Makanan & Kenangan Masa Kecil

by - 22 Agustus


Setiap kali, ketika saya kembali menjejakkan kaki ke rumah Orangtua, ingatan-ingatan tentang masa kecil serta merta kembali menyelusup, menyesaki ruang benak, lalu berakhir dengan sereguk kesedihan dalam dogma kehampaan. Menangis? Konon menangisi kematian itu hanyalah bentuk dari sebuah keegoisan, bahwa kita sebenarnya sedang menangisi diri karena tidak lagi bisa mendapati atau melihat apa yang pernah menjadi milik kita. Bahwa kita takut sendirian, takut kehilangan, takut untuk menerima siksaan rasa rindu yang tak akan pernah terobati. Yang pada akhirnya kita hanyalah seorang manusia yang takut untuk menghadapi rasa sepi. 

Kebersamaan saya dan almarhumah Kakak, adalah salah satu kenangan yang akan selalu menjadi pembelajaran bagi saya sebagai seorang adik yang telah menjadi Orangtua. Juga sebagai kenangan manis yang menjadi pengingat bahwa dia pernah menjadi rekan terbaik, ketika kami sama-sama berjuang menjalani kepahitan hidup saat bersama Orangtua.
~//~

Ketika kami masih anak-anak, solat taraweh telah menjadi satu hal paling menyenangkan, walau tidak seperti teman-teman lain yang kadang dibekali uang jajan oleh Orangtuanya. Setelah selesai solat biasanya anak-anak langsung berhamburan menuju kedai makanan terdekat yang masih buka di sekitar masjid. Berbeda dengan saya dan kakak, kami biasanya langsung pulang karena Ibu memang sudah membekali kami dengan sekantong makanan sisa berbuka. Makanan yang dibuat sendiri oleh Ibu atau saya. 

Godo-godo Labu

Salah satu makanan khas yang biasa dihidangkan saat berbuka di rumah adalah Godo-godo Labu. Makanan ini mirip Bakwan, tapi terbuat dari potongan-potongan kecil labu kuning seukuran korek api yang dicampur dengan terigu. Rasanya manis-manis gurih. Tekstur makanan ini terasa garing diluar namun lembut di dalam. Jika ingin menambah sensasi pedas, akan lebih cocok jika Godo-godo Labu disajikan dengan cuko pempek ketimbang dimakan dengan cabe rawit yang pedasnya cuma se-upil. 😂

Godo-godo Labu adalah salah satu makanan kenangan masa kecil saya bersama Kakak di bulan Ramadhan. Kalo lagi bosen mendengarkan ceramah di masjid setelah solat atau mengaji, makanan ini selalu jadi penangkal rasa ngantuk dan jenuh. Walau bentuknya sering jadi gepeng karena disembunyikan di bawah sajadah (dulu para Ustadz rajin mendisiplinkan anak-anak yang makan dan ribut disaat orang-orang sedang solat) untungnya saat itu kami tidak pernah terciduk meski solatnya dipastikan keteteran. 😂😅

Selain beberapa masakan ibu, saya juga rindu dengan jajanan atau makanan yang dibeli bersama Kakak sewaktu kecil. Beberapa makanan ini dulu sempat saya idamkan setelah menikah, bukan saja karena rasanya yang enak tapi karena kenangannya. Suatu momen yang tidak bisa saya ciptakan lagi karena ada beberapa bagian dari kenangan itu yang memang sudah tidak ada lagi.

Dulu sewaktu masih SD, Ibu selalu kerepotan mengurus adik-adik yang masih kecil karena beliau juga harus ikut membantu bapak mencari nafkah. Karena itu, Ibu meminta saya dan kakak mengurus hal-hal yang berhubungan dengan perkulineran di rumah. Berbelanja keperluan dapur adalah salah satu misi yang kami emban setiap hari, meskipun kerap diwarnai dengan pertikaian khas anak-anak tapi tidak jarang juga kami terpaksa saling mengalah, agar perjalanan menuju pasar yang awalnya hanya berjarak beberapa ratus meter tapi berlanjut menjadi beberapa kilometer itu (sempat bertualang dulu di tengah perjalanan), bisa terasa lebih damai dan aman sentosa. 😂

Sambal Telur Udang

Salah satu makanan atau lauk yang tidak bisa kami temui lagi bahannya adalah Telur Udang, mungkin telur dari satu ekor udang adalah bahan yang mudah didapat, tapi jika beratnya sudah mencapai 250-500 gram per bungkus, maka telur udang menjadi bahan masakan yang paling sulit dicari. Disini, tak perduli berapa kali saya dan kakak mencari, kumpulan telur udang siap olah itu sudah tidak bisa kami dapatkan lagi, karena harga jualnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan usaha ketika mengumpulkannya. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa tidak ada lagi yang (mau) menjualnya. 

