Kuliner Ikonik Palembang

by - 15 Mei


@racliamoon


Saya tuh sebenernya lagi males ngomongin wabah di situasi seperti sekarang, tapi apa daya. Ternyata hal itu secara langsung telah memporak-porandakan tradisi Ramadhan dan Lebaran semua orang. 

Pengennya gak inget dan terus berusaha cuek, kalo ternyata harapan saya untuk bisa melakukan banyak hal di kesempatan lebaran tahun ini harus pupus, sekali lagi.

Dan tak dinyana, memori masa lalu yang terpatri di benak pun akhirnya bermunculan, terutama tentang masa-masa indah di waktu kecil. 

"Dimana kegembiraan itu seolah tak terukur dan keceriaan itu begitu luas untuk di arungi. Tanpa beban. Cukup bahagia dengan kebebasan untuk jajan lebih banyak dan bermain lebih lama. Tentu saja dengan mengenakan baju baru di hari lebaran."

Mudik dan silahturahmi adalah salah satu tradisi lebaran yang akan dan telah ditiadakan bagi sebagian orang. Tapi entah dengan baju baru, bikin kue dan ketupat, ziarah makam, petasan atau THR, apakah juga akan ikut menghilang atau hanya berkurang? Who knows.. 

Bisa saja tradisi-tradisi itu tidak menghilang dan masih penting di beberapa orang atau daerah. Entah karena nekat, masih bisa dilakukan di rumah atau dilakukan secara online. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi mereka yang berada di daerah pinggiran. Dimana wabah covid-19 hanya menjamah sedikit orang dan sisanya adalah orang-orang yang tidak melek teknologi.


Ilustrasi Sumber Inspirasi

Berhubung adik saya sedang kebanjiran order membuat ilustrasi (tapi dibayar seikhlasnya), seperti  gambar di beberapa postingan saya sebelumnya, berupa lukisan buah dan sketsa penganten melayu, juga termasuk pada postingan ini. Akhirnya saya jadi pengen ngebahas tentang beberapa kuliner ikonik khas Palembang terutama makanan yang sering dijumpai di hari raya, seperti pada gambar/ilustrasi diatas (khusus buat kknya gratis πŸ˜‚).

Maklum, meskipun saya pernah jadi anak disain, tapi bidang ilmu dan orientasi pekerjaan yang pernah saya geluti tidak sejalan dan berbeda aliran. Dalam disain itu ada banyak cabang, seperti Ilustrasi, disain grafis, disain web, komik, animasi dan lain-lain. Sementara skill saya sebagai disain editor,  hanya mampu menggambar untuk pelajaran matematika dan fisika (tau kan) atau mendisain layout. Gak nyeni sama sekali tapi butuh ketelitian dalam menginput data angka atau simbol-simbol (biar yang ngerjain soal gak salah jawab dan nilainya gak anjlok πŸ˜‚). 

Sedangkan adik saya sebagai anak millenial, sudah begitu jauh melampaui. Jam terbangnya sudah tinggi untuk urusan ilustrasi dan emang berada di masa, banyak sumber yang bisa menginspirasi seperti melalui internet. Juga lebih tanggap untuk hal-hal baru, di bidang menggambar secara analog atau digital dengan menggunakan aplikasi. Dan dipastikan ilmu saya akan semakin terbelakang, jika tidak rajin mengupgrade diri (gak punya waktu soale). 😭

Begitulah beda anak disain jaman dulu dan anak disain jaman sekarang. πŸ˜‚


Beberapa Kuliner Ikonik Khas Palembang
Okeh, biar gak semakin halu. Ini dia beberapa Kuliner Ikonik yang keberadaannya juga dinantikan di Hari Raya khususnya kuliner yang ada di kota Palembang. 

Nah, pembahasannya disesuaikan dengan urutan pada gambar diatas, dari yang paling depan lalu ke kanan kemudian ke atas lalu ke kiri :

Pempek

Dulu pernah terjadi klaim dari dua daerah, mengenai asal usul pempek. Namun melalui sejarah, secara historis, filosofis, geografis, serta psikologis dengan jelas menceritakan, bahwa pempek aslinya berasal dari Palembang.

