Orangtua atau Orang lain?

by - 19 September


Apa yang terjadi ketika hati dan pikiran kita lebih dekat dengan orang lain ketimbang dengan Orangtua sendiri? 

Hmm...
Saya teringat kembali dengan seorang teman kuliah begitu membaca komentar Mba Roma tentang caption gambar ini di IG, yang menyarankan untuk ke kotanya, Lampung jika pandemi ini telah berakhir. 

Lampung adalah kota yang memiliki pantai terdekat dari kota tempat dimana saya tinggal sekarang. Dibutuhkan waktu setidaknya 10 jam untuk menempuh perjalanan ke sana. Tapi karena sudah dibangun jalan tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayu Agung sepanjang 189 km, maka jarak tempuhnya sekarang sudah bisa dipersingkat menjadi 4 jam perjalanan saja. Bahkan jarak dari tempat adik saya ke Palembang yang biasanya memakan waktu 1 jam  bisa dipersingkat menjadi 15 menit saja sejak diresmikannya Jalan tol Palembang - Pemulutan tahun 2017 lalu.

Meski sudah sangat dipermudahkan dalam urusan jarak, namun untuk bepergian seperti sekarang-sekarang ini saya juga butuh kenekatan yang berlimpah serta materi dan waktu yang cukup banyak untuk diri sendiri, agar impian melihat pantai ini dapat bisa segera terwujud.

Saya menargetkan Lampung sebagai destinasi wisata laut pertama sebenarnya bukan semata-mata karena ingin melihat langsung pantai dan laut saja. Tapi karena diharapkan bisa bersilahturahmi lagi dengan seorang teman dekat yang bekerja dan menikah di sana sejak 12 tahun lalu. Dan juga karena saya kehilangan kontak beberapa tahun setelah kepindahannya, Henpon saya hilang bersama uang, KTP, SIM dan juga henpon adik saya yang akan diservis, di dalam pouch yang dulu pernah jatuh di jalan. 

Saya sempat mencari-cari nomer henpon barunya ke temen-temen tapi gak ada yang punya, dan sayangnya dulu dia memang pernah bilang tidak berminat sama sekali untuk memiliki akun social media. Alhasil, sampe sekarang saya belum bisa menemukan kontaknya. 

Sikapnya yang ramah dan sering menyapa duluan membuat kami lebih akrab hingga kemudian menjadi lebih dekat lagi karena ternyata saya suka dengan Ibunya. Kalo Ibunya baik biasanya nurun ke anak-anaknya, begitu prinsip yang dulu saya pegang. Ibunya enak diajak ngobrol dan selalu nyambung kalo diajakin ngomong apa aja. Bisa tuker pikiran, kadang bisa jadi sahabat bagi anak-anaknya dari yang abege hingga yang udah dewasa. 

Teman saya termasuk orang yang tidak berkecukupan karena tempat tinggalnya masih menumpang  serta tidak lagi memiliki penopang utama dalam keluarga. Ayahnya meninggal waktu temen saya masih SMA dan meninggalkan 4 orang anak, yakni temen saya yang adalah anak pertama dan adik-adiknya yang waktu itu juga masih kecil-kecil. 

Dulu saya sering banget main ke rumahnya. Walo sebenernya yang terjadi temen saya yang sibuk di dapur, dan saya malah duet sama ibunya di ruang tamu. Saya nyanyi, dan ibunya main gitar.  😂 

Kalo kamu seorang penggemar drakor, tau dengan Kim Yoo Jung? yang jadi First Lead Female di serial drama Backstreet Rookie. Nah begitulah sedikit banyak gambaran raut wajah temen saya, hanya saja sekarang pasti udah agak beda karena selisih usia. Pas dulu waktu pertama kali ngeliatnya sebagai First Lead Female remaja di drama saeguk The Moon That Embraces The Sun tahun 2012 lalu. Saya sampe pangling. Apa temen saya sekarang udah alih profesi yak, hahaha.. sampe-sampe gak bisa dihubungin lagi. Dulu banyak banget cowok-cowok yang ngejer temen saya inih (beberapa temen cowok saya juga) dan jadi murid kesayangan dosen karena gak hanya cantik tapi juga ramah, pintar dan rajin belajar termasuk juga pintar masak dan pintar menjahit. Sangat menginpirasi dan patut dijadikan panutan bukan. 

