Menjadi ODP meski di Rumah saja

by - 29 Juni


Perlu diketahui, mungkin tulisan ini akan berefek psikosomatis (mungkin saja). Jadi silahkan beralih ke postingan saya yang lain yah, kalo dirasa akan berakibat buruk setelah dibaca. 

Back on track setelah beberapa bulan penggemukan. Akhirnya berat badan saya turun (bukan karena takut dijadikan kurban saat idul adha, yak) tapi karena lemak di perut yang memang sudah pelan-pelan kembali menipis. Makanan berminyak, makanan manis dan segala kuliner khas lebaran itu kalorinya sangat tinggi, meskipun yang dimakan hanya separuh dari takaran biasa, termasuk gorengan dan juga hidangan bersantan. 

Jangan tertipu dengan jumlah porsinya yah, karena dalam 100 ml minyak goreng saja sudah mengandung 818 kal dan 387 kal dari 100 gram gula pasir yang biasanya ada di dalam kandungan bahan kue atau sambal geprek sekalipun. Kalorinya jauh diatas 0.5 mangkok nasi yang hanya 121 Kalori. 

Walau kelihatan makannya hanya sedikit, lalu dengan penuh semangat berusaha menahan lapar karena ketidaktahuan. Padahal, justru kalorilah yang bikin lemak di tubuh bertambah. Bukannya melangsing, malah lemak yang akan menebal di sana sini. 

Jadi sudah tau kan? Yang mana yang lebih mengenyangkan jika di konsumsi tapi gak cepet bikin gendut atau mengapa orang gemuk gak kurus-kurus meskipun makannya sedikit? Bisa jadi itu salah satu alasannya.

Sayangnya, yang ingin saya ceritakan kali ini lagi-lagi bukan tentang diet atau karena menjaga pola makan yang telah ikut andil menurunkan berat badan. Melainkan karena ngedrop lantaran dua kali mendengar kabar, bahwa suami sempat berinteraksi dengan mereka-mereka (rekan kerja) yang dinyatakan positif Covid. Yang pertama kemaren, sepertinya tidak ada kabar buruk yang kami terima. Tapi yang kedua ini cukup menggegerkan otak dan hati saya. 

Suami diwajiban ikut tes swab, karena telah berinteraksi langsung (tanpa masker dan jaga jarak) dengan rekan kerja yang dinyatakan positif COVID 19, tertular dari istrinya yang berprofesi sebagai nakes. Sangat mengejutkan buat saya, karena setelah mendengarnya dua hari yang lalu, saya langsung reflek ke kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang sudah saya telan sebelumnya. Setelah itu saya langsung lemas, karena teringat dengan semua anggota keluarga yang saat ini sedang sakit. 

Mungkin beginilah rasanya jika menjadi bagian dari daftar orang-orang yang terkena wabah, yang datanya selalu di update dan di umumkan setiap hari itu. Belum tentu positif pun, sudah membuat saya kalang kabut karena dengan segala upaya sudah saya dan anak-anak lakukan untuk tetap di rumah, namun pada akhirnya masih juga harus berstatus ODP.

Di depan anak juga di depan Suami saya biasa saja, meski tidak bisa ditutupi, semangat saya dalam melakukan aktifitas sehari-hari telah hilang entah kemana. Tubuh saya terasa lemah, jantung terus-terusan berdebar, seolah dada ini telah berlubang karena tidak sanggup lagi menahan batu yang telah lama mengganjal. Belum lagi dengan sakit kepala yang tiba-tiba datang, lenyap lalu kemudian datang lagi. Bersamaan dengan datangnya pilek, batuk, sakit pinggang, sakit tenggorokan dan lidah yang kadang seperti kesemutan. Kadang mati rasa, karena asam lambung saya kumat lagi untuk ketiga kalinya setelah terakhir saya rasakan di ramadhan lalu. Saya merasakan lelah yang teramat sangat.

Saya butuh bahkan harus, untuk berpikir positif, agar daya tahan tubuh ini tidak melemah. Saya ingin sehat, ingin menjaga anak-anak, meskipun saya tau, suami memiliki penyakit bawaan dan sudah melewati golongan usia aktif. Entahlah, saya bukan hendak membagi kecemasan. Hanya saja saya butuh mencabut semua duri-duri yang sudah menancap di otak dan hati, karena tidak mungkin saya berbagi dengan orang-orang sekitar. Saya butuh orang-orang yang tidak pergi ketika saya dengan lugasnya bercerita tentang nasib keluarga kecil kami. Karena satu hal yang masih saya yakini, bahwa sampe sekarang belum ada yang tertular COVID 19 karena berinteraksi melalui internet (siapa yang gak tau itu). 

