Menjadi Karyawan & Bos Idaman

by - 26 Juli


Menjadi Karyawan & Bos Idaman

Bicara tentang menjadi Bos idaman, mari kita menilik Sebuah Drama Korea yang berjudul Pegasus Market. Kalo di toko-toko atau tempat usaha biasanya menggunakan slogan "Pelanggan adalah Raja." Maka beda lagi di Drama yang satu ini, karena yang menjadi rajanya itu justru adalah para karyawannya. Yang juga berarti Si "Karyawan adalah Raja." 

Alur cerita anti mainstream, kocak dan sukses membuat saya over ngakak di banyak scene tapi tetap terasa menohok bagi penonton. Karena dibalik keabsurdannya banyak makna dan sudut pandang baru tentang cara berpikir seorang pemimpin yang bisa dikatakan "jenius". 

Meski pada kenyataannya, kejeniusan ini akan tetap menjadi sebuah misteri hingga di akhir episod, kenapa? Karena bisa jadi, itu semua hanya berawal dari kebetulan semata akibat kesalahan strategi demi terbalasnya sebuah dendam. πŸ˜‚

Tapi apapun itu, Dia adalah seorang pemimpin yang tidak biasa dengan empatinya yang juga tidak biasa, karena orang yang sudah meninggal pun bisa direkrutnya menjadi seorang karyawan. Pemimpin yang bisa dikategorikan sebagai salah satu tipikal bos yang diimpikan bagi banyak karyawan meskipun dengan tingkahnya yang unik nan ajaib, Terutama bagi para pelamar yang tidak berpendidikan tinggi tapi ternyata memiliki bakat unik dan skill tersembunyi. πŸ˜‚

Makna tentang memberi dan menerima yang semestinya, antar atasan dan bawahan di drama ini sebenarnya bisa jadi adalah ungkapan hati semua karyawan di seluruh dunia. Yang tidak pernah tercetus dan tidak berani mereka ungkapkan secara terang-terangan dari mulut mereka sendiri, secara langsung di depan pimpinannya. 

You knowlah, apalagi kalo bosnya itu tipe-tipe close minded, banyak maunya dan medit pula (tidak ada empati-empatinya terhadap karyawan). Gimana mau diajak becanda, melakukan kesalahan sedikit saja bisa-bisa kitanya yang dibabat habis πŸ˜‚πŸ˜…. Layaknya tipe pimpinan yang menegaskan kepemilikan dan kekuasaannya di depan semua orang, maka Si Bos lah yang paling benar sekalipun kebenaran itu masih diragukan.πŸ˜‚ Kecuali emang dari awal kamu udah menyiapkan mental kalo suatu saat bakal dipecat atau malah gaji kamu yang dipotong dan berakhir menjadi bahan rumpian. πŸ˜‚

Namun terkadang, betah atau tidak betahnya kita di tempat bekerja atau sebuah instansi, sebenarnya tergantung motivasi ato faktor awal kenapa kita memutuskan untuk bekerja.

Sudah bukan menjadi hal baru, dimanapun kita berpijak pasti akan ada yang enak dan gak enaknya, apalagi jika itu menyangkut masalah pekerjaan. Ada yang bilang, bekerja dimanapun sama saja. Asalkan kita bisa pintar-pintar membawa diri dan mengutamakan profesionalitas. Kadang orang melihat kita bekerja di tempat yang kelihatannya bagus, tapi ternyata sebenarnya tidak, begitupun sebaliknya kita juga menganggap orang lain seperti itu. 