Dulu saya sempat menentukan seseorang bisa jadi temen deket itu salah satu alasannya adalah karena saya kagum dengan Ibunya, ayahnya atau neneknya, dan itu juga salah satu alasan terpenting kenapa akhirnya saya bisa menikah dengan pak suami. 😂😁

Meski tidak dipungkiri saya juga dengan senang hati berteman dekat dengan beberapa teman lain, walo tetap saja kebanyakan ortunya ternyata single parent. Ada yang ikut ibunya, ada yang ikut ayahnya, juga ada yang ikut nenek-kakeknya atau memang karena salah satunya telah tiada. Pernah terbersit harapan untuk memiliki single parent saja, biar sama seperti mereka, barangkali hidup kami akan terasa lebih baik. Siapa tau hidup akan jadi lebih aman, nyaman, damai, dan tidak perlu was-was setiap kali akan pulang ke rumah. Dengan begitu, setidaknya kami juga bisa ikut merasakan bagaimana memiliki rumah seperti mereka yang sering menggaungkan baiti jannati, home sweet home, atau rumahku adalah syurgaku.

Tapi seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya usia dan semakin beratnya perjalanan hidup. Akhirnya kami mulai memahami atau sebenarnya "harus" memahami kenapa ayah begini kenapa ibu begitu, agar suatu hari nanti bisa jauh lebih mengerti dan memaklumi pasangan dalam mengarungi kehidupan pernikahan. Kami merasa harus segera bertindak dengan mencoba menciptakan situasi (meski secara bergerilya) agar tidak terjadi perang urat syaraf setiap kali mereka memulai komunikasi.

Meskipun pada akhirnya kami hanya dianggap sebagai bocah tak berpengalaman, dan minim ilmu. Pengertian yang kami sampaikan terasa janggal untuk diterima karena berasal dari ucapan seorang anak yang baru belajar seumur jagung, ke Orangtua yang merasa jauh lebih lama dan lebih paham menghadapi pahit getirnya hidup. 

Dulu kami berharap mereka mau belajar menempatkan komunikasi di waktu dan kondisi yang tepat. Itu saja sudah cukup. Bukan karena sudah merasa pintar, sudah jadi anak sekolahan atau karena berpendidikan lebih tinggi.

Kalo dihitung-hitung, beberapa keputusan penting dalam hidup saya sebenarnya lebih banyak saya bicarakan ke Ibu teman ketimbang dengan Ibu sendiri. Bukan karena saya tidak percaya dengan Orangtua. Tapi sepertinya memang karena cara pandang dan cara berpikir saya saat itu masih polos dan terbatas. Dulu saya menganggap untuk apa curhat ke Ibu, beliau sendiri sudah terlalu berat menanggung masalah di rumah dan jika harus ditambah lagi dengan masalah yang saya hadapi, rasanya gak tega untuk menambahkan beban lagi dipundaknya. Lagipula karena sejak kecil saya memang sudah terbiasa menyediakan telinga untuk semua keluh kesah Ibu, hingga membuat saya berpikir tidak ada lagi kesempatan dan ruang yang cukup di benaknya untuk saya berbagi keluh kesah.

Jadi setiap kali ada masalah, dan Ibu akhirnya tau, beliau akan bilang. "Makanya kalo ada apa-apa tuh dibicarakan dulu ke Orangtua, biar jadinya gak kayak gini." Padahal, saya sebenarnya sudah mempertimbangkan dengan matang hanya saja saya mendiskusikannya dengan Ibu yang lain. Dan itu adalah sebuah jawaban yang tidak mungkin saya lontarkan, karena saya tau pasti hanya akan menyakiti hatinya.

Hingga saya menikah dan punya anak, barulah saya bisa memandang lebih dalam dari dua sisi. Meskipun saya meyakinkan diri bahwa apa yang dulu pernah saya jalani adalah pilihan terbaik yang bisa saya lakukan, alih-alih merasa sedih karena menyadari betapa menyakitkan kalo anak sendiri malah lebih mempercayakan isi hatinya ke orang lain ketimbang dengan Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan segala pengorbanan,  segenap jiwa dan raga.