Saya kecewa, setelah berbulan-bulan kami hanya di rumah. Dengan berbagai cara dilakukan untuk menjaga kesehatan, tiba-tiba semuanya harus sia-sia karena keegoisan orang-orang yang lebih mementingkan kenyamanan dirinya. Tidak tahan dengan pengapnya masker, tidak tahan harus selalu mencuci tangan setiap waktu dan menganggap remeh bahwa mereka yang bertubuh sehat dan bugar itu tidak akan menulari (OTG). Terlebih ketika pemerintah telah menghimbau pelaksanaan New Normal. Seolah menganggap keadaan sudah kembali seperti sedia kala. Seolah wabah telah sirna dari muka bumi ini.

Selama menunggu hasil tes yang akan segera diberitahukan, besok. Bayangan tentang masa depan pun telah lama lenyap, hidup kami hanya berputar di situ-situ saja. Suami lebih banyak diam, anak-anak belum mengerti, tapi kami jadi lebih sering merangkul, mengeratkan diri satu sama lain. 

Saya ingin lebih banyak tertawa, meski pada kenyataannya air mata yang lebih banyak tumpah setiap kali anak-anak berada dalam pelukan.

Semoga apa yang saya takutkan tidak terjadi, dan walaupun terjadi semoga kami masuk dalam golongan mereka-mereka yang mampu melewati musibah ini. Amiiiin ya robbal alamien..

Cerita dari seorang Kawan

You May Also Like

23 Comments

  1. Mbaa, ini Mba Rini kah yang diceritakan?
    Atau orang lain?

    Jadi pengen peluk Mba, masha Allaaahhh...
    Saya bisa merasakan bagaimana kegundahan hati, bismillah, semua akan baik-baik saja Mba.

    Bismillah, Allah selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya.

    Sumpah ya, gemes juga dengar ceritanya, terlebih rekannya udah tahu kalau istrinya nakes, di mana potensi tertular itu tinggi, bahkan setiap hari dia bisa dikategorikan ODP dengan OTG, berani-beraninya dia buka masker.

    Saya kadang geram dengan orang yang egois seperti itu, pengen rasanya jambakin rambutnya *astagaaaa...
    Maafin Mba, emosi jadinya.

    Insha Allah semua bakal baik-baik saja ya Mba, semua akan kembali seperti semula, tetap semangat ya Mba, insha Allah kita semua saling mendoakan, agar selalu dilindungi dari virus tersebut, insha Allah ya Allah :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibawahnya itu ada tulisan cerita dari seorang kawan mbak, jadi kemungkinan bukan mbak Rini yang kena.πŸ˜ƒ

      Hapus
    2. Nah iya, makanya saya agak bingung, semoga bukan Mba Rini, kalaupun iya, insha Allah semua bakal baik-baik saja ya Mba, semangaaattt :)

      Hapus
  2. Yang sabar ya mbk.rasanya pasti berat dan nggak mungkin nggak kepikiran, apalagi ini memang bukan hal yang sepele. Semua orang juga pasti takut kalau mengalami hal yang sama dengan mbk rini.
    Banyak berdoa dan berpikir positif mbk, insyaallah semua baik-baik aja. Pikiran yang sehat pasti akan berdampak sama tubuh yang sehat.
    Memang nyebelin orang-orang yang masih seenaknya nggak mematuhi protokol kesehatan padahal jumlah pasien makin bertambah. Seharuanya kalau nggak peduli sama diri sendiri, jangan merugikan orang lain juga.

    Semoga tetap sehat sekeluarga mbk, saya doain dari sini😊

    BalasHapus
  3. Mba rini, big hug

    Insyaalloh hasil tesnya baik mba, kami temen2 yang sering haha hihi di kolom komentar tentu aja ga akan meninggalkan seorang kawan hanya karena hal ini, meskipun kami juga sama cemasnya soalnya belum tahu juga kan kondisi kami ini uda terpapar juga atau belum, semoga sih ga ya...kalaupun terpaparpun insyaalloh jika daya tahan tubuh membaik akan sembuh dengan sendirinya sembari terus berikhtiar juga berdoa pada yang Kuasa (makanya perlu support khusus dari orang terdekat juga teman2 supaya kita selalu ceria dan effectnya bisa berpengaruh sama pikiran yang tetep happy),

    namanya wabah ya jadi bukan suatu aib, jadi ga pa pa banget

    Ga usah dulu ngelihat info2 covid mba, akupun akhir2 ini suka stress ndiri kalau liat berita judulnya covid, soalnya terasa di ulu hati andai memposisikan diri sebagai subjek yang diberitakan setiap hari, mana model headlinenya hanya tentang angka saja yang dibesar-besarkan. Padahal kita butuh happy biar psikis juga waras yakan..

