Hujan di Bulan Agustus

by - 15 Agustus

Hujan di Bulan Agustus

Foto ini diambil bulan oktober tahun lalu. Potret daun rimbun Momordica Charantia atau tumbuhan yang bernama umum Paria ini saya jepret lantaran muak dan merasa jenuh, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan terlesak dalam kediaman. 

Serupa foto yang gagal, gambar yang nampak buram ini bukanlah hasil jepretan terburuk dari sekian momen yang saya tangkap hari itu. Melainkan sebuah penegasan sekaligus sejarah, bahwa sisa udara kotor hasil pembakaran hutan dan lahan masih terus menyeruak memenuhi langit kota tempat dimana saya pernah dilahirkan.

Pagi itu kendati sesaat, hujan telah turun dari langit, mengguyur kabut asap menyapu sisa-sisa pembakaran. Sampah-sampah abu yang berterbangan dan menyelusup melalui sela-sela pintu, lubang angin dan celah jendela kamar akhirnya terbilas, setelah lebih dahulu mencemari permukaan bumi. 

Untuk sementara, para penghuni terbebas dari rasa sesak, batuk dan terganggunya pernafasan, rasa perih pada penglihatan serta kerongkongan yang selalu meradang acap kali pagi bertandang. 

Karena hari itu, adalah pagi pertama dimana akhirnya kami menghirup udara bersih. Setelah beberapa pekan merasakan sesak, akibat memekatnya kabut asap.


12 Agustus 2020

Bumi yang panas sebagai pengharap musnahnya wabah, akhirnya kembali basah, disertai hawa dingin yang memang tlah lama melesap.  

Pada sebuah kabar akhirnya kami tersadar. 

PALEMBANG, KOMPAS.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) melakukan modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan di wilayah Sumatera Selatan yang kini sedang menghadapi musim kemarau untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Modifikasi cuaca tersebut dilakukan selama 20 hari ke depan dengan menyemaikan sebanyak 40 ton garam di atas awan yang memiliki potensi hujan. Koordinator Lapangan Tehnik Modifikasi Cuaca (TMC) wilayah Sumsel dan Jambi dari BPPT, Dwipa Wirawan mengatakan, dalam sehari sebanyak 2 ton garam yang akan di semai. Saat ini, mereka memfokuskan penyemaian di wilayah timur Sumsel karena masih banyak memiliki potensi awan hujan. "Proses penyemaian ini memakan waktu dalam sehari dua sampai tiga jam. Kami menggunakan pesawat CN295 dari Skadrone Halim Perdanakusuma untuk penyemaian," kata Dwipa saat memantau langsung proses penyemaian di Landasan Udara (LANUD) Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Rabu (12/8/2020)


17 Agustus 2020

Setiap kali negri ini memestakan kemerdekaan. 
Tanah menjelma sebongkah batu ketika baskara mengganas. 
Meringkaikan padi dan pohon yang bertumbuh, tampak dari dedaun yang kian meranggas. 
Tak sekalipun tehirup aroma basah, tak sekalipun termaktub dalam ingatan.

Pantas. 

Hari itu mereka berjuang. Hari ini kami merdeka dari kabut asap. 
Hari ini kita sama-sama berjuang. Hari ini, relakan wajah kita masih tersekap. 

Semoga esok dunia turut bersegera, 
Untuk mengejawantahkan bahwa kita akhirnya terbebas dari wabah. 
Dengan itikad mengambil kembali kemerdekaan yang tlah direnggut, bersama-sama.

You May Also Like

24 Comments

  1. Kadang sedih ya Mba, setiap mau perayaan kemerdekaan, gegap gempita perayaan kemenangan, tapi negara kita masih banyak PR yg harus dibereskan, apalagi di tengah pandemi kayak gini.

    Semoga cuaca cepat membaik ya Mba. Kekeringan cepat berlalu dan tidak ada lg kebakaran hutan 💖💖

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan hanya sedih sepertinya Mba, karena bukan saja kabut asap yang tak berhenti datang tiap tahun, tapi ketika harus dihadapkan juga dengan wabah kali ini, entahlah.

      Semoga perjuangan mereka ini membawa hasil terbaik, agar kami juga tidak perlu menggunakan masker di dalam rumah 😪

      Amiiiin... makasih ya Mba 😊😁

      Hapus
  2. Pertama saya mau komen soal fotonya yang baguuuuussss 😍 warna hijau tuanya, kesukaan saya bangets 😂 heheheehe. Terus mau komen kata-kata yang mba Rini urai di post ini, which is sangat deep dan kalimatnya sound rich. Syukaaa bacanya 😆 hehehehehe.

