facebook saya mengenai orang-orang yang berkerumun dan berdesak-desakan di mall, demi baju lebaran.

Diantaranya ada yang berkomentar seperti ini :
"Tidak bijak untuk menghambur-hamburkan uang sekedar untuk baju baru dan kue lebaran, toh kita juga tidak bisa kemana-mana. Lebih baik uangnya disimpan saja, jika suatu saat wabah ini terus berlanjut kita memiliki cadangan untuk bisa melanjutkan hidup."
"Kasihan para tenaga kesehatan."
"Kasihani keluarga kita dirumah yang mungkin akan tertular karena kita tidak mematuhi protokol kesehatan."
"Mau sampai kapan wabah ini berakhir, kalo masih seenaknya melanggar peraturan." dan sejenisnya.

Perlu diketahui, komentar yang akan saya tuliskan di sini dititikberatkan pada keberadaan baju baru di hari lebaran (yang bukan hanya ketika berada di tengah pandemi). Karena ternyata, tidak sedikit yang berkomentar mengenai baju barunya ketimbang pelanggarannya. 😅

Contohnya kurang lebih seperti ini :

"Kue kering, Salam Tempel dan Baju Lebaran tidak termasuk dalam Idul Fitri, itu hanyalah tradisi. Selain itu, juga mengajarkan anak-anak untuk tidak membeli baju lebaran karena bajunya sudah dibeli jauh-jauh hari. Itu pun sesuai kebutuhan, ketika mereka sedang membutuhkan baju atau celana baru. Jadi ngga ada tuh mereka ribut menanyakan baju baru untuk lebaran atau sendal baru." (ya, iyalah.. kan udah dibeli duluan 😂)

"Itu kan cuma sekedar baju baru."
"Beli baju gak perlu pas lebaran." 
"Buat apa beli baju toh masih banyak baju lama yang masih bagus-bagus dan bisa dipakai." atau 
"Saya gak pernah beli baju untuk lebaran tuh. Belinya pas butuh aja (tapi sering beli)." 

Lalu bagaimanakah dengan mereka yang membeli baju secara online? Apakah ikut terseret juga dengan komentar dari para netizen? Belum tentu juga kan seorang pembeli baju lebaran itu orang susah dan mereka juga tidak berkerumun atau berdesak-desakan di mall. 😅

Dan pada akhirnya, kata-kata mereka telah membuat saya tergeletik untuk mengomentari komentar mereka dan menuliskannya di sini.  😂

Kenapa?

karena saya jadi teringat dengan keluarga kedua Orangtua saya nun jauh di dusun sana dan beberapa sahabat Orangtua yang merantau kesini. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak golongan yang disebut dengan fakir miskin, anak yatim dan kaum duafa.

Baju baru?

Jangankan baju baru, untuk makan saja masih kembang kempis. Setengah mati mencari rejeki demi bertahan hidup dengan pakaian yang sudah lusuh. Kadang robek di sana sini dan tidak layak pakai karena baju yang dipunya tinggal beberapa helai saja. Jika bukan di hari raya, kapan lagi mereka bisa merasakan sedikit kelegaan dan beristirahat, meletakkan sejenak beban di pundak yang belum tentu berkurang, sebelum akhirnya menutup mata di ujung usia.

Mereka memprioritaskan hari raya dan tradisinya karena belum tentu bisa mendapatkan hal-hal istimewa seperti itu di hari-hari biasa. Bagi mereka, hari lebaran adalah hari paling berharga yang patut dirayakan. Meskipun sekarang sepertinya sudah mulai ikut tergerus, akibat kemajuan jaman.

Mereka begitu gegap gempita dalam menyambut hari raya. Mengenakan baju baru kendatipun sederhana dan murah, memasak hidangan lebaran meskipun tidak mewah, dan juga mengharapkan THR atau salam tempel dari sanak saudara.