Pempek adalah pengembangan kuliner dari bakso yang dulunya di bawa pedagang dari China ke Palembang. Namun saat itu bakso menggunakan bahan non halal sedangkan sebagian besar penduduk Palembang beragama Islam. Untuk mengadopsi resep dari negeri tirai bambu tersebut, maka dibuatlah sebuah resep yang berbahan dasar ikan. 

Pempek awalnya bernama Kelesan. Namun pada tahun 1920an berubah menjadi Pempek. Saat itu orang China yang menjual Kelesan akan menghampiri, jika pembeli berteriak 'pek! pek!' kependekan dari Apek. Apek atau empek berasal dari bahasa hokkian, panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari ayah atau disebut dengan paman.  Hingga lama kelamaan, akhirnya menjadi nama makanan yang dijualnya, yaitu Pempek sebagai kata serapan. Meskipun sebagian Orangtua yang sudah sepuh disini masih menyebut Pempek dengan Kelesan. 

Jenis Pempek ada bermacam-macam, tapi biasanya yang terfavorit dan pembuatannya tidak terlalu ribet adalah Pempek Lenjer dan Pempek Telur (ada yang ukuran besar dan ukuran kecil). Seperti pada gambar di postingan ini.

Dulu saya tidak begitu suka Pempek. Kalopun ada yang menyajikan, saya hanya mengkonsumsi telur isiannya, adonan pempeknya dibuang πŸ˜‚. Hingga pada suatu hari, saya ditakdirkan untuk mencicipi pempek dengan tekstur dan aroma yang tidak menyengat serta rasa yang enak banget, termasuk variant lainnya seperti pempek kulit yang lembut di dalam tapi krispi di luar. 🀀 Akhirnya πŸ˜‚.


Es Kacang Merah

Sebagai budaya kuliner yang juga populer dan terbawa dari negeri asalnya bersama bakso, maka es kacang merah pun ikut ambil bagian menjadi kuliner ikonik khas Palembang karena memiliki sedikit perbedaan dari resep es kacang merah di beberapa daerah lainnya di Indonesia. 

Es Kacang Merah biasanya sering disajikan sebagai menu berbuka puasa. Namun jika ingin menikmatinya di hari lebaran kita bisa ke gerai-gerai pempek yang ada di Palembang. Salah satu minuman pendamping yang sering disajikan biasanya adalah es kacang merah.

Sebagai pecinta es kacang merah garis keras, jika ingin mencicipi es kacang merah ketika berada di kota Palembang, suami merekomendasikan gerai Pempek Vico dan Pempek Akiun. Namun ada satu lagi kedai es kacang merah rekomendasi dari teman-teman yaitu Es Kacang Merah Mamat di daerah sekitar Lapangan Hatta. Banyak para pengusaha bahkan pejabat yang sengaja datang kesana, meskipun lokasinya berada di tempat tersembunyi dan antriannya yang mengular.


Mie Celor

Kuliner yang satu ini merupakan perpaduan kuliner Melayu dan Tionghoa karena tampilannya sangat mirip dengan Lo Mie asal China bagian Selatan namun berwarna lebih putih. Mienya besar (seperti Mie Aceh atau Mi Udon dari Jepang) yang di celor atau di celup-celupkan ke air panas. Tekstur kuahnya mirip dengan spagethi tapi lebih encer, karena kuahnya sendiri dibuat dari santan gurih dan kaldu ebi yang merupakan pengaruh dari budaya melayu. Salah satu tempat yang paling direkomendasikan adalah Mie Celor 26 Ilir, sebuah gerai kecil di deretan penjual pempek di Sentra kuliner Kampung Pempek 26 Ilir Palembang. 


Kemplang Iwak

Kata Kemplang berasal dari dialek Melayu di daerah Sumatera Selatan yang berarti dipukul. Apanya yang dipukul? Adonannya dong, masak orangnya πŸ˜‚. Menurut saya, Kemplang itu awalnya adalah penamaan untuk Kemplang yang dipanggang saja. Karena sewaktu kecil, saya sering melihat pembuatannya di rumah-rumah tetangga yang memproduksi Kemplang Panggang.