Sambal Telur Udang ini biasanya kami nikmati dengan mencampurnya bersama nasi yang tidak hangat atau sudah dingin (lebih enak) dan tanpa lauk. Sambalnya sama sekali tidak pedas karena cabe yang dipakai hanya sedikit, khusus untuk anak-anak. Rasanya yang nikmat selalu membuat ketagihan hingga bisa dimakan kapan saja. Entah sarapan, makan siang atau makan malamnya yang jadi dobel-dobel, hayuk aja. caviar mah lewaat. 😂

Ikan Kembung Panggang "Joko"

Ikan Kembung Panggang "Joko" merupakan salah satu lauk terfavorit semua anggota keluarga. Karena rasanya yang berbeda dibanding ikan kembung panggang yang dijual di tempat lain. Setiap Ibu malas masak, hal pertama yang kami inginkan adalah menyantap nasi putih hangat bersama ikan kembung panggang yang dibeli di warungnya Si Joko, alih-alih karena harganya paling terjangkau dan karena Bapak yang benci untuk makan ayam atau daging. Tapi meskipun begitu, tetap saja jatah satu ekor ikan dibagi empat bagian per empat orang anak.

Pemilik warung makan ini adalah orang jawa tapi yang mereka jual adalah masakan padang. Joko sebenarnya bukanlah nama warung makan, juga bukan diambil dari nama pemiliknya, melainkan nama anaknya yang paling kecil. Berhubung nama warungnya susah diingat, akhirnya nama Joko yang menjadi trademark di warung makan Ibunya. Dan kebetulan Joko adalah teman mengaji adik saya di Masjid dekat rumah. Anaknya ramah meskipun masih kecil dan satu dari sekian anak lelaki tambun nan gemulai yang kami kenal karena bisa menari jaipong.

Meski Joko dan Ibunya sudah pindah bertahun-tahun yang lalu, tetap saja pernah terbersit keinginan untuk mencari tau mengenai kabar mereka. Saya penasaran bagaimana dia sekarang, apakah masih seperti itu atau sudah berubah. Juga bagaimana kabar Ibunya yang dulunya sudah berstatus sebagai seorang nenek sekaligus si juru masak ikan kembung panggang favorit keluarga kami.


Beberapa bulan lalu, saya dan temen-temen bloger mendapat sebuah hampers hari raya dari Mba Eno, berupa satu ekor Ayam dan Ikan Panggang utuh. Yang rasa ayam panggangnya itu mengingatkan saya dengan Ikan Kembung Panggang masakan Ibunya Si Joko. Sudah berpuluh tahun. Tidak disangka, akhirnya saya bisa menemukan rasa itu lagi melalui seekor ayam panggang kiriman dari seorang teman blogger. 😊

Ayam Kecap Tahlilan

Ayam kecap ini sebenarnya ayam kecap biasa, tapi karena rasa enaknya belum pernah kami temui dari ayam-ayam kecap yang lain, walhasil setiap Uwak samping rumah mengadakan tahlilan, ayam kecap ini selalu jadi rebutan diantara saudara-saudara. Uwak samping rumah adalah keluarga sangat jauh dari sebelah Ibu karena hanya dihubungkan melalui status perkawinan, tapi karena sama-sama orang perantauan. Kami jadi merasa lebih dekat dibandingkan dengan keluarga sendiri dan berusaha saling membantu dalam banyak hal. 

Sayangnya, ayam kecap ini jarang sekali bisa kami nikmati, karena biasanya dimasak untuk para tetamu dan hantaran ke tetangga ketika Uwak mengadakan tahlilan saja (Uwak adalah seorang Janda ditinggal mati yang harus menghidupi 6 orang anak). Setelah saya menikah, ternyata beliau sudah pindah keluar kota mengikuti anak-anak perempuannya yang bekerja disana.