Ada yang nyantai bisa libur, tapi gajinya juga kecil. Ada yang jarang libur, pekerjaan numpuk, tapi yah sebanding juga dengan jumlah gajinya. Kalo pengen yang lebih enak lagi, ya gak usah kerja. Mending investasi saham, menyewakan kos-kosan ato membuka bisnis. Dengan menyewakan villa di Bali misalnya *eh gak yah, beda itu mah😜🀭. (langsung sungkem ke Mba Eno)πŸ™‡‍♀️😁

Atau cari orang kaya yang mau diajak nikah πŸ˜‚πŸ˜…. Asal gak jadi pelakor ato pebinor aja, yah. Seputus-putus asanya kamu, plis don't do that ya adek-adek. πŸ˜…

Untuk membuka usaha sendiri pun juga gak mudah, karena gak ada yang langsung sukses. Kita musti punya modal dulu. Dan salah satu modal selain pengalaman itu adalah duit. Dari mana datangnya duit kalo bukan hasil dari bekerja. (kecuali ortu kamu emang punya harta sampe tujuh turunan, yah gak masalah banget itu mah) πŸ˜‚ jadi kan enak gak perlu kerja seumur hidup. Itupun kalo Orangtua kamu gak menuntut kamu untuk bisa menjadi seorang anak yang mandiri.

Tidak adanya motivasi yang kuat atau tanggungan demi memenuhi tuntutan hidup, bisa menjadi salah satu faktor yang membuat kita jadi lebih mudah memutuskan untuk mengundurkan diri, dan pindah dari satu tempat ke tempat lainnya jika dirasa tidak cocok atau tidak layak. Apalagi ternyata banyak pilihan dengan pengalaman dan skill yang juga mendukung. Maka dengan mudahnya kita menolak dan mencari tempat lain untuk bekerja. Meskipun sebenarnya gak segampang itu juga, karena semakin hari persaingan akan menjadi semakin ketat. Koneksi dan relasi juga merupakan hal terpenting yang paling dibutuhkan untuk memuluskan jalan, agar kita lebih mudah memperoleh informasi pekerjaan yang diidamkan.

Mendapatkan posisi dan kedudukan yang bagus dalam pekerjaan itu rata-rata karena bersakit sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Jangan mentang-mentang udah lulus kuliah di fakultas ternama, dan mengira bisa langsung bekerja. (Yah kali, bapaknya orang penting atau punya koneksi kelas atas, mungkin bisalah). Kalo kagak punya? pastikan dulu skill yang ada emang sudah mumpuni dengan nilai diatas rata-rata, meskipun belum tentu juga nantinya bisa keterima. 

Karena kamu harus tau, gak cuma kamu yang kompetensinya bagus. Masih banyak diluar sana yang bahkan jauh lebih mumpuni tapi ternyata PENGANGGURAN karena gak punya relasi dan koneksi. Yang mau kerja apapun selagi mampu dan gak bikin makan hati. Begitu mereka mendapatkan sebuah pekerjaan, dipastikan mereka lebih bersemangat, tahan banting dan rela bekerja keras. Gak dikit-dikit ngomong capek, dikit-dikit ngomong tempatnya gak enak, dikit dikit pengen berhenti. Dikiranya nyari kerja sama kayak nyari recehan. Kapan bisa majunya kalo kayak gitu terus, bro, sis? 

Kok jadi bikin emosi, yah.  πŸ˜‚πŸ˜…

Entah apakah ini mental pemalas, mudah menyerah atau budaya tinggal terima enaknya saja? Atau malah sebenarnya karena merasa yakin bahwa dirinya pantas mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Meskipun pada kenyataannya, baru jadi anak kemaren sore, skill pun lebih banyak diasah dari youtube dibanding prakteknya, tapi sudah berharap punya kedudukan sama, seperti mereka yang sudah mahir dan berpengalaman. Yah kagak bisa, coy. 

Fiyuh! πŸ˜ͺ

Kitalah yang harus membuat diri kita nyaman karena kita yang butuh uang. Kalo kita menuntut sebuah kenyamanan dan gaji yang tinggi, maka berusahalah untuk menjadi seorang bos bukan hanya sebagai karyawan. Untuk banyak kasus, dengan menjadi pimpinan pun belum tentu masalahnya akan lebih ringan, karena jabatan atau pekerjaan apapun itu pasti memiliki tantangan dan masalahnya tersendiri yang bisa jadi lebih berat. Dimana kemampuan yang besar itu pasti diiringi dengan tanggung jawab yang juga sama besarnya. Hanya saja, level fasilitasnya yang membedakan. Biasanya.. πŸ˜‚πŸ˜…

