Self Healing

by - 18 Februari

*Backsound
Ost. One Pieces

Seorang teman pernah bilang, curhat itu sama dengan mengeluh dan mengeluh itu sama saja dengan tidak bersyukur.

Lantas, bagaimana dengan saya dan teman-teman yang suka curhat, khususnya di blog ? 

Hmm..

Mungkin bisa dikatakan, (dulu) saya adalah seorang pendengar yang baik, karena lebih sering menyediakan telinga dibanding bersuara untuk memberi saran (kecuali diminta). Saya sendiri hampir tidak pernah curhat (jika tidak dipaksa keadaan) karena merasa tidak penting bagi orang lain, malu, atau karena tidak menemukan orang yang bisa dipercaya. Lebih memilih untuk bercanda dan tertawa alih-alih membicarakan isi hati sendiri meski sedang berada di titik terendah sekalipun. Secara naluriah, mendengarkan cerita, curhatan dan mendengarkan pengalaman orang-orang secara langsung adalah sebuah pembelajaran yang tak ternilai harganya. Karena bisa membuat saya kembali bersemangat dan merasa lebih mampu dalam menghadapi lika-liku hidup.

Hingga suatu hari, saya mulai menyadari bahwa beberapa orang (banyak) termasuk Kakak saya yang pada akhirnya tumbang di usia yang belum lagi tua. Karena lebih memilih untuk memendam kesedihan dan rasa kecewa, yang ternyata pelan-pelan mengguncang psikis dan berakhir menggerogoti jasmani hingga di akhir hayatnya (meskipun saya dan kakak diperlakukan seperti anak kembar, saya tidak ingat sama sekali kapan dia terakhir menangis).

Banyak hal yang membuat cara pandang saya berubah. Hingga saya pun memutuskan untuk memulai self healing dengan menuliskan isi hati bersama seorang sahabat dalam sebuah buku diary. Kami menulis dan membaca berganti-gantian meski ternyata saya lebih sering melakukan hal lain yang bisa mengalihkan pikiran (hal lain sebagai alat untuk lari dari kenyataan). Hingga pada suatu kesempatan, akhirnya saya mengenal dan berpindah ke media blog.

Dan mungkin ini juga bisa menjadi salah satu alasan kenapa sebagian orang yang dulunya cuek atau pendiam kemudian berubah galak atau pemarah ke orang lain, bahkan ke pasangan atau anak-anaknya ketika sedang menghadapi masalah. 

Karena diam dalam kekecewaan itu hanya akan menggerogoti dan merusak diri sendiri. Mungkin dengan meluapkannya akan bisa mengurangi beban karena bathin yang kelewat tertekan. Namun sayangnya, cara seperti itu ternyata tidak menyehatkan mental, dan orang yang terkena luapan emosi bisa tersinggung, sakit hati bahkan menyimpan dendam karena cara kita yang keliru.

Mengutip dari pembahasan Adjie Santosoputro dan Habib Husein di Channel Youtube Jeda Nulis, momen-momen kecil saja, yang tidak sesuai dengan keinginan bisa membuat kita kecewa dan berpotensi membuat mental kita perlu dirawat. Sayangnya selama ini Adjie Santosoputro dan kita, hanya dibekali 4 jurus dan sepertinya kurang tuntas menyehatkan mental.

1. Menekan marah, sedih, kecewa. Memendam yang penting senyum, keliatannya seneng (karena budaya timur) dan ternyata ini pun kurang sehat karena bisa meledak suatu waktu. Bisa mengalami substitusi atau kompensasi. Keliatannya menekan memendam dan gak pa pa, tapi berakibat ke aspek yang lain, seperti marah-marah di kehidupan beragamanya, keluarganya atau kehidupan pekerjaannya.

Contohnya : Dia tidak mau memendam kekecewaan kepada orang lain di kantor tapi marahnya pada istri atau anaknya di rumah, karena dia merasa punya kuasa pada anak istrinya dan gak ada resiko, kalo dengan karyawan atau atasan mungkin bisa dipecat. (Habib Husein)

2. Melampiaskan. Sedih, Marah, langsung melampiaskan, seketika, spontan tanpa mikir tanpa babibu langsung dikeluarkan dan itu juga kurang sehat.

3. Pengalihan. Misal : Sebenarnya sedih, mengalihkan dengan cara makan, ngopi, ngemil, shopping, stress kerja mengalihkan ke hal-hal yang gak ada hubungannya, yang sebenarnya gak memulihkan stress. Tetep aja itu kurang sehat karena lukanya gak terobati.