Pempek Dos Panggang Gerobak

Penjual Pempek Dos Panggang ini adalah seorang kakek-kakek. Beliau menjajakan Pempek Panggang menggunakan gerobak kayu yang diatasnya diisi dengan arang dan panggangan dari selembar kawat seukuran panjang gerobak. Cara berdagangnya termasuk unik, karena setau saya sampai sekarang tidak ada satupun pedagang keliling yang menjajakan pempek panggang seperti itu disini, biasanya hanya dijual ditempat.

Bagi penggemar pempek dos macam kami, rasa pempeknya tetep yang paling ajib meskipun tanpa ikan sama sekali. Bagian luarnya berwarna putih dengan warna sedikit gosong, garing, matang hingga kedalam dan berwarna bening, kenyal dan lembut ketika digigit. Beda dari pempek-pempek dos jaman sekarang yang rata-rata dibuat dari resep sejuta umat. Sampai sekarang saya belum nemu pempek dos panggang yang menyamai, baik dari segi rasa maupun dari teksturnya.

Kakek penjual pempek panggang ini dulu sering mangkal tidak jauh dari lapangan tempat anak-anak bermain. Biasanya saya dan kakak menunggu Si Kakek memanggang sambil nongkrong di sebelah abang-abang yang menyewakan gembot (gamewacth). Pernah juga beberapa kali kami menikmati pempek dos panggang si kakek di hari yang panas, sambil nonton lomba panjat pinang di hari kemerdekaan beberapa puluh tahun yang lalu.



Foto ini adalah hasil percobaan pertama waktu belajar membuat pempek panggang beberapa tahun lalu. Akhirnya saya bikin juga walau cuma di atas teflon. Jaman sekarang, masak dengan menggunakan arang sudah termasuk hal yang langkah, karena alat dan bahan untuk skala rumah tangga hampir tidak lagi dipakai disini. Trus, bagaimana rasa pempeknya setelah dimasak? Untunglah, ternyata masih bisa dimakan. 😂😁

Kalo kalian gimana? Adakah makanan & kenangan masa kecil yang kalian rindukan? Cerita dong. 😊



*Backsound
07:30 AM

You May Also Like

37 Comments

  1. Nama nama makanannya agak unik unik ya terutama yang ayam kecap tahlilan. Mungkin karena hanya dihidangkan saat tahlilan jadinya namanya ada tahlilan.

    Mengenang masa kecil kadang menyenangkan ya, saya ingat kalo almarhum kakek saya habis pulang dari tahlilan atau ada yang mengadakan selamatan maka biasanya pulangnya bawa makanan dalam wadah, kalo di daerah saya namanya ceting. Isinya macam macam ada telor, ikan bandeng, tempe tahu, ikan asin dan mie kuning. Sangat jarang yang isinya ayam apalagi daging. Tapi ceting itu selalu jadi rebutan saya dan saudara karena disaat itulah kami bisa makan enak. Kakek saya juga tahu dan maklum kalo pulang pasti cucu cucunya berebut makanan dalam ceting, jadi kalo pulang tahlilan pasti bawa ceting.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya punya saya juga disebute cething aka besekan...isinya kurleb sama kayak penjabarannya mas agus
      tapi ga ada ayam kecap melainkan ingkung

      Hapus
    2. Di daerah saya waktu kecil jarang yang ngasih ingkung mbak mbul, kebanyakan paling telor asin sama ikan bandeng.

      Eh tapi kalo sekarang sepertinya ada sih.😀

      Hapus
  2. Dari makanan-makanan masa kecil mbak rini banyak yang nggak saya tahu, bahkan pempek aja saya belum coba😁
    Kalau saya, dari dulu suka pedas jadi asal ada sambal dan tempe makan pun jadi lahap. Saya dulu suka pilih-pilih makanan, nggak mau sayuran, nggak terlalu suka ayam juga asal ada sambal dan tempe saya seneng banget. Eh sekarang saya kok doyan makan apa aja ya😂
    Btw saya juga jadi penasaran gimana kabarnya joko sekarang....