You May Also Like

37 Comments

  1. Bener sih Mba Rini, balik lagi ke tujuannya masing2 mau kerja dalam rangka apa.
    Trus kalau udah gitu, ya jangan dilakukan dengan terpaksa. Lakukan semaksimal mungkin, karena ga ada yg sia2 kan.. Mungkin yg ga bs dpt gaji sesuai yang diinginkan, dikasi kelonggaran waktu buat hobi dan keluarga. Atau mungkin bos ga enak, dpt temen2 kerja yg enak. Pasti selalu ada yg bisa disyukuri, tergantung dr sisi mana kita ngeliatnya kan 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, betul sekali Mba 😁 selagi kita punya pekerjaan yah jalani aja, kecuali udah punya calon tempat kerja baru. Kalo blom ada yah sabar dulu, nunggu udah dapet yang baru bolehlah kalo pengen pindah kerja πŸ˜‚

      Hapus
  2. Setuju sama kak Rini, bahkan sebenarnya menjadi bos itu nggak bisa dibilang enak juga. Kebanyakan orang pengin gaji besar tapi pekerjaan sedikit atau ringan, manusiawi sih tapi faktanya nggak bisa gitu kan. Dan tetap aja masih banyak yang nggak sadar bahwa hal itu nggak mungkin jadilah sering pindah-pindah tempat kerja πŸ˜…
    Menurutku, kalau mau gaji besar, tanggung jawab pasti besar. Itu nggak bisa dielakkan deh hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin buat yang baru-baru lulus ato fresh graduate, perlu juga pandangan seperti ini ya Lia (buat mereka yang gak tau), biar tau step by stepnya. Biar gak salah langkah juga. Karena kan ada juga, sebuah kerjaan meskipun keliatannya gak penting ternyata menjanjikan atau kerjaannya itu memberikan kita sebuah pengalaman, sebagai bekal buat kita nanti jika ingin bekerja di tempat yang sesuai keinginan atau yang diidamkan. 😁

      Hapus
  3. Mbaa Rini.. saya baca ini kayak lagi ngerap tahu nggak sih?
    Mba Rini juga nulisnya gitukah? :D
    Saya jadi penasaran banget ama film itu, mau nonton ah.

    Btw, kalau dalam dunia kerja, kayaknya saya beruntung terus kalau ngomongin bos, setidaknya saya belom pernah ngerasain drama dimarahin bos.

    Saya sensian soalnya, makanya sebelum dimarahin, saya menghindari duluan hal-hal yang salah, bekerja bahkan di atas jobdesc saya, dan selalu berusaha yang terbaik, jadinya malah disayang bos.

    MESKIPUUUNNN, saya selalu kurang beruntung dalam segi gaji hahaha.
    Setiap kerja, selalu dapat yang gajinya pas-pasan, meski Alhamdulillah selalu pas, mau apa aja selalu pas ada duitnya :D

    Saya jadi ingat kata senior saya di kantor dulu, pokoknya kerja aja Rey, sebaik mungkin, masalah gaji dan rezeki, serahkan ama yang ngasih, mau gaji berapapun pasti akan dibayar sesuai jobdesc atau yang kita kerjakan.

    Dan memang benar sih.
    Alhamdulillah, rezeki itu ada dari mana saja.

    Dan Alhamdulillah, sama sekali nggak pernah kena marah bos :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Mba, tulisan ini emang sengaja saya tulis biar dibaca dengan ritme cepat kayak orang ngemsi/ agak pelan dikit dari komentator bola πŸ˜‚ khusus di bagian awal tentang dramanya *tapi sepertinya sampe ke ending tulisan kayaknya ini, yak πŸ˜‚πŸ˜… (lagi pengen iseng soalnya)🀣

      Ternyata Mba Rey bacanya kayak lagi ngerap yah, hahaha... (langsung ngebayangin Mba Rey ngerap)πŸ˜‚πŸ˜