Setelah dipipihkan, adonan yang dominan berbahan sagu itu lalu dipukul hingga rata, kemudian di kukus dan di jemur. Begitu juga prosesnya ketika dipanggang, dipukul-pukul agar bentuknya tidak melengkung. Berbeda dengan Kemplang yang digoreng, pertama-tama adonan mentah dibentuk seperti pempek lenjer, dikukus baru kemudian diiris tipis-tipis (tidak dipukul), lalu dijemur.

Sebenernya toko kemplang di Palembang itu banyak banget ampe bejibun, dari kualitas paling minimum hingga premium. Namun ada satu tempat, yang berulang kali saya datangi karena rasa dan teksturnya yang enak. Tokonya terletak di Jl. KH. Ahmad Dahlan di belakang Indomaret, namanya Toko Kemplang Dikita, tidak jauh dari Taman Kambang Iwak Palembang. Kemplangnya sendiri terbuat dari Ikan Tenggiri, jadi bagi yang alergi dengan ikan laut bisa mencari alternatif kemplang ikan gabus ke toko-toko lain disini.


Maksuba

Disini, Maksuba biasanya selalu hadir di Hari Raya, di sebuah Event atau untuk Hantaran Pernikahan. Rasanya yang manis dan bahannya yang berlemak karena terdiri dari telur bebek, gula, mentega dan kental manis kaleng, membuat orang yang mencicipi was-was untuk makan lebih dari sepotong, kalorinya tinggi eui. Meskipun setelah mencoba sekali, ternyata malah jadi ketagihan. Akhirnya nyomot lagi, lagi dan lagi πŸ˜‚ (itu mah saya, yak).

Untuk yang mainnya kurang jauh seperti saya, (berdasarkan kenangan) Maksuba terenak itu adalah buatan Ibu pastinya πŸ˜‚. Eh tapi, ada juga kok beberapa tamu yang bilang kalo buatan Ibu yang terenak, karena bahannya agak unik dibandingkan Maksuba biasa. Teksturnya itu lebih halus, padat, lembut dan lembab. Kalo orang laen kuenya berwarna kuning kecoklatan, Ibu mah beda, kuenya berwarna Pink! Sekalipun belum pernah saya temui Maksuba dengan rasa dan warna seperti itu di toko atau di rumah orang lain saat bersilahturahmi, kecuali di dusun Ortu. Tapi walopun berbeda, ternyata rasanya itu enaaak banget dan harum sangat. πŸ˜‚

Pada zaman dahulu, untuk menilai seorang perempuan Palembang apakah sudah pantas dipersunting menjadi istri, dia harus bisa memasak bahan mentah kiriman dari calon mertuanya untuk dibuat menjadi kue Maksuba. Kalo dia bisa, berarti sudah layak untuk menjadi seorang istri.

Pantas saja hanya Maksubanya yang enak tapi kue yang lainnya gak *eh πŸ˜… (maksudnya kue bikinannya yang laen gak seenak kue Maksubanya) πŸ˜‚


Buah Duku

Sebagian orang mungkin mengenal Duku yang manis dan berkulit tipis itu adalah Duku Palembang, namun Duku yang tersebar sampai seantero Indonesia itu sebenarnya berasal dari daerah Ogan dan Komering, yang wilayah perkebunan rakyatnya ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ulu Selatan bukan dari Ibu kotanya. Karena di Palembang sendiri tidak ada tanaman Duku. Kalopun ada tapi tidak subur bahkan tidak berbuah, karena unsur tanahnya tidak cocok.

Duku adalah salah satu buah lokal musiman terpopuler yang paling digemari disini (selain Durian Komering). Karena daerah penghasil buahnya masih berada di ruang lingkup daerah Sumatera Selatan. 

Untuk Duku Komering, setelah panen biasanya langsung di distribusikan ke luar kota hingga melanglang buana ke seluruh Indonesia. Di ibukotanya sendiri terkadang malah tidak kebagian, kalopun ada mungkin hanya sisa-sisa dari Duku Komering yang sudah dipilih sebelumnya.