    BalasHapus
  3. Ugh banyak banget kenangan masa kecil termasuk makanan jajajan masa itu yg sampai sekarang sangat dirindukan. Secara saya sejak kecil pindah pindah dari kota satu ke kota lain. Lalu lanjut merantau ke negeri orang sekian lama. Jadi selain makanan masa kecil juga mengenang banget jajanan masa kerja di rantau. Hehehe...


    Semoga Almarhumah Kakak nya diterima Amla baiknya dan berada di sisi terbaik Nya ya. Aamiin...

    BalasHapus
  4. Dari sekian banyak nama makanan, saya lebih tertarik sambal telur udang. Untuk saya yang suka makan pakai nasi hangat, kayaknya akan cocok. Apalagi pake kerupuk. Sebenarnya, hal yang salah mendeskripsikan itu semua saat sedang lapar begini.

    Ohya, makanan yang cukup membekas untuk saya adalah nasi kuning yang dijual di samping SD saya dulu. Pada masa itu, jam keluar main kita pakai untuk antre nasi kuning tersebut. Saking panjangnya, kadang ada beberapa orang yang malah berakhir tidak makan karena bel masuk sudah berbunyi. Nasi kuningnya biasa saja, hanya agak beda dari nasi kuning biasanya. Nasi kuningnya disiram sayur, dan pakai perkedel. Air ikannya juga enak, tak heran meski sering pakai telur kami selalu request untuk disiramk air ikan. Kalau diingat-ingat, lama juga tidak makan di sana lagi

    BalasHapus
  5. Foto-fotonya bagus mbak Rini...Mantul!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perasaan mbak Rini nggak naruh photo2 di artikelnya..😲😲


      Dasar Engkong2 Suuee..🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Jadi yang di atas itu apa namanya Tong..:-D

      Hapus
  6. Gorengan apapun, pasti dikawani samo cuko. Samo cak mamak aku... Iyo dak, mbak? 😁😁

    BalasHapus
  7. Sambal telur udang, nama makanan ini baru sekali ini aku dengar. Nggak kebayang berapa banyak telur udang yang dikonsumsi untuk sekali makan, karena bentuknya kecil-kecil, pasti banyak banget ya. Mirip telur ikan gitu penampakannya, iya nggak kak?

    Btw, aku penasaran sama pempek panggang. Rasanya gimana ya.. unik banget pasti! Aku juga baru pernah dengar pempek dipanggang 😂

    Kalau makanan masa kecil yang aku rindukan, mungkin telur gulung? Hahaha. Walaupun sekarang masih banyak yang jualan ini, tapi aku belum pernah beli telur gulung lagi semenjak tamat SD atau SMP gitu 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dari kecil sudah makan pempek panggang, mbak.
      Tiap sore juga ada mamang2 yang jualan pempek panggang pake gerobak keliling. Dia tiap sore lewat depan rumahku.. Ayo mbak Lia, kapan2 ke Palembang, mungkin kita bisa silaturrahmi :D

      Hapus
  8. Saking berkesan'y sampai masih inget lohh detail'y sampai sekarang. Unik2 juga mba nama makanan'y, saya banyak yg baru dengar loh. Hehe..

    BalasHapus
  9. Mba Rini, berbeda dengan Mba, saya kalau pas mudik, bayangan yang ada itu malah yang asyik-asyik saja.
    Kenapa ya?

    Mungkin karena rumah ortu kami sekarang adalah rumah yang kami tempati setelah saya STM, di mana bapak udah nggak pernah pukul saya.

    Yang ada tuh cuman sedih melihat foto adik saya, di mana saya udah sebesar ini, dia masih segitu-segitu aja hiks.

    Lalu teringat dulu hari-hari terakhir adik masih ada, dia suka banget bonceng saya naik sepeda.
    Rasanya dia akan senang kalau berhasil membonceng saya sejauh mungkin.
    Huhuhu, kangeeenn...
    Coba kalau dia masih ada, mungkin saya masih punya seseorang yang sayang banget sama saya, huhuhu.

    kenangan lain adalah, saat-sat indah saya bersama adik dan kakak.

    Oh ya dulu saya juga senang saat tarawih, soalnya bisa keluar rumah dan bisa ketemu teman di masjid.