      Betul banget Mba Rey, emang sebaiknya kita utamakan kewajiban kita dulu sebagai karyawan, baru kemudian memikirkan apakah imbalannya masih bisa kita toleransi. Yang penting kalo ada apa-apa, salahnya bukan di kita lagi, semua kewajiban sudah kita lakukan sebaik-baiknya. Jadi pihak atasannya juga gak bisa ngomong macem-macem. Kalo suatu saat kita mo cabut, gak ada yang kita sesalin lagi. πŸ˜…πŸ˜

      Hapus
    2. hahahahaha, atau sayanya yang terlalu semangat bacanya makanya jadi ngerap ahahaha :D

      Nah yang paling penting itu, kalau kita cabut, nggak akan ada orang yang bisa gantiin kinerja kita hahahaha.

      Saya resign di perusahaan sebelumnya, pas kami tuh lagi bikin sebuah project imposible we try kata si Kerani hahaha.

      jadi, si bosnya pengen nyambunging, keuangan di akunting, dengan keuangan proyek.
      Padahal itemnya aja beda, bisa dibikin tapi kudu manual, alias bikin aplikasi baru, yang tentunya harganya lebih mahal kan ya.

      Nah si bos ini nggak mau mahal, dia maksa beli aplikasi jadi yang tinggal masukin data, alhasil sulitttt banget, saya kudu bekerja ulang dari awal mengubah semua item pekerjaan proyek, dan sesungguhnya itu sebenarnya bukan tugas saya hahaha.
      Ya kali saya akunting dan IT :D

      Tapi gitulah saya, selalu mau aja disuruh apapun, sampai akhirnya saya resign karena anak nggak ada yang jaga.

      Alhasil proyek tersebut mangkrak sampai detik ini.
      Soalnya susah dan ribet, hanya orang yang mau-mau aja disuruh kayak saya yang mau ngerjainnya hahahaha

      Hapus
  4. Saya catat dulu judulnya, kayaknya menarik. Tipe-tipe drakor yang mirip Itaewon Class.

    Sebagai orang yang masih kuliah, saya belum relate dengan pembahasan dunia kerja ini. Terakhir saya kerja, itupun bantu orangtua saja. Saya tidak bisa mengukur kinerja saya dengan hasil yang saya dapatkan karena bosnya adalah bapak sendiri.

    Tapi memang kak Eno sewain vila yah? Keren. Saya taunya Bali dan Korea cuma tempat tinggal nya kak Eno

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo soal pekerjaannya sih setipelah sama Itaewon Class, Mas Rahul (kayaknya)πŸ˜‚. Beda di casting pemerannya juga, karena gak tau lagi yang mana yang ganteng, soalnya tampang para aktor komedi itu biasanya kan gak sejalan dengan aktor drama πŸ˜‚.

      Menurut saya justru kerja sama Orangtua itu bebannya lebih berat Mas Rahul, kadang jadi karyawan 24 jam. Tapi bisa jadi kita juga kerjanya anget-angetan tapi imbalannya malah lebih besar karena yah Ortu sendiri. πŸ˜‚

      Meskipun terkadang waktu kerja ato waktu libur campur aduk dengan gaji yang seadanya, istilahnya diharapkan kerja profesional tapi maaf, gaji dan aturan kerja relatif karena yang kita harapkan atau terima terkadang bukan uang tapi doa orangtua karena kita sudah jadi anak yang berbakti. πŸ˜‚πŸ˜

      Sangat berbeda memang kalo kerja dengan orang lain. Karena Tanggung jawab, disiplin, dan menaati aturan itu kadarnya lebih besar. Toleransinya juga gak sebanyak kalo kerja dengan Ortu sendiri. πŸ˜‚πŸ˜

      Berarti Mas Rahul blum baca postingan lama nya Mba Eno yah, ayo sana gih diubek-ubek dulu blognya *saya lupa judulnya πŸ˜‚, yang jelas tulisannya inspiratif dan nambah wawasan pokoknya 😊