Jika bukan dikarenakan kebaikan hati dari mereka yang bersedekah dan berzakat atau karena THR yang tak seberapa dan pendapatan yang sedikit meningkat dikarenakan menjelang hari raya. Belum tentu mereka bisa merasakan punya baju baru dan bisa makan enak seperti orang-orang yang bilang "beli baju gak perlu harus nunggu lebaran." Karena pada kenyataannya belum tentu hal itu terjadi setahun sekali. Ada yang bahkan bertahun-tahun masih belum mampu mendapatkan itu semua.

You May Also Like

19 Comments

  1. Wah, aku merasa ditampar nih, Mbak Rin. Soalnya aku sebel banget saat nonton berita yang menayangkan pasar dan mall ramai karena orang berbondong-bondong membeli barang-barang keperluan lebaran. Kalau menurutku saat itu, lebaran kali ini lebih baik di rumah aja, kan ada Corona. Kalau orang berkerumun seperti itu, gimana bisa tingkat penularannya menurun? Malah bisa-bisa malah melonjak. Gimana Corona bisa cepat berakhir, kalau orang-orang tetap berkerumun dan mengabaikan social distancing? Hanya bedanya sama orang-orang Facebook, aku cuma mbatin aja. Gak sampai koar-koar di media sosial.😂

    Tapi baca artikelnya Mbak Rini aku jadi lebih memahami sudut pandang mereka. Semoga saja kita semua selalu diberi kesehatan. Dan semoga setelah lebaran ini usai orang-orang lebih patuh dengan prosedur penanganan covid-19 sehingga Corona segera cepat berakhir. 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yang bilang bahwa sekarang pemerintah sepertinya sudah pasrah, jadi sekarang mengandalkan sistem kekebalan tubuh masing-masing, yang kuat bisa bertahan dan hidup, yang ngga kuat...

      Eh, tapi bener ngga sih isu itu? 🤔

      Hapus
    2. Iya Mba Roem 😂, Sebenernya gak ada tujuan apa-apa nulis tentang ini, cuma sedang berbagi sudut pandang dan berusaha biar ide tulisan gak melayang begitu saja 😂 soalnya yang berkerumun di mall itu mungkin udah beda lagi alasannya, mungkin karena emang gak bisa menahan diri dari belanja belanji mungkin 😂

      Semoga saja wabah ini segera berlalu, sebelum hari raya Idul Adha (Idul Fitri aja belom) 😅😂

      Hapus
    3. Saya rasa pemerintah sedang mengikuti aturan negara-negara yang sudah lebih dulu terkena wabah mas. Di luar negeri sono, udah ada peraturan yang mulai di longgarkan, terutama tentang keluar rumah, ke restauran dan ke tempat-tempat umum, karena mereka juga sedang berusaha hidup berdampingan dengan corona, asal? disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Jaga jarak, pake masker, cuci tangan dan fasilitas umum juga disiplin menerapkannya untuk para pengunjung, misalnya dengan memasang tanda jarak, kursi atau tempat yang jarak nya dijauhkan (posisi orang per orang) seperti di kendaraan umum, restaurant dan tempat perbelanjaan.

      Sayangnya, melihat kerumunan orang-oang yang belanja ke mall tanpa memperhatikan aturan jaga jarak dan lainnya, maka banyak yang gak yakin, apakah orang-orang di negeri ini bisa melalui semua ini .

      Hapus
  2. Memang kalo ngga punya duit jangankan mikir baju lebaran, untuk makan sehari-hari juga sangat susah. Makan sehari paling dua kali, itu pun lauknya tempe sama kangkung terus berbulan-bulan, aku pernah merasakan saat seperti itu saat kecil. Tapi dalam bayangan ku kok biarpun makan kangkung sama tempe terus tiap hari tapi enak saja. Mungkin karena masih anak-anak kali ya.🤣

    Soal baju lebaran, untuk tahun ini ngga beli mbak, bukan karena takut Corona tapi baju lebaran tahun kemarin masih bagus. Duit buat baju baru mendingan buat yang penting saja karena belum pasti korona kapan berlalu.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😂 Iya bener banget Mas, masa anak-anak emang belum banyak ke inginan belum tau banyak tentang kehidupan (namanya kan anak-anak) makanya gak ada beban. Belum ngerasain perbandingan yang lebih enak. Karena tergantung Orangtuanya juga, coba kalo dulu waktu kita masih kecil di cekokin lauk ayam goreng krispi, pizza, sosis bakar dll, wah, udah itu, pasti pada sombong semua sama tempe dan kangkung 😂.