    Tapi semoga sih kita semua sehat2 selalu ya mba rini, amiiiiiin

    BalasHapus
  4. Tadinya aku jujur shok karena tidak mengira kalau ada seorang teman blogger yang kena status ODP, tapi setelah baca sampai akhir sepertinya ini cerita dari teman mbak Rini kan.πŸ˜ƒ

    Semoga sekeluarga sehat selalu mbak. Dan semoga setelah suami temannya di tes swab hasilnya negatif.

    BalasHapus
  5. Yaa membaca cerita diatas tentang ODP apapun bentuk sebab kejadiannya mau orang lain atau sang admin sendiri yang menulis disini. Meski saya yakin ini bukan kejadian yang menimpa sang admin di blog ini.😊😊

    Sebagai penderita ODP intinya kita juga tak bisa harus pasrah atau mengutuk diri...Meski dalam pengawasan jangan pernah berhenti untuk menyemangati diri kita sendiri untuk terlepas dari beban yang kita rasakan. Karena yang saya tahu ODP bukan suatu momok yang menakutkan.

    Dan sebagai ODP yang lam menjalankan isolasi mandiri di tempat tinggal sendiri kita juga tak perlu takut dan malu untuk selalu memanggil team medis atau meminta bantuan kepada warga sekitar yang bertanggung jawab atas kesehatan lingkungan itu sendiri. Meski terkadang dalam hal ini sering menjadi pro dan kontra.

    Tetapi apapun alasannya sebagai ODP jangan pernah putus semangat untuk mencapai kesembuhan yang baik, Agar tidak kembali membuat rentetan kepada yang lainnya termasuk orang yang berpengaruh dalam lingkup keluarga ODP itu sendiri.

    Semoga wabah covid 19 ini cepat segera berlalu yaa mbak Rin. Meski keadaan sudah memasuki New Normal tetapi kita juga tidak bisa seenaknya mengabaikan kesehatan begitu saja.πŸ˜ŠπŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kang satria, biarpun sekarang sudah keadaan new normal tapi kang satria jangan suka mangkal.πŸ˜„

      Hapus
  6. Mbaaa? 😱

    Ini cerita mba Rini atau teman mba Rini kah? Semoga siapapun yang mengalaminya, bisa tetap dalam keadaan baik-baik saja dan tegar 😭

    Kebayang banget sih rasanya, sudah usaha untuk jaga diri dan keluarga agar dijauhkan dari Corona, even berbulan-bulan memilih nggak ke mana-mana, tapi ended up tetap kena hanya karena kelalaian seseorang 🀧

    Yang kuat yah untuk mba ataupun teman mba πŸ˜– semoga bisa melewati segala cobaan dengan hati lapangan dan tenang ❤

    Take care mba ~ *hug*

    BalasHapus
  7. Sing sabar ya Mbak...

    Hem.. saya sendiri sempat mengalami situasi menegangkan seperti ini. Meski tidak seburuk yang dialami mbak.

    Pertengahan Juni yang lalu, kebetulan, saya bersama istri dan si kribo ke supermarket bangunan. Tidak pernah terpikirkan apa-apa saat itu.

    Cuma tiga hari kemudian, ribut di media massa kalau tiga/empat pegawai supermarket yang kami datangi itu ternyata positif Covid. Wadaww...

    Beberapa tetangga juga ke supermarket yang sama hanya berselang 1-2 hari.

    Suasananya bukan cuma psikosomatis saja yang terjadi. Kami akhirnya melaporkan ke petugas gugus tugas Covid bersama dengan beberapa tetangga yang kesana juga.

    Kami diminta untuk tetap tinggal di rumah, kalau tidak terpaksa. Entah status kami waktu itu apa, tapi saya paham sekali kondisi mbak Rini, karena bisa dikata suasana menegangkan juga terjadi di rumah.

    Cuma untungnya, saya dan si kribo kalem ajah, jadi ibunya akhirnya kebawa tenang.

    Yah kami jalani saja.. dan Alhamdulillah sampai lewat masa 14 hari tidak terjadi apa-apa.

    Cuma, ngerti banget kalau susah berpikiran positif dalam situasi demikian.

    Tapi, perbanyak berdoa mbak supaya hati tenang dan imun tidak turun. Kadang yang seperti ini sangat membantu melewati situasi yang ada.