      Hapus
  5. Mbaaaa, saya menonton ini juga tapi baru 4 episode hahahaha. Itu pun karena direkomendasikan oleh salah satu Korean partners saya. Dia bilang, "Lu tonton Pegasus Market gih, bagus banget ituh." πŸ˜‚ awalnya sangsi tapi jadi seru buat diikuti karena relate banget sama kehidupan kita 😁

    Setuju sama mba Rini, cari uang itu nggak mudah, jadi kalau mau hidup nyaman harus kerja keras dan nggak bisa ekspektasi banyak tanpa mengeluarkan efforts dan mengasah skill yang besar pula. Dan meski banyak yang bilang uang itu nggak bisa beli kebahagiaan, tapi nyatanya kita butuh uang untuk bayar tagihan bulanan mau itu listrik, air dan lain sebagainya 🀣 saya pun sebelum mulai terjun usaha juga pernah bekerja sama orang, jadi saya pernah ada di posisi bawahan dan tau rasanya serta paham apa yang diharapkan bawahan dari atasan. Setiap dari kita berproses pada intinya, dan saya berharap generasi ke depan tau kalau mencari uang itu nggak semudah membuat akun Youtube even Youtubers yang sudah terkenal membutuhkan proses dalam pembuatan konten agar bisa terkenal πŸ™ˆ

    Means segala sesuatunya nggak ada yang instan. Hehe. Terus motivasi yang kuat dan being realistis menurut saya sangat diperlukan. Ibu saya pernah bilang, "Boleh kalau mau jadi idealis, tapi nanti setelah kamu sukses. Sekarang realistis dulu. Berpijak di bumi dulu. Lihat realita hidupmu dulu." -- dari situ saya pelan-pelan berusaha menata hidup saya. Hehehehe. Terus pernah baca juga kalau cari kerja dapatnya nggak sesuai passion jangan jadi gundah gulana, melainkan harus berusaha agar pekerjaan tersebut menjadi bagian dari passion kita. Dan jangan mudah juga kebawa omongan para motivator untuk tiba-tiba berhenti kerja lalu cari peruntungan buka usaha tanpa ilmu yang cukup dan jelas. Karena itu bisa merugikan kita kelak. Jadi betul-betul segala sesuatunya butuh proses memang mba πŸ™ˆ semoga semakin banyak yang aware betapa pentingnya asah skill, atur motivasi dan lain sebagainya seperti yang mba Rini tuliskan 😍

    Thank you sudah bahas topik menarik ini, saya berasa ikut semangat 45 bacanya πŸ€­πŸ’•

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata-kata ibunya Mba Eno mirip dengan omongan saya kalo lagi ngomel ke adik-adik saya itu Mba πŸ˜‚πŸ˜…, Hanya bedanya, di dengerin sih iya tapi lewat aja. 😭

      Emang gak nyalahin, saya juga dulunya begitu.πŸ˜‚πŸ˜… Ngambil jurusan dan kerja sesuai passion, tapi kebetulan saat itu saya gak terlalu lama nganggur setelah lulus jadi keliatannya gampang nyari kerja. Padahal. beeeeh.., kerja keras nyari relasi yang tau info loker itu mereka gak tau gimana perjuangannya. Dan lagi jurusan saya ini dulu biasanya mah cowok semua isinya , beda banget kyk jaman sekarang, jauuh.. untunglah saya dulu bukan di kantor percetakan yang korannya harus sudah siap cetak tiap pagi(biasanya kan kerjanya itu dari malem sampe pagi), tapi hanya di advertising biasa. Itupun karena yang punya adalah temen sendiri πŸ˜‚πŸ˜…

      Dan sayangnya salah satu adik saya ngikutin jejak saya, dan ujung-ujungnya hampir tiap kali ada aja yang dikeluhkan. Kadang-kadang saya stress juga, padahal dulu udah dinasehatin, tapi yah gak mempan. Giliran sekarang, susah nyari kerja. Saya jugalah terpaksa ikutan turun tangan, bantu-bantu nyari kerjaan, yg kadang bikin kesel, ada beberapa kerjaan yang ditawarkan banyak banget alesannya buat nolaknya. Dan sepertinya tulisan ini emang buat dia sebenernya. πŸ˜‚