    Baru deh sekarang mau komen soal berita di atas, saya nggak pernah tau kalau hujan bisa diproses pakai penyemaian garam 😍 tapi kalau sampai berhasil, waaah keren ugha. Berarti ada kemungkinan ke depannya, kebakaran ladang dan kebun bisa dihalau dengan kehadiran garam di awan 😍

    Semoga tempat mba, dan tempat-tempat Indonesia lainnya bisa dijauhkan dari bencana alam termasuk kebakaran hutan, kebun dan ladang 💕 sehat selalu, mbaaa 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. makasih Mba Eno (jadi pengen terbang)😂😁

      Iya Mba, tahun kemarin juga menggunakan cara ini. Tapi saat itu sudah kadung kebakaran di banyak wilayah. Dan kali ini, dilakukan tindakan pencegahan agar lahan tetap basah dan tidak mudah terbakar.

      Sudah cukup dengan wabah yang harus dihadapi. Jika harus menghadapi efek karhutla sekali lagi, entah bagaimana jadinya.

      🤲 Amiiiiiiiiiiin... Makasih Mba Eno 😊😍

      Hapus
  3. Aku setuju dengan kak Eno, foto daunnya cantik! Aku suka tone-nya deh 😍

    Btw, aku juga selalu miris, hampir setiap tahun, selalu ada saja berita tentang kebakaran hutan dan lahan. Sedih dengernya 😭
    Semoga kedepannya hal-hal seperti ini semakin minim ya kak 🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😁 Makasih Lia 😁

      Semoga tahun ini beritanya gak ada lagi yah Lia, cukuplah berita tentang wabah yang selalu bikin paranoid. 😅

      Hapus
  4. Cantik tone foto daunnya itu mbak..

    Bicara soal kebakaran, moga waktu kedepan kurang ya beritanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Cik TK... (jadi pengen geer) 😂😁

      Hapus
  5. Meerrdeekkaaaa!!...Dooorr2!!...Sudahlah mbak Rini Belanda sudah jauh nggak usah dipikirkan..
    Yang terpenting kita masih bisa larak-lirik yang muda2...🤣 🤣 🤣 Haahaaaa..😁😁

    Apakah Negri ini sudah benar2 merdeka seutuhnya.?🤷 🤷

    Negri kita Indonesia setiap tahun tetap antusias merayakan hari kemerdekaannya. Namun demikian, Pada saat yang sama bangsa ini seolah tak pernah menyadari bahwa kekayaan bangsa kita terus dikuasai dan dieksploitasi bahkan dengan sangat liar oleh bangsa lain lewat perusahaan-perusahaan mereka. Alhasil, bangsa dan negeri ini sebetulnya belum benar-benar merdeka secara hakiki. Belum benar-benar terbebas dari penjajahan. Secara fisik kita memang merdeka. Namun demikian secara pemikiran, ekonomi, politik, budaya, dll sejatinya kita masih terjajah. Dan harus masih banyak intropeksi diri demi negri ini.😭😭

    Sebagai rakyat kita pun berharap dengan ada hari ulang tahun kemerdekaan bisa kembali membawa kita lebih perduli terhadap lingkungan, Yang boleh dikatakan juga masih terjajah oleh kekuasaan bangsa sendiri.

    Lalu bagaimana kita ingin Merdeka dengan seutuhnya? Belajarlah dari diri kita sendiri untuk tetap perduli kepada lingkungan yang kita tempati. Sudah terbayangkan kalau setiap lingkungan semua orang perduli dan intropeksi diri. Tentunya seberkas sinar kemerdekaan akan muncul walau harus bertahap dan semoga bisa memakmurkan pelosok negri yang katanya selalu menggaungkan kemajuan negri itu sendiri.😲😲

    Ciieee sootooyy banget gw yee..🤣 🤣 🏃🏃



    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak ustadz Satria memang luar biasa, bukan cuma ilmu agamanya saja yang tinggi, nasionalisme nya juga bagus.👍

      Hapus
    2. Ecie cieeee... akhirnya keliatan juga aslinya Mas Satria. 😁 Orang-orang di panti jompo emang ilmu agama dan nasionalisme nya tinggi semua Mas Agus, Udah pengalamaaan.. 😁

      Hapus
    3. Hahaha...🤣🤣🤣

      Hapus
    4. Waduh, keburu kepencet.😂

      Hahaha 🤣🤣🤣
      Benar sekali mbak, maklum lahirnya kan tahun 45, jadinya ilmu agama dan nasionalisme nya tinggi.😁

      Hapus
    5. Suuueeee...😬😬

      Hapus
  6. Daerah Sumatra memang masih banyak kabut asap ya mbak dan itu terjadi hampir tiap tahun, padahal seharusnya bisa diatasi ya.