      Saya jadi inget, waktu kecil kalo minta jajan sama Ibu, seringkali malah disodorin nasi, tempe sama kecap asin. Tapi yah saat itu nurut-nurut aja. Jadilah makan siangnya nasi tempe, cemilannya juga nasi tempe 😂🤣

      Mending di alokasikan untuk yang lain aja duitnya ya mas, dipilih pilih dengan bijak mana kebutuhan yang paling penting sesuai situasi dan kondisi. 😄

      Hapus
    2. Betul sekali mbak, mending duit buat beli baju itu dialihkan ke hal lain yang lebih penting seperti bikin kue lebaran ya.😊


      Minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin ya mbak Rini. Mohon dimaafkan segala salah selama ini dalam ngeblog 🙏🙏🙏

      Hapus
  3. Entah kenapa mbaak aku rasanya sedih melihat yg berdesak-desakan di mall. Masalah baju baru untuk lebaran jauh dr kata bijaksana meskipun memang setahun sekali, namun momen lebaran sebenarnya bukan untuk baju "baru" tp lebih ke hati dan pemahaman yg baru. Semogaa pandemi covid19 tidak semakin parah karena keinginan beli baju baru dan berdesakan di mall yg tak bisa terbendung. Banyak juga yg menahan diri untuk tidak ke mall untuk beli baju baru atau beli bingkisan dkk, karena yakin pandemi ini bisa segera berakhir kalau patuh pada anjuran yg diberlakukan.

    BalasHapus
  4. Dilema ya mbak... Bukan masalah baju barunya sih saat ini mah, tpi karena bahaya aja, soal baju baru yaah mmg betul juga sih kalo gak ada lebaran yg setahun sekali ini, blom tentu mereka" yg fakir miskin bisa nherasain pake baju baru, dapet duit, dan makan enak, karena dihari biasa blom tentu mereka ngerasaiinnya, moment lebaran barangkali hanya salah satu cara aja buat mwreka ngerasain yg serba baru... Yah ga apalah mumpung masih ada orng yg berbagi harta dan rezeki, apa salahnya mereka juga ikut menikmati

    BalasHapus
  5. Sedih ya mba. Liat berita kaya gitu dimana2. Tapi bisa jadi mungkin mereka baru punya uang berlebih dr thr itu sekarang2. Jd mumpung ada uangnya, mereka mau belanjakan. Yg sangat disayangkan, kalau mereka sampe mikir mendahulukan belanja dibandingkan keselamatan karena virus, kemungkinan besar mereka memang kurang teredukasi tentang bahaya Covid ini. Banyak orang yg gampang akses info dr sana sini, tp mungkin mereka sedikit dr sebagian orang yang kurang info mungkin.
    Entah lah mba, bingung aku juga. Hehehe.. apapun itu, semoga pandemi ini cepat berlalu yaaa..

    BalasHapus
  6. Jleeebbbb bangeeetttt!!!! (tanda pentungnya banyak ckckckck hahaha)

    Saya mengamati medsos setiap hari dan berkesimpulan, memang kalau bukan gitu yang berdampak langsung, lebih baik kita diam dan doakan mereka.

    Kayak baju lebaran itu.
    Semua orang selalu berkaca di dirinya sendiri, padahal tidak semua orang bisa seperti dirinya.

    mengapa beli baju baru lebaran?
    Belum tentu karena tradisi!

    tapi memang ada yang hanya punya kelebihan uang (bukan lebih tapi punya) saat lebaran doang, entah itu dapat sedekah atau semacamnya.