      Iya bener Mba, segala apapun itu butuh proses. Kadang-kadang buat mereka yang gak pernah tau susah, begitulah jadinya. Belum-belum udah nyerah, mentalnya gak siap. Karena emang belum pernah ngalamin yang jauh lebih sulit, makanya jadi kurang bersyukur. πŸ˜…

      Hapus
    2. Nah kan, saya bacanya terlalu semangat, jadinya kek ngerap hahahaha

      Hapus
  6. Mau tanya mbak, ini sebenarnya bahas drama pegasus market apa bahas masalah pekerjaan sih? πŸ˜…

    Tapi memang betul sekali. Jika tidak punya koneksi atau relasi akan sulit mendapatkan pekerjaan biarpun punya skill bagus. Tapi tak usah menyerah, asal punya duit maka untuk mendapatkan pekerjaan bisa mulus.πŸ˜‚

    Kalo sudah dapat pekerjaan juga bukannya sudah selesai. Bisa jadi ditempat kerja nanti dapat partner kerja yang abs, asal bapak senang. Jadi kita disikut biar keliatan jelek didepan bos atau pengawas. Apalagi kalo dia punya koneksi orang kantor, makin susah ngelawan deh.

    Ujung ujungnya bingung. Mau keluar butuh kerja buat makan. Tapi ngga keluar makan hati terus.πŸ˜‚

    Yang enak sih memang keluar lalu punya usaha sendiri, tapi butuh modal gede. Fiuh, paling bisanya minjem ke mbak Rini yang banyak duitnya.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini lagi ngebahas tentang menjadi karyawan dan bos idaman, Mas Agus πŸ˜‚πŸ˜

      Iya, emang bener Mas Agus, idup emang akan selalu begitu gak akan selalu mulus-mulus aja, karena hidup ini hanyalah sebuah ujian 😁

      Mungkin dengan ngebaikin si abs ini, adalah salah satu cara biar kita gak disikut Mas, jadikan sekutu πŸ˜‚πŸ˜ ato kalo gak mempan, bikin dia berhutang budi ke kita. Saya yakin se abs nya Dia, pasti masih tetep punya hati. Kalo gak punya pasti gak idup dong πŸ˜‚πŸ˜ˆ

      Intinya, tausyiah hari ini adalah gak ada manusia yang gak akan tergugah dan menjadi lembut hatinya kalo kita membalas keburukan dengan kebaikan. πŸ˜‚πŸ˜…

      Iya, ntar saya nyari pinjeman duit dulu buat minjemin Mas Agus yah (hutang berantai ini mah) πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    2. Wah, makasih banyak atas tausiyahnya hari ini mamah Dedeh Rini.πŸ˜„

      Hapus
  7. Aku senang nonton filmnya doang mbak...😊😊


    Urusan kerja yaa kaga pernah kerja...Maklum kerjanya tidur makan sama berak doang..😲😲

    Sekalinya kerja baru sebulan sudah diberhentikan karena bila cinta sama bos wanita..πŸ˜²πŸ˜²πŸ˜²πŸ™„πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bos wanita nya itu Mak Lampir ya kang.🀣

      Hapus
    2. Bukan Mas Agus, Nyai Loro Kidul. Itu ada ijo-ijonya di Emoticon πŸ˜‚πŸ˜

      Hapus
    3. Wah, berarti NYI Loro kidul itu juragan mesin cuci ya.😁

      Hapus
  8. Dunia kerja memang penuh warna dan cerita. Yang paling menyenangkan adalah bila kita mengerjakan bidang apa yang kita cintai. Tapi kalau hal itu belum bisa tercapai, maka pilihannya adalah mencintai apa yang kita bisa kerjakan.

    Saya sendiri sekarang 'terjebak' di dunia kerja yang sebenarnya tak sepenuhnya saya inginkan. Tapi karena mungkin inilah rejeki saya saat ini, maka saya coba jalani dengan baik, meskipun tidak benar-benar ada bos idaman. Hehe.