    Syukurlah tahun ini sudah ada hujan di bulan Agustus biarpun hujan buatan. Semoga saja tidak ada lagi kabut asap. Jika masih ada perpanjang terus saja hujan buatannya.😄

    Oh ya, disini juga ada hujan mbak, malah cukup deras bahkan hampir banjir kemarin. Alhamdulillah sih, karena kemarin sumur hampir kering kehabisan air, dengan adanya hujan itu airnya ada lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah, berarti gak semua daerah di Indonesia yang kekeringan ya Mas, kalo nanti banjir lagi, coba tolong dikirim-kirim aja kesini mas, siapa tau disini bisa ikut merasakan dan terjadi pemerataan 😅

      Hapus
    2. Tenang saja, ntar dikirim air yang banyak mbak, cuma karena banyak airnya maka nyampai nya mungkin bulan Januari atau Februari tahun depan.😂

      Hapus
    3. Sudah ada Corona, malah otw kabut asap pulaa...
      Semoga lekas pulih Palembangku :"))

      Hapus
  7. Dan saya baru ingat dan ngeh, ternyata memang dunia ini setiap tahun lengkap dengan segala kejadiannya ya.
    Saya sampai udah lupa, ternyata tahun lalu itu terjadi asap yang menebal di berbagai daerah sana.

    Terus tahun ini diserang Corona, dan merata di seluruh dunia :D

    Dari puasa kita sambut dengan penuh harapan, hingga lebaran, hingga idul Adha, lalu sampai ke 17 Agustus, rasanya memang kita kudu bersabar dengan keadaan ini, dan baru akan pulih sepenuhnya insha Allah tahun 2022 kayaknya :(

    Semoga lebih cepat dari perkiraan banyak orang ya, ingin rasanya kembali ke dunia normal, namun dengan sikap yang lebih baik dalam menjaga alam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Rey, komplit musibahnya. Tapi syukurnya kita masih diberi waktu, diberi kesempatan untuk berbenah (keinget komentarnya Mas Satria) hihihi

      Aduh sedih banget Mba, 2022 ituh masih lama 😭 nunggu sebulan aja, rasanya udah pengen jambak-jambak orang hahaha..

      Amiiiiiiiin.... 🤲

      Hapus
  8. Isu polusi juga sering sekali diangkat, salah satu yang paling viral waktu itu dokumenter Sexy Killer.

    Ternyata, cukup banyak yang notice kalo gambarnya itu keren. Cantik. Sekalipun foto tanaman Mama saya, paling hasilnya biasa saja. Kalau diedit hasilnya malah tambah biasa saja.

    BalasHapus
  9. Fotonya menyejukkan. Apalagi kalau ada tetesan air hujannya, akan semakin adem melihatnya. Hehe.

    Saya cuma bisa berdoa, semoga alam semesta masih menyayangi negeri ini dan kita semua. Panasnya mematikan virus bukan membakar tanah yang gembur menjadi batu, hujannya menyejukkan hati bukan menenggelamkan bumi.

    Amiin.

    BalasHapus
  10. Padahal gambar di atas itu bagus banget menurut saya, bukan gambar gagal. Kalau lihat gambar jepretan saya parah banget mbak. Sering ngeblur karena tangan saya nggak bisa diem😁
    Membaca ini saya jadi ingat beberapa hari sebelum hari kemerdekaan di sini juga hujan deres banget. Cuma sehari. Besoknya dan besoknya enggak lagi. Kata para orangtua setiap menjelang hari kemerdekaan pasti hujan akan turun. Dan saya baru tahu hujan bisa dimodifikasi, pakai garam.
    Zaman udah maju ya ternyata.

    BalasHapus
  11. Wah, baca ini jadi teringat udah setahun saat ke Pekanbaru menghadiri acara pernikahan sahabat, bertepatan juga warga di sana berjuang melawan asap tebal ): aku pun juga baru tau lho penyemaian garam itu bisa mengundang hujan, keren juga ya 😂

    Semoga Mba Rini dan keluarga di sana sehat-sehat ya. Dan semoga negeri kita bisa segera merdeka dari pandemi ini *aminn*

    Btw, foto daunnya bikin ademm ayemm, Mbaa. Kebetulan Bogor juga lagi hujan terus belakangan ini hihi

    BalasHapus