    Tapi dulu ga ada yang dikasih uang jajan sih, rata-rata malah bawah jajanan dari rumah, kalau bosan tarawih, keluar deh mereka ngobrol sambil ngemil.

    Saya pengen ikutan tapi diancam guru, katanya mau dibilangin ke bapak saya, saya takutlah dipukul hahahaha.

    Btw lucu-lucu namanya, membayangkan rasanya kayaknya enyak banget tuh.

    Yang familier cuman ikan panggang, dulu mama sering banget beli ikan kembung, lalu dipanggang dan dibungkus daun pisang.
    Astagaaahh.. kulapar bayanginnya :D

    Di makan, pakai sambal tomat, masha Allaaaaahhh :D

    BalasHapus
  10. Dulu waktu baru menikah selalu kangen sama masakan ibu. Setiap bulan selalu datang kerumah ibu.😊😊

    Akhirnya memutuskan bikin rumah yang tidak jauh dari rumah ibu. Jadi bisa makan gratis sama ibu jika kepingin...Tak hanya itu saja bisa minta beras lagi setiap hari.😲😲🤣🤣🤣🤣

    Dasar anak Suueee luh..🤭🤭


    Oiya itu mpek2 enak kayanya nih mak Rin...? Kirim2 kerumah yaa....Jangan lupa yee.😊😊

    BalasHapus
  11. Wahh banyak makanannya yang unik dan saya tidak mengenalnya.. kayak pempek, godo-godo sama telur udang rasanya nggak pernah liat lagi, apalagi coba. Nggak kebayang rasanya gimana...

    BalasHapus
  12. Duh untung gak semuanya pake foto ni mbak, hanya beberapa pake fotonya. Baru beberapa saja sudah bikin aku nelen ludah terus kalau ngomongin soal makanan masa kecil. Huhuhu

    BalasHapus
  13. Mbk Rini..dari makanan-makanan yang disebutin di artikelnya saya cuman tahu ayam bumbu kecap aja. Hehe.. Jadi penasaran penampakannya makanan yang belum ada fotonya.

    Makanan dan kenangan masa kecil saya semua makanan buatan almh Nenek saya mbk. Nenek di masa tuanya hobi berkesperimen dengan resep-resep kue kering dan bolu, saya lah jurinya. Yang sukses yang gagal dimakan sama cucunya ini mbk..hehehe

    BalasHapus
  14. Wah menarik banget nih mbak topiknya, boleh pinjam buat jadi ide artikel? Beberapa saya nggak familiar. Jadi ngiler deh mbak

    BalasHapus
  15. wah aku belum pernah coba godo godo :O sepertinya enak ya

    BalasHapus
  16. Hehehe nama namanya banyak yg unik mbak..
    Pasti rasanya juga enak enak. Makanya nganenin ya

    BalasHapus
  17. Mba Riniiii holaaa 😆

    Dari list makanan di atas, saya penasaran sama telur udang, nggak pernah dengar dan nggak pernah lihat. Sampai akhirnya browsing untuk tau bentukannya dan jadi penasaran bagaimana rasanya dimakan pakai nasi hangat 😂 hehehehe. Terus baca penjelasan soal Godo-godo, jadi ingat snack mirip bakwan yang terkenal di Bali namanya Keladi, bentukannya mirip bakwan tapi materialnya semacam Talas kalau nggak salah which is enak syekali 🤣

    Ummm makanan kecil yang saya rindukan apa, ya. Kalau dulu sempat rindu otak-otak ikan tenggiri sebab saat sekolah sering makan itu, tapi lately si mba ART sudah menemukan penjualnya jadi saya nggak rindu lagi 😆 terus sempat rindu makan martabak mesir yang pakai banyak daging, karena kebanyakan di Bali jualnya martabak tipis, sampai akhirnya one day ketemu martabak royalle yang menjual martabak tebal persis martabak kesukaan saya sewaktu kecil 😂 hihihi. Oh, sebetulnya ada satu makanan yang sangatttt ingin saya makan namanya SALA kalau nggak salah, snack khas SumBar berwarna kuning bentukan bulat. Saya nggak terlalu ingat, tapi dulu saat kecil pernah dibelikan snack itu dan masih terngiang rasanya. However, mau di Jakarta, atau Bali, saya nggak pernah temukan penjualnya. Even online pun nggak ada 😂 apa mungkin sudah punah. Entahlah huhu semoga one day bisa kembali memakannya 😍