    BalasHapus
  9. Setuju sih, Mbak. Mau kerja di mana aja pasti ada enak dan nggak enaknya. Tapi kalau lingkungan kerja sudah terlalu toxic dengan pemimpin yang nggak bisa mengapresiasi bawahannya, temen-temen yang ngajakin korupsi atau gaji yang tidak sesuai dengan beban kerja ya setelah 2 tahun sebar-sebar CV lagi supaya dapat kerja baru dulu sebelum resign.

    BalasHapus
  10. Semua bergantung minat dan bakat deh kayaknya mbak..
    Aku g bakat jadi bos, jadi milih jadi karyawan aja..
    Hehe

    BalasHapus
  11. Kalo aku sendiri, kerja di sebuah kantor itu sendiri paling enak ketika lingkungan pertemanannya sehat. Seru, seperti berteman di tongkrongan aja. Nggak ada baper2 club. Kalo sudah begini, kerja pasti jadi lebih bersemangat.

    BalasHapus
  12. Menarik nih drakornya sepertinya. Kayaknya kocak2 gitu ya ceritanya menghibur. Hehe.

    Setuju mba, mau jd bos/karyawan yg penting profesional dan happy menjalankannya. Klo setengah2 yaa nanti pahalanya setengahan juga. Dapet capeknya doang kerja susah payah. Wkwk..

    BalasHapus
  13. Halo mba Rini! Salam kenal ya mba, hehe😁 Baca postingan soal dunia kerja ini saya jadi inget sama seseorang yang sempet viral di twitter, dia lulusan UI yang nggak mau digaji 8juta per bulan oleh perusahaan dimana dia diinterview. Alih-alih dapat dukungan, dia malah dicibir karena gaji segitu seharusnya bisa dibilang lumayan untuk seorang fresh graduate, toh kalau skill dan hasil pekerjaannya mumpuni masih bisa naik seiring berjalannya waktu. Yang bikin orang-orang semakin geram adalah orang ini bawa-bawa almamaternya sebagai alasan, "masa lulusan UI cuma digaji 8jt sebulan?!". Ternyata dari situ kita bisa jadiin contoh sambil belajar dari tulisan mba Rini, bahwa sekarang di zaman serba instan, mereka yg tumbuh sebagai generasi milenial entah kenapa cenderung menginginkan sesuatu atas dasar instansi tertentu atau embel-embel nama lain yg lebih besar dari dirinya. Padahal kalau kerja kan yg dibutuhkan skill dan kualitas diri masing-masing, bukan dari mana kita belajar. Furthermore, saya belum terlalu relate dan gak mau sok ngerti sih karena saya sendiri belum lulus kuliahnya mba huhu, paling cuma freelance di website tertentu aja. Tapi kalau dari pengalaman saya dalam berkawan, memang saya sering ketemu dengan orang2 yg sudah merasa hebat hanya karena belajar lewat youtube dan kelihatan pintar dari youtube, padahal youtuber2 terkenal pun melalui proses panjang dan bukan main2 supaya mereka bisa kredibel di bidangnya dalam membuat konten. Well, semoga saya gak termasuk jadi bagian dari orang-orang yg seperti itu dehπŸ˜… Meaning saya pun harus lebih menyiapkan bekal untuk bisa terjun ke dunia kerja nantinya.

    Omong-omong saya baru dengar soal drakor ini mba, kayaknya bakal jadi daftar drakor yg harus saya tonton sih, berhubung ceritanya juga kedengarannya anti mainstream, seperti yg mba bilang😁 Terima kasih untuk insightnya mba!

    BalasHapus
  14. Sebenarnya ya, mau mendapatkan kesempurnaan dalam apapun di dunia ini adalah hal yang mustahil menurutku, wkwkwk ... Termasuk urusan karir.

    Bekerja punya bos asyik, bisa jadi teman sekaligus atasan yang lebih cocok jadi rekan diskusi dibandingkan diktator, eh pasti ketemu celah nggak enaknya. Teman yang iri-irian, suka bergosip, atau sukanya nyuruh-nyuruh kita bantuin kerjaannya.