4. Refreming. Refreming itu misalnya mengalami kegagalan. Lalu berusaha mereframe atau mengganti makna gagal itu dengan sukses yang tertunda. Diawal mungkin menyehatkan mental tapi dijangka waktu yang panjang, itu seperti melatih diri kita untuk halu. Terkadang kita sebagai manusia dengan egonya terlalu menghakimi gagal ini sebagai musibah sehingga memaksa diri merefremingkan. Sedangkan ketika kita tidak terlalu menghakimi, ngejudge. Ketika gagal ya terima aja. Karena memang itu adalah sebagian dari hidup dan bagian dari perjuangan. Karena tanpa ada gagal gak ada sukses dan alih-alih di refreming tapi justru disadari dan didamaikan.

Dan ternyata 4 jurus yang dilakukan selama ini justru membuat mental makin terkapar dan kita harus mulai belajar mengenal kesadaran diri. Sesuatu yang dirasa sebagai musibah ternyata di dalamnya ada berkah. Sesuatu yang selama ini disanjung-sanjung sebagai berkah kemungkinan di dalamnya ada musibah. Melihat sesuatu secara seimbang dan kesadaran itulah yang akhirnya menyelamatkan dan bisa menyehatkan mental. Dan itu memang perlu dilatih dengan niat. 

Selengkapnya bisa dilihat di video "Mengenali Diri dengan Mindfulness"

Ini bukan hal yang baru, apalagi rahasia umum. Semua orang tau atau nantinya akan tau, tapi sayangnya tidak semua orang selalu ingat. Terkadang ketika kita merasa down, kita jadi lebih terfokus ke rasa sakit atau penderitaan yang dialami. Kita lupa, tidak ada yang mengingatkan dan menjadi semakin terpuruk karena kita telah hidup dalam dunia kita sendiri. 

Kita sendiri yang memutuskan untuk menelan sendiri rasa kecewa dan sedih namun berharap (bahkan mengharuskan) orang mau mengerti tanpa kita perlu berkata-kata. Pun ada yang terlena hingga lupa bahwa manusia itu bukan peramal dan tidak bisa menerawang pikiran apalagi melakukan telepati.




You May Also Like

5 Comments

  1. Hi Kak Rini 😁. Senang ya zaman sekarang banyak orang yang lebih melek dengan kesehatan mental pribadi. Makin lama makin banyak pengetahuan tentang pentingnya kesehatan mental disebarkan.
    Anyway, aku setuju kalau emosi sebaiknya jangan dipendam terlalu lama. Biasanya aku kalau lagi emosi, berdiam diri sebentar atau tidur dulu, nanti kalau kepala udah dingin baru diomongin lagi hahaha.
    Memang kalau kesal terhadap sesuatu, paling enak dikeluarin unek-uneknya baik lewat curhat atau tulisan, abis itu pasti rasanya luega banget padahal nggak nemu solusi apa-apa juga setelah curhat 🀣

    BalasHapus
  2. suka sama kata-kata di foto terakhir.
    setuju dengan Lia, kalau kita punya unek unek mending dilampiaskan ke bentuk curhat atau tulisan. curhat pun kalau aku juga nggak ke sembarang orang, memilih ke sahabat deket dan bisa dipercaya. niscaya agak sedikit plong juga bebannya

    BalasHapus
  3. Haii Mba Rini gimana Kabarnya?? Semoga Sehat selalu yah mba..

    Saya setuju banget mba.. memendam rasa kecewa dan emosi itu hanya akan menggerogoti kita secara perlahan. Dan itu nggak bagus... tapi buat nerapin self healing ternyata susah juga buat dilakuin.. iyah nggk sih mba?
    Soalnya, saya kadang juga masih tak pendam dalam2 dalam hati. Efeknya yah gitu jadi nggk nafsu makan terus hawanya kepengen marah2 aja.

    Yukkk mba kita belajar bareng2 buat self healing. Karena mencintai diri sendiri juga hal yg penting.. jujur, skrang saya lagi belajar hal itu..
    Belajar dari buku, dari tulisan teman2 juga, dan mencoba melampiaskan ke hal2 yg positif sperti dengerin lagu, sepedahan, ngegambar, dan nonton film.. hehehπŸ˜†

    BalasHapus
  4. Haloo mbak Rini, setuju sekali sama tulisan ini.. Memendam seperti itu, bisa jadi merusak diri sendiri.. Tapi entahlah yaa, saya pribadi sih lebih "nyaman" untuk memendam sendiri.

    Dan untuk poin ketiga, pengalihan. Saya lebih seringnya ke sini sih. Kalo lagi mumet, lagi kesel, lebih sering pelariannya ke makan. Pegi ke tempat makan sendirian, makan sendirian, merenung sendirian di sana, ehee..

    BalasHapus
  5. Hallo, Mbak Rini...
    Dulu saya lebih sering jadi pendengar, itu bukan karena saya kuat tapi justru takut dicap lemah. Dan ternyata ini malah bikin tambah nggak sehat. Ibarat keranjang sampah, jika penuh dan kotor harus dibersihkan.

    dan menulis adalah salah satu self healing terbaik buat saya.

    Terimakasih tulisannya ya

    BalasHapus