Teringat waktu kecil, dulu Bapak punya seorang Paman jauh, yang berasal dari Komering. Beliau sudah sangat berumur, agak pikun dan pendengarannya pun sudah banyak berkurang. Tapi hebatnya, setiap tahun dia selalu ingat jalan kesini. Karena kami tidak pernah merasakan pernah punya kakek nenek paman dan bibi, dari Orangtua (kedua Orangtua saya anak yatim piatu). Kehadirannya ke Palembang sungguh membuat kami senang, karena beliau selalu membawa sekarung Duku Komering dan beberapa buah lainnya sebagai buah tangan (bayangkanlah, di usia yang sudah sepuh harus membawa berkarung-karung buah dari tanah yang jauh). Aroma dan rasa Duku Komering yang khas itu selalu menjadi kenangan untuk saya dan juga mungkin untuk saudara-saudara saya. Terlebih disaat Ramadhan. πŸ₯Ί

You May Also Like

33 Comments

  1. Saya baru tau nama jadulnya Pempek itu Kelesan :D dan bicara soal Pempek, saya suka banget sama Pempek Adaan dan Kapal Selam. Duuuh enaknya susah dijelaskan, mba :)) kadang kalau sudah makan Adaan bisa 10 butir sendirian, meski pedas cukonya pun tetap dilahap. Paling habis itu mules terus ke belakang hahahaha.

    Terus Mie Celor juga saya suka, dulu pernah diajak ayah saya pergi makan Mie Celor, pulangnya langsung kebayang-bayang. Semenjak itu, tiap pergi ke suatu tempat dan lihat ada yang jual Mie Celor pasti beli karena penjual Mie Celor jarang kelihatan di depan mata saya (mungkin saya mainnya kurang jauh kali, ya) :"""DD

    Dan kemplaaang ya ampun ini sih juaranya, kerupuk kemplang itu favorit saya banget mbaaa, mana saya tipe yang kalau makan harus selalu ada kerupuk, jadi kerupuk kemplang merupakan salah satu pilihan yang sering kali ada di meja makan >,< duh jadi ingin makan kerupuk kemplangggg ~ :))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi.. I know what you feel mba eno πŸ˜‚ cuko pempek itu kan biasanya macem-macem pedesnya mba.

      Kayaknya sekarang sudah ada yang jual cuko yang gak pedes, kalo pengen lebih pedes bisa ditambah cabenya. Ada beberapa pilihan untuk level pedasnya. Tapi saya lupa dijual dimana πŸ˜…πŸ˜‚

      Jujur mie celor ini, pertama kali saya makan waktu tinggal di rumah mertua. (kemana aja selama ini) πŸ˜‚ kebetulan rumah belio gak jauh dari kedai mie celor yang saya rekomendasiin. Semua orang yang tau dari segala penjuru kota biasanya makannya disana. Dulu waktu Si Kk masih bayi, hampir tiap hari saya kesana beli mie celor buat sarapannya pak suami, karena dia yang doyan banget πŸ˜‚

      Iya mba, disinipun. Suami yang rajin banget nyetok kemplang buat dimakan nasi sama kecap, buat pengiritan. πŸ˜‚ Eh iya, getas ato kletekan juga enak mba. rekomen juga itu mah, apalagi kalo yang dari bangka. Karena disana deket laut. Ikan tenggirinya kan lebih mudah didapat πŸ˜…πŸ˜‚

      Doain aja wabah ini segera berlalu dan saya dpt rejeki mba. Biar saya bisa nanya-nanya alamatnya mba eno 😁

      Hapus
  2. Waah kereen ya kakak beradik jago ngegambar:D,suka sirik aku kalo liat orang jago gambar apo ngedisain... Btw sy barusan mbak beli kemplang tunu/bakar palembang, soalnya sy penyuka menu yg berbau"ikan,kue mesuba itu lemak nian tapi bikin mblenger saking lemaknyo, mirip"dikitlah kaya kue lapis legit lampung yg asli, biasanya jamn msh gadis rajin bikinnya, sekarang udah ga sanggup lagi, dah tuir mbak, capeknyo 😁,duku komering emang enaklah, ditempatku juga banyak abang"jualan duku komering, mbuh iyo apo idak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mah enggak keren mba πŸ˜‚.