    Selama 1 tahun, anak-anaknya nggak pernah bisa beli baju, meski bajunya sobek sana sini.
    Dan momen lebaran ada duit segera dibelikan baju.

    Sama dengan masalah orang keluyuran, kadang sebenarnya kita hanya bermaksud kesal pada orang yang iseng keluyuran, tapi ternyata di sebagian orang yang iseng itu ada yang bener-bener butuh keluar, termasuk yang berdesakan di mall beli baju, mungkin saja dia baru dapat uang buat beliin baju kan ye

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma mau tanya, itu tanda pentung banyak artinya apa ya mbak Rey? 😂

      Hapus
    2. wakakakakaka, itu dah, apa coba maksudnya hahahaha

      Hapus
  7. orng indonesia emng susah di bilangin ya.. di suruh di rumah aja g bisa.. indonesia barbar wkwkwk

    yuk mbak mari berteman, saling follow

    BalasHapus
  8. Ya, paham maksudnya..
    Tapi mungkin maksudnya "beli baju gak perlu harus nunggu lebaran" ya jangan pas wabah gini terus keluar cari baju lebaran..
    Ditabung dulu aja, suatu saat pasti ada kok waktunya beli-beli baju lebaran dan kita semua aman meski berdesak-desakan. Percaya deh :).

    Btw, selamat hari raya Idul Fitri ya mbak! :D

    BalasHapus
  9. Mba Rini, selamat hari raya :D

    Saya suka sama sudut pandang mba Rini yang cukup berbeda dari kebanyakan, karena menurut saya pun, setiap orang, terlepas apakah dia berbuat baik atau nggak (dalam hal ini pergi ke mall beli baju lebaran saat Corona masuk dalam kategori nggak baik), pasti selalu punya alasan di belakangnya.

    Meski alasan tersebut tetap saja nggak bisa diterima semua pihak. Hehe, tapi saya rasa, sebagian dari mereka mungkin punya pola pikir seperti orang tua mba, yang memang sangat memaknai arti kata hari raya sebagai sebuah perayaan. Di mana ingin bisa memakai pakaian yang bagus untuk sekali dalam setahun, dari hasil jerih payah yang dikumpul :"

    Terus, yang saya tau, kebanyakan yang berjubel di mall etc itu sepertinya nggak baca info yang kredibel di sosmed, jadi nggak tau betapa bahayanya Corona. That's why mereka mengacuhkan berita begitu saja ~ So, kita yang bisa paham kalau Corona berbahaya hanya bisa melakukan tugas kita untuk stay di rumah, dan mendoakan mereka agar cepat paham bahwa Corona berbahaya dan mendoakan dunia agar Corona cepat hilang :D

    BalasHapus
  10. iya mas terkadang masyrakat kita lebih mendahulukan penampilan daripada empati kepada yang tak mampu

    BalasHapus
  11. Jujurnya aku bukan tipe yg beli baju hanya pas lebaran :D. Malah LBH sering beli baju baru kalo mendekati mau traveling hahahahaha.

    Tp lebaran THN ini , walopun aku tau ga akan Nerima tamu, dan ga akan bertamu, tapi aku sempet beliin anak2 baju baru, Krn tau baju mereka udh banyak yg cingkrang hahahah. Jd bukan utk lebaran juga :p.

    Ga pgn sih ngajarin anak2 kalo lebaran identik baju baru. Ga usahlah mereka diajarin gitu. Justru poin berbagi nth itu zakat ato kue2 kering utk tetangga dan guru les, itu yg mau aku tekanin ;)

    BalasHapus
  12. sekarang udah gede begini tiap lebaran aku nggak pernah mikirin baju baru, baju lama malah belum pernah kepake sampe sekarang bertahun-tahun.
    sepertinya sekarang lebih mikir ke saving money juga.
    yang berita heboh belanja ke mall beberapa waktu lalu, salah satunya adalah di kotaku, kaget juga pas tau foto itu nyebar se indonesia, besok besoknya mallnya dijaga sama polisi

    BalasHapus