    Sing sabar ya mbak.. Insya Allah mbak sekelurga akan sehat walafiat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kejadian gitu nggak disuruh rapid test ya Pak?
      Saya beberapa minggu lalu sempat keluar ke taman, baca keadaan saat ini, jadi kembali ngendon di rumah deh jadinya, biar aman :D

      Beruntung sekolah anak saya menerapkan sekolah online lagi, jadi insha Allah tetep di rumah aja.

      Jadi ingat kapan hari saya berdebat dengan klien yang nyuruh kami ke store karena campaign store, alasannya udah new normal, jadi bisa ke sana, saya udah parno duluan dan nolak, untungnya sih dia mengerti :D

      Hapus
  8. Terlepas siapapun yang menjadi cerita di tulisan ini, aku berharap semoga tetap dalam keadaan aman dan dilindungi oleh Allah.. Aamiin

    BalasHapus
  9. Semoga yang sakit bisa segera sembuh dan pulih kembali kesehatannya. Saya tidak bisa membayangkan kalau harus berada di situasi tersebut, mungkin saya cuma bisa pasrah dan iklhas dengan kehendak Tuhan.
    Semoga kita semua tetap semangat dan disiplin menerapkan protokol pencegahan penularan, terutama untuk diri sendiri dan keluarga di rumah. Kalau ada teman yang mengabaikan itu, mungkin ini waktu yang tepat untuk berpisah. Sebaiknya dijauhi saja kalau memang orang yang abai itu tidak bisa diberi tahu.

    BalasHapus
  10. Semoga ini sih ga terjadi yo mbak... Berfikir positif aja, karena gimanapun juga ini ga mudah, tapi juga jangan di buat stres yo mbak,karena berpengaruh banget, sy bukannya sok ngajarin ato sok tau, karena psikis yg ngedrop bakalan bikin imun kita lemah dsn sy pernah ngalamin kejadian ga enak karena kelewat mikir yg blom jelas... Intinya tetep saling memdukung, sy setuju dengan kang Satria di atas, gak perlu takut dan malu dengan status ODP atopun OTG, karena gimanapun kita udah menjaga dengan keras dan disiplin, kalo yg diatas berkehendak lain, kita bisa apa, tetep semangat mbak
    .semoga selalu diberi kekuatan dan kesehatan selalu... Aamiin YRA...

    BalasHapus
  11. jadi ini cerita dari kawan kan bukan kisah mba?
    Siapapun itu, semoga hasil swabnya negatif ya mbaa dan kita semua diberi kesehatan.. Amiiinn

    BalasHapus
  12. membaca cerita dari yg status odp, haa bikin psikomatis mbak, meskipun cerita ini kawannya mbak, tapi tetep sampe pesannya keorang2 yg sehat seperti saya. bener2 wabah ini bukan main2

    BalasHapus
  13. saya mengisolasi diri pas awal korona dulu soalnya baru pindah kota
    belum dapat OPD tapi iya lumayan stres apalagi sempat pilek dan panas
    memang pikiran amat berpengaruh dalam mengahdapi pandemu ini
    semoga saja segera berakhir dan orang orang yang masih bandel enggak pakai masker segera diberi hidayah

    BalasHapus
  14. Menyentuh hingga ke ujung qolbu mbak bacanya. Deg-degkan iya, mau nangis iya juga, mau stay positif juga iya.

    Heran juga sama orang lain yang hanya bertindak semaunya. Ke luar tanpa memakai protokol kesehatan. Duh dunia kenapa begitu banyak yang egois. Dan jangan-jangan tanpa sadar malah kita keikut egois pula :(

    Stay safe, stay home.

    BalasHapus
  15. mba... yang kuat dan perbanyak doa ya.. niscaya yang Diatas akan melindungi seluruh keluarga, amin!

    BalasHapus
  16. Hmmm ternyata bukan Mbaknya ya.. btw, utnuk temannya itu, semoga selalu waras ya pikirannya.. Jangan setres atau apalah.. bisa mempengaruhi imun tubuh. TEtap stay home dulu sambil mengkonsumsi makanan2 bervitamin... Jangan Panik intinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali ya bang, intinya jangan panik karena bisa menurunkan daya tahan tubuh.

      Tapi kalo dengar berita seperti itu bisa jadi shok dan susah berpikir positif.

      Hapus
  17. Mba Rini, siapapun yang sedang ada di cerita ini, saya doakan semoga semuanya baik2 saja. Aamiin.

    BalasHapus
  18. Semoga kita semua diberi kesehatan. Amiin.
    Saya ga kuat baca sampai tuntas, suka terbawa perasaan dan sangat sentimental

    BalasHapus