      Istilah kemplang tunu ini bukan dari Palembang sepertinya ya mba, soalnya ditunu atau dipanggang itu beda πŸ˜‚ manalagi kemplang panggang itu juga ada 2 variant. Yang pertama kemplang panggang yang dari ikan sungai, warnanya agak item-item karena bercampur kulit ikan (murah meriah) jenis inilah yang adonannya di kemplang, Kalo yang satu lagi kualitasnya premium atau sama kayak kemplang yang dari ikan tenggiri hanya saja cara memasaknya dipanggang, IMO sih (kalo berdasarkan pengamatan) πŸ˜‚

      Memang mirip mba, hanya saja maksubah layernya gak beraturan. Kalo lapis legit, layer by layer nya rapi jali eui πŸ˜‚. 8 Jam jugo manteb nian mba, di lampung ado dak? 😁

      Duku Komering ini di tempatnyo dewek malah langkah sebenernya mba, sebelum panen sudah dipinang duluan. Jadi wong sini dak kebagian. Yang jual-jual duku pake tulisan duku komering itu jg meragukan, kalo pun ado biasonyo sudah dicampur, jadi sering cugak mbelinyo πŸ˜‚

      Hapus
    2. Disini ado jugo yg gawek mesukba, dulur aku jugo ado yg gawek kalo aku spesialis lapis legit bae pacaknyo, tapi sekarang lah dak kuat, idak sanggup lagi, beli baelah apo minta tolong gawek bae samo sudaro, hihi

      Hapus
    3. sayang situasi sekarang lagi dk biso sanjo-sanjo, kalo biso dk usah beli makan di rumah uwong b πŸ˜‚

      Nak beken kelamoan eui. belom pegel-pegelnyo, mano panas pulo setiap nak ngukupinnyo πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  3. Katanya beda ya mbak pempek yg asli sama yg beredar di luar kota, cukonya beda. Sama ada pempek yg dibakar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm.. Konon katanya emang ada yang bilang begitu mba, soalnya saya belum pernah nyicip pempek yang dari luar kota. Kalo menurut saya sih, karena ikannya juga. Mungkin karena beda habitatnya jadi mempengaruhi rasa daging ikannya juga.

      Kalo cuko pempek, dari tampilan emang beda dengan yang di Palembang mba. mungkin karena disini masih banyak pohon gula aren dan lagi lagi mungkin karena pengaruh unsur tanah yang mempengaruhi pohon enau/aren hingga menghasilkan gula merah yang cocok untuk cuko pempek.

      Pempek yang dibakar itu kalo disini disebut pempek panggang mba πŸ˜‚ karena dimasaknya diatas bara arang atau batok kelapa bukan di atas api langsung. Selain pempek panggang ada juga pempek lenggang, adonan pempek dicampur kocokan telur dibungkus daun pisang trus dipanggang. rekomended banget buat yang males makan goreng-gorengan itu mba, full protein pula πŸ˜‚

      Hapus
  4. Baru tahu kalo pempek Palembang itu dari kata apek, dialek hokkian yang artinya saudara tua dari ayah atau ibu. Kalo di Jawa, apek itu artinya bau. Klambine apek artinya bajunya bau.πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. 🀣 beda cara bacanya ituuuuuuh... πŸ˜‚ Apek nya dibaca kaya penyebutan Capek, Masss πŸ˜…

      Hapus
    2. Iya sih, memang beda dengan beda bahasanya biarpun sama tulisannya.

      Contohnya kalo bahasa Indonesia mantuku itu menantu saya, kalo di Jawa mantuku itu mang, beli.

      Kalo duku Komering disini juga banyak yang jual, biasanya sekilo 30 ribu, kalo di Palembang mungkin cuma 10 ribu kali ya.πŸ˜…

      Hapus
    3. Di jawa sebelah mana itu, mas ? πŸ€”

      wuih, mahal beud. Di palembang sih murah, kadang kalo udah musimnya itu ada yang 3000/kilo. Cuma masalahnya ini, jarang banget nemu duku yang asli dari Komering, kalopun ada kadang sudah dicampur sama duku biasa πŸ˜‚

      Hapus
    4. Tapi biarpun bukan duku asli Komering, udah murah pake banget kalo 3000, disini cuma dapet sekilo disana 10 kg.πŸ˜‚

      Hapus
    5. Ongkirnya dong maaas... πŸ˜‚

      Yang 3000 ini juga jarang-jarang kok, normalnya 6 sampe 7 ribuanlah. Tapi kalo udah kebanyakan dan peminatnya udah mulai sedikit, biasanya yah gitu suka banting harga, daripada busuk, kan mending jadi duit πŸ˜‚