    Jadi, di manakah aku bisa menyaksikan drama Pegasus Market ini? Loh, to the point jadi pengen nonton, hihihi ...

    BalasHapus
  15. Usaha nggak mengkhianati hasil. Kalau mau gaji besar kerjanya juga harus besar, kerja keras dan nggak banyak ngeluh. Setelah mengalami hidup di dunia kerja walaupun cuma di pabrik saya tahu kalau jadi pemimpin itu susah makannya jarang yang mau jadi pemimpin termasuk saya, soalnya kudu tegas saya mah letoy😁. Karena itu juga mereka dapat bayaran lebih. Kerja apapun disyukuri aja, tapi kalau mau yang lebih baik ya harus berusaha ya mbk. Nggak bisa kalau cuma males-malesan😁

    Judul dramanya lucu ya "pegasus market" sinopsisnya juga menarik, bikin penasaran karena membahas dunia kerja.

    BalasHapus
  16. Aku baru denger karyawan adalah raja πŸ˜…

    Btw aku jadi inget, pernah resign karna emang udh bner2 gak betah, gak nyaman, capeeeenya minta ampun. Kalo liat nominal gaji emang sayang bangeet, tapi ah udahlah

    BalasHapus
  17. Wah dari drama Korea bisa jadi bahasan panjang gini Kok keren banget sih Mbak Rini. Ya memang setiap pekerjaan pasti memiliki tanggung jawab dan resiko pekerjaan yang lebih tinggi. Dan balik lagi semua pemimpin itu hanyalah manusia biasa kalau ada yang bijak Seperti drama di atas itu baru luar biasa

    BalasHapus
  18. Drama korea ternyata macam-macam ya topiknya. Gak melulu romansa aja. Kepo juga dengan drakor ini :)

    BalasHapus
  19. Baru baca openingnya aja udah bikin kepo sama lanjutannya kak. "Karyawan adalah raja". Wah, sepertinya mau nonton juga ah. Hahay

    BalasHapus
  20. Bekerja dimanapun yang paling utama adalah motivasi.
    Dengan motivasi yang tinggi, maka kondisi apapun itu tidak akan menyurutkan semangat kita dalam bekerja.

    BalasHapus
  21. Kebayang deh serunya pas lagi nonton.. apalagi memang jarang eh mungkin ga ada ya mba kita temui toko yg ngumumin kalo karyawan adalah raja.... di mana2 ya rata2 pembeli deh yg raja..

    Dan emang buat kerja jadi karyawan itu motivasinya beda2 ya... dan saya ssring nemui anak2 konglo yg milih jadi karyawan di perusahaab org pas awal2 mereka terjun dunia kerja. Ga tahu deh apakah emang keluarga konglo ini rata2 punya prinsip gitu sblum wariskan perusahaan ke anak2 mereka..

    BalasHapus
  22. Saya belum pernah kerja kantoran mbak. Dulunya sih jadi dosen yang pekerjaannya buanyaaaaak sekali, tapi gajinya minimalis. Hahaha.

    Saya happy kalau disuruh ngajar atau dinas luar kota. Tapi nggak happy ngerjain yang lain. Setelah resign dan jadi freelance writer kok lebih enak. Ya karna saya juga suka nulis sih. Biar saya sekarang lebih sering nulis di jam kunang-kunang tetap saja happy. 😊

    BalasHapus
  23. Itulah kata orang, sekecil apapun pendapatan akan lebih nyaman menjadi bos diusaha sendiri. Dari pada menjadi bawahan orang lain.

    BalasHapus
  24. Sependapat, saya sering utarakan bagi karyawan yang suka menuntut gaji tinggi, kalau mau hasil besar ya mulai jadi bos

    BalasHapus
  25. Jadi ingin nonton dramanya mba. Secara kantor sya itu permasalahan di dalamnya sangat komplek. Memang kadang karyawan itu banyak kurang bersyukurnya. Apalagi di masa pandemi ini masih bisa bekerja sudah bersyukur banget

    BalasHapus