    Eniho, senang bacanya kalau mba Rini suka ayam dan ikan panggang kiriman saya. Next time saya kirimkan lagi yaaaaaah 😆💕 sehat-sehat, mba ~

    BalasHapus
  18. Pempekny endeuzz bgt Mbaa
    Jadi beneran ngilerrr
    Kebayang pas ke Palembang dulu makan pempek panggang MasyaaAllah enakk

    BalasHapus
  19. mba rini, aku merasakan bagaimana cara mba rin ketika menuliskan kenangan tentabg alm kakak begitu sampai ke hatiku...kenangan yang sangat manis, walaupun sudah berlalu cukup lama, dan insyaAlloh sekarang alm. kakak ada di tempat terindah di sisiNya amiien..amiiin

    betewe aku kok baca pendeskripsian makanan jadoelnya mba rini jadi kemlecer gini ya 😆

    ampuni baim ya Alloh 🙏😇

    aku pengen ngicip telur udang yang uda ngalah-ngalahi caviar, dan pas diceritakan gimana remesepnya cabe yang ga terlampau pedas di telur udangnya itu secara otomatis lidahku jadi kayak ngira-ngira sendiri

    terus ayamnya mba eno yang ternyata ngingetin ikan kembung warungnya si joko yang pintar menari jaipong, ya Alloh ampe kebayang kok kayaknya enak....pedesnya berasa...ala bakarannya masakan padang tapi yang masak orang jawa hihi

    gado gado labu, ini juga kelihatannya maknyus...aku kalau labu malah ga tahu bisa dibikin gado gadi hihi, tahunya dikolak aja ama pisang dan ubi

    kalau pempek bakar aku blom pernah nyobain, terus terang pengen...manalah fotonya mba rin biar dikata trial n error tapi kok ya menggugah selera, kayaknya hampir mirip pempek dos bakar si kakek yang mangkal dekat lapangan itu ya mba rin...

    dan yes, aku kalau ngamatin pempek di tempatku memang rata rata resepnya kayaknya sama, mungkin hasil praktik dari yang uda banyak diunggah di internet, blom pernah makan di palembangnya langsung, jadi pengeeeeen

    btw mba rin pas traweh kok unik ya tempatnya bocah2nya pada dikasih uang saku...tempatku ga sih...cuma kalau ngaji sore di Tpa kalau sekarang nyebutnya TPQ iya, dikasih cepek dapat jajanan snack namanya galunggung bunder2 kecil agak keras, rasanya pedas gurih, aku ingat banget sebungkusnya yang gambar gunung galunggung itu harganya 50 rupiah. aku sama kakak ijen ijen alias satu satu karena dikasi uang saku cuma 100 rupiah. beli galunggung 2 abis. ada lagi sih snack 50 rupiah yang ga ada angin ga ada ujan pengen aku nostalgia makan lagi tapi udah langka yaitu kerupuk jengkol...hiks..

    BalasHapus
  20. Paragraf pertama sangat menohok sekali mba. Wah nama makanannya unik2, jadi penasaran

    BalasHapus
  21. Wah makanannya unik-unik mbak terutama yang nomor 1 sama 2. Aku belum pernah makan keduanya. Penasaran juga nih sama pempek panggang soalnya kan biasanya pempek itu digoreng

    BalasHapus
  22. Oh, Mbak orang Palembang ternyata. Eh, Ayuk dong ya panggilannya :)
    Nama makanan masa kecilnya rata2 unik gitu ya. Ayam kecap sih pasti udah tau tapi pastinya punya citarasa beda.
    Apa ya makanan favorit saya di masa kecil? Mungkin buah kesemek kali, ya. Sudah nyarinya sih sekarang. Jadi kangen

    BalasHapus
  23. Menangisi kematian itu karena rasa kehilangan yang dalam. Yang gak akan pernah terobati. Semoga kita dikuatkan ya Mbak. Ngomongin makanan masa kecil, aku jadi ingat buah kedondong, jambu air, jambu bangkok, manggis dan anggur. Buah yang mengingatkan serunya kami masa kecil dulu memetiknya bersama.