      Hapus
    6. Pakai shopee atau Bukalapak kan gratis ongkir mbak. Mana dapat cashback lagi, lumayan beli duku 6 ribu dapat cashback 3 ribu.πŸ˜„

      Hapus
  5. Hahaha.. awal baca Mie Celor, bayangan saya adalah mie telor.. ternyata salah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi saat disajikan, Mie nya juga emang dikasih telor rebus Mas πŸ˜πŸ˜‚

      Hapus
  6. aduh empek asli sana enak banget, waktu ke palembang nyoab wih mantap beda denagn epmpek yg dijual di jawa, walau bilangnya asli palembang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin cara bikinnya sama mba tapi kualitas bahannya yang beda, makanya hasilnya pun beda (IMO sih) πŸ˜‚

      Hapus
  7. Kuliner khas Palembang yang paling aku suka cuma pempek, Mbaa (: kebetulan keluarga dari pihak suami itu banyak dari Jambi, ternyata orang Jambi itu juga suka bikin pempek, ya meskipun kayaknya agak beda sih rasanya dengan pempek palembang yang biasa aku makan. Terus, mertua pun suka bikin pempek adaan di rumah. Parah sih, aku bisa kalap banget kalau makan itu. Rebutan pulak sama anakku πŸ˜‚

    Kalau kemplang aku nggak begitu doyan, tapi kerupuk ikan palembang itu favoritku baaaanget! Pokoknya tiap mampir ke kedai pempek asli orang palembang, biasanya mereka jual berbagai macam kerupuk kan. Udah pasti aku borong buat stok ngemil di rumah hihi. Soalnya ikannya berasa banget dan nggak abal-abal gitu. Makanya agak milih juga sih kalau beli kerupuk ikan palembang karena nggak semua enak.

    Next, harus coba Mie Celor ah. Sering dengar tapi belum pernah coba. Dari definisinya, mengingatkan aku dengan Emie Medan yang suka dibuat oleh Mamaku. Mungkin masih sama-sama Sumatera kali ya jadinya mirip-mirip hihi

    Thank youuu Mba Rin udah mengenalkan kuliner Palembang! (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan Jambi sebelahan sama Palembang mba, otomatis gak jauh beda makanan khasnya πŸ˜‚. Mungkin resepnya aja yang beda mba, kalo yang dipake resep yang sejuta umat, pasti sama rasanya, karena sumber daya alamnya kan mirip-mirip juga 😁

      Iya mba, kita juga harus jeli milih-milih kerupuk soalnya kadang ada yang aroma ikannya tajem, kadang banyakan sagunya dari ikan, macem-macem, kadang teksturnya yang malah bantet ato keras sampe gak bisa di gigit tengahnya, kan sayang bgt tuh. πŸ˜‚

      Tapi biasanya emang ada rupa ada harga, asalkan sebelum beli di coba dulu, biasanya kan ada testernya tuh mba. Gak bisa juga ngambil resiko langsung beli-beli aja. Karena terkadang tampilan tak seindah realita πŸ˜‚

      Konon orang luar, kalo udah nyicip mie celor akhirnya jadi doyan mba. Meskipun saya sendiri gak begitu doyan (dont know why) tapi orang laen doyan semua πŸ˜‚

      Untuk pertama kalinya, mba wajib coba kayaknya, siapa tahu nanti jadi makanan favorit berikut nya seperti mba eno yang kebayang-kebayang setelah pertama kali nyoba πŸ€­πŸ˜‚

      Hapus
  8. Wahh anak desain tho adeknya mba rini. Saya juga dikit-dikit ngerti desain, ya walau masih kaku. Soal e saya tipe pendesain yang raga sederhana (tak pandai membuat menjadi persis). Ya gitu, paling sebatas bikin poster, sertifikat, cv, frame ala2 dll. Haha, kalo ilustrasi macem yang di postingan ini duh susah kali itu. Kerenlah ya hehe

    Nah ngomongin soal makanan yang khas dengan Palembang. Sebagai seseorang yang memiliki darah keturunan orang Palembang, saya mah bisa dibilang suka semua sama yang mba tulis imi🀣
    Tapi, makanan yang paling legend menurut saya itu maksuba. Tiada tanding! Kalah telak jejeran bolu di sampingnya. Wuenak mantap poll *dih lebay wkwk