Segarang-garangnya saya sebagai Ibu, yang kadang sering naik darah kalo ngeliat ada yang salah dengan kelakuan anak (bertolak belakang dengan watak Ibu saya yang jauh lebih sabar menghadapi delapan orang anak), saya masih sangat berharap anak saya punya seorang Ibu yang bisa berinteraksi dengan baik dalam berkomunikasi dua arah dengan anak-anaknya, walau saya tau itu sangat sulit apalagi dengan kondisi punya banyak anak. Tidak apa-apa jika anak mempercayakan masalahnya untuk diselesaikan bersama orang lain. Siapa tau dengan begitu bisa menemukan solusi yang lebih baik. 

Meskipun saat ini saya harus melewati masa-masa sulit membesarkan anak. tapi beginilah hidup, waktu berjalan terus. Tidak akan ada yang sama. Semua tumbuh mengikuti waktu. Suatu hari gak akan ada lagi suara tawa bayi, suara anak-anak yang baru belajar bicara, anak-anak yang gelendotan karena ingin diperhatikan lebih atau anak-anak yang rewel minta ini dan itu. Suatu hari kita akan merindukan wajah-wajah lucu nan menggemaskan dan tangan-tangan mungil yang tidak akan pernah bisa kita peluk dan sentuh lagi. Suatu kerinduan yang dipastikan tak akan pernah kita dapati lagi kecuali hanya melalui sebatas foto, kenangan di waktu kecil.

You May Also Like

7 Comments

  1. Saya jadi mengingat-ingat hubungan saya dengan ibu saya, mba. To be honest saya bukan tipe yang gampang curhat sama orang tua apalagi sama orang tua teman itu nggak pernah sepertinya 🙈 tapi meski nggak gampang curhat ke orang tua sendiri, bukan berarti saya nggak pernah curhat 😆

    Mungkin masih bisa dihitung jari curhatnya. Itu pun justru lebih sering dilakukan saat saya beranjak dewasa. Mungkin karena sudah kenal dunia, beban hidup bertambah 😂 kalau waktu kecil rasanya nggak tau konsep curhat, hidup juga taunya main dan belajar 😅 namun berjalan dengan waktu, saat saya sudah betul-betul menghadapi realita, baru disitu saya sadar nggak ada tempat yang lebih nyaman selain orang tua 😆

    Tapi itu pun mungkin beberapa tahun awal. Setelah tambah berumur, ketemu lebih banyak orang baru, sudut pandang baru, jadi mulai jarang curhat karena sadar orang tua sudah terlalu sepuh untuk mendengar keluh kesah saya 😂 jadi setelah itu kembali nggak curhat, dan lebih pilih pendam sendirian. Hehehe. Kalau sekarang karena ada pasangan, dialah "tong sampahnya" 😬

    Ngomong-ngomong, saya setipe sama mba Rini, bisa klop sama teman atau pasangan kalau orang tua mereka baik dan ramah. Makanya cita-cita saya andaikata punya anak, mau jadi orang tua yang bisa berteman baik dengan sahabat anak-anak saya 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kak Rini, hi kak Eno 👋🏻
      Kok ceritaku sama ya seperti kak Eno hahaha. Aku bukan tipe yang suka curhat sama orangtua tapi sesekali suka cerita-cerita aja. Namun, harapanku kalau aku udah jadi orangtua kelak, aku bisa menjadi orangtua yang asik untuk diajak curhat oleh anak dan juga bisa berteman baik dengan sahabat anak-anakku 😁
      Soalnya aku juga merasakan ketika ada orangtua teman yang baik banget sama aku, aku jadi nyaman untuk main berlama-lama di rumahnya temanku 🤭

      Hapus
    2. Mirip dengan Mbak Eno, saya juga sebenarnya jarang sekali curhat ke orang tua. Baik ibu/bapak. Saya hanya cerita sedikit ketika hal yang benar-benar penting. Eh, saya juga jarang cerita ke orang2 sih sebenernya. Lebih asyik dipendam sendiri :D

      Oh ya, jadi kalau boleh tau, Mbak Rini tinggal di Kayuagung ya?