    BalasHapus
  24. ku kira godo-godo labu tuh gado-gado wkwkwk, ternyata emang bener namanya godo-godo labu ya mba. wah jadi pengen cobain nih. saya suka banget bakwan, bisa jadi salah satu camilan nih. sedaaap.

    BalasHapus
  25. Nama makanannya unik ya, Mbak. Ayam kecap tahlilan, ikan kembung Joko..
    Ini karena kesan yang amat terasa sampai-sampai ditambahkan nama penjualannya. .

    Saya tertarik dengan gado-gado lalu. Semenjak di Tsukuba saya suka sekali lalu. Jadi ingin mencoba diolah seperti gorengan yang mbak rini ceritakan di atas

    BalasHapus
  26. Memori masa lalu itu memang ga ternilai ya mba, apalagi memori bersama orang yg udah ga bersama kita lg. Hiks..

    Dr semua makanan di atas, aku paling penasaran sama sambel telor udang nya mba, karena aku blm pernh nyoba. Aku coba browsing munculnya malah balado udang sama telor puyuh 😂

    BalasHapus
  27. Pas baca gado-gado labu, saya membayangkan labu dengan sambal kacang. Ternyata saya salah besar,wkwkwk XD
    Kalau saya paling kangen sama harum manis, es kue sama permen susu cap kelinci,hehe. Kayaknya sekarang masih ada sih yang jual, cuma jarang aja,hihi

    BalasHapus
  28. kayaknya di jaman aku dulu nggak ada yang terlalu istimewa untuk soal makanan, kalo soal jajanan sampe sekarang masih bisa ditemui dipasar, terutama yang berbau seperti kue lupis,kue cenil dan teman temannya

    makanan dari daerah asal mba rini terasa asing semua, mungkin hanya ayam kecap biasa yang di jawa juga ada dan itupun kalau bikin sendiri.
    nah pempek panggang ini belum pernah coba aku mbak, penasaran

    BalasHapus
  29. Pempek dos panggang gerobak emang beda. Liatnya, kadang masih ada bagian bertepung dan mentah, dan gurih micinnya, beda dengan yg dibuat di rumah hehehe.

    BalasHapus
  30. Kalo ngomongin makanan masa kecil, kayaknya gak jauh beda dengan makanan saya yang sekarang. Bedanya dulu masih kecil doyan makan mie kremes ehhhh.

    Apa yah. Hem kalo saya mbak suka kangen sama bubur sumsum. Mamak jarang bikin bubur ini. Pas ada keluarga yang sakit baru bikin untuk dianter pas lagi menjenguk gitu. Seringnya di rumah bikin kolak, sampe segala bentuk kolak emak buat deh. Kolak pisang, kolak labu kuning, kolak ubi, dan entahlah lupa jadinya wkwkwk

    BalasHapus
  31. Sebelum mas jokonya pindah, minta resepnya dulu mbak, ayam panggang joko favorit mbak menggoda banget. Kalau aku waktu kecil namanya bukan ayam anggang tapi "ingkung". Ayam juga seutuhnya .

    BalasHapus
  32. Oh jadi pempek dos itu tanpa ikan ya mba?? Jadi cuma tepungnya aja? Kalo yg kayak gitu, di Bekasi ada yg aku sukaaaa banget. Krn ga pake ikan. Kirain pempek ga pake ikan kayak yg dijual kaki lima sini, tp ternyata yg dibekasi itu versi LBH bagus dan LBH enak jugaa hahahhaa.

    Penasaran nyobain pempek dos si kakek yg mba ceritain.

    Kalo makanan masa kecil, terlalu banyak yg aku inget mbaaa :p. EMG dasar doyannya jajan dulu. Aku lama tinggal di Aceh. Jd terbiasa dengan makanan2 khas Aceh. Mulai dr rujak Aceh, bubur kanji, sayur pli U, belum lagi di pasar langganan banyak yg jual martabak Aceh yg beda dgn martabak sini, trus ada cendol yg enaknya aku blm nemu lagi di mana2 hahahah. Nasi gurih khas Aceh Ama lontong sayur Aceh juga nomor 1..

    Aku kangen pengen kesana sih kayaknya :p. Udh terlalu lama ninggalin Aceh. Jadi berasa semuanya enaaak, ngangenin dan juaraaak :D.

    BalasHapus