    Serius sih maksuba memang enak, tapi ya sebanding juga dengan bahan-bahannya. Kalo beli jadi juga mahal. Terus, pempek itu duh ikonik sekali dengan Palembang. Jangan ngaku pernah ke Palembang kalo belom nyicip pempek. Nah kalo kemplang, di dusun saya sini nyebutnya tetap kerupuk mba. Tapi, kalo yang kemplang panggang kami nyebutnya kerupuk panggang. Jadi ngiler baca tulisan mba rini siang bolong kek giniπŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo sering latihan lama-lama juga nanti jadi pro mba 😁

      Tos mba, favorit banget itu, yak 😁 sayang mahal πŸ˜…πŸ˜‚

      Beda yah, padahal gak jauh-jauh amat daerah nya mba ya. Kalo kemplang ini, yang biasa murah meriah (tau kan mba) yang pake ikan sungai itu. Kemplang Panggang sambelnya warna merah encer. Tapi kalo yang Premium ato yang pake ikan tenggiri tapi di panggang itu, di sebutnya kemplang badak sambelnya warna item.

      Mantep galo-galo, apolagi makannyo sore-sore sambil nongkrong rame-rame depan rumah πŸ˜‚

      Hapus
  9. Eh ya ampuuunnn, itu pempek dan es kacang merah kenapa berdampingan mereka? itu kesukaan saya banget, meski jujur saya lebih suka makan pempek keringan ketimbang pakai saus :D

    Bahkan saya lebih suka dicocol sambal aja, rasanya duuhh lebih nikmat, mungkin karena saya penikmat ikan kali ya :D

    Dan es kacang merah itu.
    Kacang merahnya sih sebenarnya, saya suka diapain aja, entah dijadikan minuman maupun makanan kayak sup kacang merah.

    Kenplang iwak itu belum pernah tahu saya, tapi kalau dia berbahan sagu, sepertinya enak tuh, saya juga suka pangan dari bahan sagu :D

    Oh ya, buah duku itu sama nggak sih dengan langsat? karena kami di Buton menyebut semua jenis buah gitu dengan sebutan langsat.
    mau yang kulitnya agak hitam, maupun kuning langsat bersih, yang manis , yang kecut, pokoknya langsat hahahaha.

    Noted nih ya, kalau ke Palembang kudu cicipin semua jenis makanan ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda mbak, duku ya duku, bukan dukun apalagi Langsat.🀣

      Hapus
    2. Terima kasih atas partisipasinya Mas Agus, karena sudah membantu saya menjawab beberapa komentar yang masuk, hihihi. πŸ˜‚

      Maklum, sibuk banget di rumah, baru bewe sekilas sekilas aja. Sibuk ngapain? Sibuk mikir aja, jadi buat baca tulisan temen-temen suka gak konsen, belum lagi banyak yang gangguin kalo saya bewe pake hp, ntar salah komentar karena salah pencet, soalnya berapa kali di blognya mas agus begitu, jadi beberapa komennya ada yang saya hapus (ngetiknya blom selesai udah ke pencet publish) πŸ˜‚

      Hapus
    3. hihihi, emang dua sejoli itu mba rey, dimana-mana emang begitu, sudah takdirnya πŸ˜‚

      Mungkin mba rey cocoknya makan pempek yang pake cuka merah, nah itu lebih mirip kayak sambel menurut saya πŸ˜‚

      Kemplang itu kayak kerupuk ikan mba tapi mulus, kayak kerupuk udang tapi dari ikan πŸ˜‚

      Beda mba, kalo langsat itu lebih asem-asem manis lebih berair, bijinya lebih dominan dari daging buah dan buahnya bertangkai kayak anggur kalo dijual. Kalo disini disebut Rambe atau rambai.

      Kalo ke Palembang emang Harus nyicip semua itu mba, biar afdol jalan-jalannya 😁😊

      Hapus
  10. Mbak Riniiiiii.. Ini kyknya aku salah nih, main ke sini pagi-pagi. Beberapa jam yang lalu sudah makan sahur tapi sekarang sudah lapar lagi gara-gara baca artikelnya Mbak Rini. Astaghfirullah, khilaf aku.