      Hapus
  2. Kadang kasihan juga memang kepada orang tua, soalnya sudah dari kecil mengasuh kita dan saudara kita sampai besar, jadinya saat kita ada masalah tidak mau menambah bebannya.

    Tapi beban dipendam sendiri juga ngga baik ya, akhirnya curhat kepada teman atau orang tua teman yang sudah akrab.

    Tapi ternyata ibu sendiri akhirnya tahu dan merasa anaknya kok lebih percaya orang lain dari pada ibunya sendiri, tentu ia sedih. Jalan satu satunya ya terus terang saja kalo kita tidak mau menambah bebannya, bukan karena tidak percaya pada orang tua sendiri.

    BalasHapus
  3. Pertama : Makasih mbak, hurufnya sudah diganti.. yang sekarang lebih guedeee dan gampang dibaca... hahahahahaha

    Kedua : terus terang saya tidak tahu rasanya bercerita kepada orang lain.

    Bukan karena sering curhat kepada orangtua, tetapi karena saya terbiasa menjadi "pengawal" saya tidak terbiasa melakukan yang namanya "curhat". Saya harus jadi orang yang kuat dan curhat itu bagi saya adalah sesuatu yang saya hindari untuk dilakukan.

    Saya harus bisa menyelesaikan masalah sendiri karena saya adalah seorang "pengawal" yang harus kuat.

    Setelah berumahtangga pun, saya tetap menerapkannya. Padahal, saya sangat dekat dengan ibu dan bapak, tetapi saya memilih tidak curhat. Apalagi saya menyadari bahwa orangtua sudah melakukan yang mereka bisa untuk membesarkan saya. Jadi, saya tidak mau merepotkan lagi dengan curhatan.

    Kalau ngobrol sering, berdiskusi juga sering. Cuma kalau curhat mah jarang.

    Jadi,saya tidak begitu paham rasanya... hahahaha...

    Kalau saya pikir sih wajar saja soal curhat ke orang lain karena curhat itu lebih ke masalah "kecocokan" karakter. Kenyamanan dalam berinteraksi , jadi kalau memang "nyamannya" dengan orang lain, ya bukan sebuah masalah.

    Hal itu tidak mengindikasikan ketidakdekatan dnegan ortu. Banyak hal lain seperti yang Mbak Rini sebutkan bahwa justru mbak Rini memikirkan situasi ibu bapak yang sudah "repot" dengan banyak hal dan tidak mau membebani.

    Bukankah itu juga yang saya lakukan karena saat itu saya pikir juga tidak ingin menambah beban. Bedanya cuma mungkin mbak Rini berbicara dengan orang lain, tetapi saya pilih menyimpan sendiri.

    But... eh tetapi..

    No problem sih menurut saya.

    Soal anak yang suatu waktu akan punya dunia sendiri, yah bukankah itu kodrat manusia mbak. Oleh karena itu, saya sebagai orangtua, berusaha menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan anak saya selama dia masih bersama saya..

    Karena suatu waktu dia akan terbang dan memiliki dunia sendiri dan kita hanya bisa mengenang masa-masa dimana ia membutuhkan kita.

    Dan saya memang sedang bersiap ke arah sana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, petuah Kong Anton tumben benar, sepertinya salah makan tadi pagi nih.😁

      Hapus
  4. Hal ini yang sedang saya usahakan kepada anak. Bagaimana agar ia tidak segan atau takut berkata jujur atau berbagi cerita dengan saya dan ibunya. Saya sendiri tidak terlalu dekat dengan kedua orang tua saya. Saya hampir tidak pernah bercerita dengan intim, dari hati ke hati dengan mereka atau salah satu dari mereka. Terutama setelah mereka berpisah.

    Tapi dari mereka saya berusaha belajar, bagaimana caranya agar saya tidak cuma bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak saya, tapi juga teman yang akrab untuknya. Sebelum nanti waktunya tiba, ia akan beranjak dewasa dan pergi meninggalkan kami orang tuanya, untuk menjalani hidupnya sendiri dan bertemu orang lain yang ia cintai.

    BalasHapus