    Ngomong-ngomong, setelah baca ini aku jadi pengen main ke Palembang. Pengen merasakan makanan-makanan ikonik Palembang langsung di Palembang nya. Soalnya kan kalau beli di sini rasanya gak terjamin sama seperti yang asli di sana. Pengen banget wisata kuliner di sana. Tapi sayangnya ada Corona. Ih jadi sebel deh gak bisa kemana-mana gara-gara Corona.😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo ke Palembang jangan lupa belikan aku oleh oleh ya mbak Roem, krupuk kemplang atau buah duku satu karung 🀣

      Hapus
    2. Iya Mba Roem, maafin saya udah bikin khilaf πŸ˜‚

      Mo beli online juga gak memungkinkan kayaknya ya mba. Apalagi kalo sekalian beli duku satu karung buat mas agus, entah berapa ongkirnya ituh πŸ˜‚

      Hapus
    3. @Mas Agus; tenang, mas. Kalau aku ke Palembang pasti aku kasih oleh-oleh krupuk kemplang dan buah duku sekarung. Tapi dalam bentuk foto. Bwahahahaha. *Kaboooor πŸƒπŸƒπŸƒ

      @Mbak Rini: seharusnya sampai aku khilaf tingkat lanjut ya, Mbak Rin. Minimal khilafnya sampai habis satu piring mie instan. Kalau lupa kan gak dosa ya. Hehehe.πŸ™ˆ

      Kalau mas Agus sih gampang. Dikasih fotonya krupuk kemplang sama duku aja sudah cukup kyknya.🀣🀣🀣

      Hapus
  11. aku kangen kuliner ke palembang :(.. Ya ampun kalo kesana itu kayaknya butuh waktu lama deh, saking ga puasnya nyicipin kuliner :D... aku 4 hr di palembang berasa kurang mba..

    dari semua yg mba tulis, cuma maksuba yg aku ga suka.. mungkin krn manis yaaa.. aku cendrung suka yg gurih soalnya...

    kalo mie celor, ama sepupu yg org palembang, aku diajak icipin yg 26 ilir, dan mie celor poligon. sbnrnya sama2 enak sih, tp memang yg poligon lebih juara dikiit dr yg 26 ilir ;p. lokasinya aja tuh yg jauuuh banget.

    tp dari semua menu palembang, aku tuh paling suka ama celimpungan dan burgo mba. pasti itu duluan yg aku cari kalo kesana... trus martabak har juga harus diicip, ama pindang udang sovia dengan udangnya yg segede tangan hihihihi. tuh kaaaan, ga abis2 kalo bicarain makanan di palembang ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah keliling Palembang banget mbaknya ini yah πŸ˜‚

      Sebenernya pengunjung kadang suka terkecoh dengan mie celor di 26 Ilir karena ada beberapa yang mempergunakan 26 ilir di belakang papan namanya, tapi yang bener-bener juara itu yang kiosnyo kecil mba pas nyelip dideretan yang jual pempek, bukan di ruko ruko di deket situ yang tempatnya udah bagus.

      Kalo yang di Polygon belum pernah denger, mungkin karena saya maennya kurang jauh dan sebenere karena saya bukan penggemar mie celor juga kali yak hihihi.. tapi suami dan keluarga aja.

      Benerkah mba suka celimpungan? padahal itu salah satu makanan yang kurang diminati dibanding yang laen kayaknya. Jarang dijual kalo gak pas bulan puasa atau hanya di beberapa tempat aja (bukan selera sejuta umat soale) πŸ˜‚, berarti mbak udah menemukan celimpungan terenak sampe bisa jadi suka ya, mba 😁

      Martabak HAR mah udah gak di ragukan lagi. Kalo Pindang Udang apalagi (cuman baru denger nama tokonya), tapi kalo soal harga, Udangnya kadang bikin kantong bolong juga sih, karena gak bisa makan dikit, nagih πŸ˜‚πŸ˜ tapi kalo pindang tulang dan ikan, coba ke Pindang Walikota mba, manteb banget, karena disana ada sate manisnya juga, selain RM. Sri Melayu sih πŸ˜‚πŸ˜

      Hapus